Bola.com, Petaling Jaya - Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) memiliki kepengurusan baru setelah Datuk Ab Ghani Hassan terpilih sebagai presiden dalam kongres luar biasa yang digelar di Petaling Jaya, Malaysia, pada Kamis (17/9/2026).
Ab Ghani yang juga menjabat sebagai ketua Malaysian Football League (MFL) mengalahkan Wakil Presiden FA Selangor, Datuk Seri Shahril Mokhtar, dalam pemilihan yang hanya diikuti dua kandidat.
Dalam pemungutan suara tersebut, Ab Ghani mendapatkan 20 suara, sedangkan Shahril hanya memperoleh lima suara dari total suara yang diberikan.
Ab Ghani akan melanjutkan sisa masa jabatan kepengurusan FAM periode 2025-2029.
Ab Ghani adalah mantan pesepak bola yang pernah membela Negeri Sembilan selama 1982-1990.
Sebelumnya, Ab Ghani juga pernah memperkuat Malaysia level usia. Dia bermain di Lion City Cup U-15 1978 di Singapura dan Asian Schools Championship U-18 1980 di Jakarta.
Dia bahkan pernah dipanggil mengikuti pemusatan latihan Malaysia untuk Pra-Kualifikasi Piala Dunia 1986.
Sebelum menjadi presiden, Ab Ghani pernah menjadi Wakil Presiden FAM periode 2017-2021.
Pada periode tersebut, ia juga pernah menjadi Ketua Komite Kedokteran dan Sains Olahraga FAM serta manajer Malaysia U-19.
Dia adalah Presiden Malaysian Football League (MFL) pada 2021-2026. Sebelumnya, ia menjabat CEO MFL pada 2020-2021.
Sederhananya, sebelum naik menjadi orang nomor satu di FAM, Ab Ghani sudah berada di posisi yang mengurus kompetisi sepak bola profesional Malaysia.
Memorandum dari Ultras Malaya
Setelah kongres luar biasa tersebut, Sekjen FAM, Datuk Noor Azman Rahman, mengonfirmasi bahwa pihaknya telah menerima memorandum dari kelompok pendukung Malaysia, Ultras Malaya.
Memorandum itu diserahkan oleh perwakilan Ultras Malaya kepada Noor Azman di suatu hotel di Petaling Jaya yang menjadi lokasi kongres luar biasa FAM.
"Teman-teman kami dari kelompok Ultras datang membawa surat. Mereka menyerahkan surat itu kepada saya sebagai sekretaris jenderal dan meminta diskusi," ujar Noor Azman dinukil dari media Malaysia, New Straits Times (NST).
Noor Azman menjelaskan bahwa pihaknya belum dapat berdiskusi lebih lanjut dengan perwakilan Ultras Malaya karena kondisi di lokasi tidak memungkinkan, terutama dengan banyaknya polisi yang berada di sekitar tempat tersebut.
"Bukannya kami tidak ingin membahasnya, tetapi karena ada banyak polisi di sana, situasinya menjadi tidak tepat," tuturnya.
Noor Azman mengatakan memorandum tersebut akan diserahkan kepada kepengurusan baru FAM untuk dipelajari dan dibahas dalam pertemuan komite eksekutif berikutnya.
"Kami akan menunggu presiden dan diskusi dengan pengurus baru, dan setelah itu, kami akan bertemu. Kami akan menyerahkannya kepada pengurus baru untuk mengevaluasi masalah tersebut," ucapnya.
Boikot Ultras Malaya
Ultras Malaya sebelumnya memboikot Malaysia sebagai bentuk respons terhadap sejumlah persoalan yang tengah melanda sepak bola Negeri Jiran.
Satu di antara isu yang disebut dalam naskah adalah skandal pemalsuan dokumen yang melibatkan tujuh pemain naturalisasi ilegal, selain kekhawatiran yang masih berlanjut terkait kompetisi domestik.
Noor Azman juga belum bersedia menjelaskan isi memorandum yang diserahkan Ultras Malaya karena dirinya baru menerima dokumen tersebut setelah kongres luar biasa FAM selesai.
"Saya baru saja menerima memorandum tersebut dan belum sempat membacanya. Saya perlu mempelajarinya terlebih dahulu," ungkapnya.
Sumber: NST