Thomas Tuchel Masih Tak Sanggup Menonton Ulang Kekalahan dari Argentina, tetapi Akui Kesalahannya

Thomas Tuchel mengakui kesalahan dalam kekalahan Inggris dari Argentina di semifinal Piala Dunia 2026.

BolaCom | Fauzi Ananta DharmawanDiterbitkan 17 September 2026, 20:45 WIB
Ekspresi Thomas Tuchel pada laga Inggris vs Kroasia di Piala Dunia 2026 - AP Photo/Julio Cortez

Bola.com, Jakarta - Thomas Tuchel mengakui dirinya melakukan kesalahan dalam kekalahan Timnas Inggris dari Argentina pada semifinal Piala Dunia. Pelatih The Three Lions itu menilai keputusan mengubah formasi ketika pertandingan mulai berbalik arah justru dilakukan terlalu cepat.

Pengakuan tersebut muncul setelah Tuchel melakukan evaluasi terhadap pertandingan yang membuat Inggris tersingkir. Ia kini menilai Argentina mampu memanfaatkan pengalaman, mentalitas, dan kecepatan permainan untuk mengubah jalannya laga pada babak kedua.

Advertisement

Tuchel sebelumnya sempat mengaitkan kekalahan Inggris dengan "DNA sepak bola Inggris" serta kegagalan mempertahankan penguasaan bola. Namun, setelah melakukan refleksi, ia melihat ada sejumlah keputusan dari dirinya sendiri yang turut berpengaruh terhadap hasil pertandingan.


Luka Kekalahan Masih Sulit Disaksikan

Gelandang Argentina Enzo Fernandez (tengah) rayakan gol ke gawang Inggris pada semifinal Piala Dunia 2026. (AFP/Shaun Botterill)

Tuchel mengungkapkan bahwa dirinya belum mampu menyaksikan pertandingan semifinal tersebut secara utuh. Ia baru menonton sejumlah cuplikan bersama staf kepelatihannya di St George's Park pekan lalu.

Dalam acara Reflections milik FA, Tuchel menggambarkan pengalaman tersebut sebagai sesuatu yang sangat menyakitkan. Ia bahkan menyebut pertandingan itu sebagai luka yang harus terus ia bawa.

"Ini penderitaan dalam skala yang luar biasa. Saya baru menonton cuplikannya bersama para pelatih pekan lalu ketika kami berada di St George's Park," ujar Tuchel.

"Pikiran saya selalu bergerak ke depan, ke depan. Rasanya menyakitkan. Sekarang saya melihatnya untuk pertama kali dari sudut pandang komentator. Ini adalah luka saya, luka para pemain, dan saya harus hidup dengannya. Tidak ada yang lebih terluka daripada saya. Ini sebuah siksaan," tambahnya.


Salah Membaca Momentum Babak Kedua

Pelatih Timnas Inggris asal Jerman, Thomas Tuchel, berbicara dengan penyerangnya #20, Noni Madueke, saat istirahat hidrasi selama pertandingan perempat final turnamen Piala Dunia 2026 antara Norwegia dan Inggris di Stadion Miami di Miami Gardens pada 12 Juli 2026. (PATRICIA DE MELO MOREIRA/AFP)

Tuchel kemudian menjelaskan momen ketika ia merasa pertandingan mulai berubah setelah jeda. Menurutnya, sebuah tekel Djed Spence ikut memengaruhi pola pikir dirinya dan para pemain, sementara Argentina mulai meningkatkan tempo permainan.

"Kami mengandalkan persaudaraan dan mentalitas kami, serta kualitas individu. Argentina juga memiliki hal yang sama. Persaudaraan, mentalitas, mereka membawa semuanya ke lapangan dan itu sangat berarti bagi mereka," kata Tuchel.

Pertandingan berjalan berimbang dan rencana yang telah disiapkan sebelumnya dapat dijalankan dengan cukup baik.

"Anda harus memiliki kualitas sepak bola. Kami mempersiapkan diri dengan sangat baik. Saya pikir kami tampil cukup baik pada babak pertama. Pertandingannya cukup berimbang dan saya merasa kami berada di posisi yang tepat," tuturnya.

Namun, perubahan situasi pada babak kedua membuat Tuchel merasa Inggris mulai bermain seolah-olah waktu pertandingan hampir habis, padahal masih tersisa sekitar 30 menit.

"Sejak awal babak kedua, saya melihat adanya perubahan. Tekel Djed Spence yang terkenal itu. Hal tersebut memengaruhi saya dan juga para pemain, lalu terjadi perubahan pola pikir. Kami bermain seolah-olah hanya tersisa empat menit, padahal masih ada setengah jam," tambahnya.

Argentina kemudian bermain lebih cepat dan terus memberikan tekanan. Setelah melihat timnya berada dalam kondisi sulit, Tuchel mengambil keputusan terbaiknya.

"Argentina bermain dengan sangat cepat. Mereka tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan. Kami memberikan mereka peluang tepat sebelum jeda minum. Saya berpikir, kami tidak akan bertahan. Ini adalah kematian," ujar Tuchel.

"Saya berpikir, 'Oke, mari kita ubah menjadi lima bek, 5-4-1.' Itu terlalu cepat untuk pola pikir seperti itu. Kami menghadapi Kongo, Miami dan Norwegia, kemudian Meksiko dalam kondisi ketinggian. Kami sangat kelelahan," jelasnya.

Tuchel menjadikan pengalaman tersebut sebagai pembelajaran untuk dirinya.

"Anda belajar sebagai seorang pelatih. Anda harus bermain seolah-olah skor masih 0-0. Itu termasuk saya juga," kata Tuchel.

Meski gagal mencapai target utama, Tuchel tetap mengaku bangga dengan perjalanan timnya.

"Banyak orang yang ingin melihat medali saya. Kami tidak mencapai apa yang kami inginkan. Namun, saya tetap sangat bangga dengan apa yang telah kami capai. Para pemain ini akan kembali dengan rasa lapar yang lebih besar," pungkasnya.

Sumber: Mirror

Berita Terkait