Bola.com, Jakarta - Bruno Guimaraes mengungkapkan beratnya keputusan meninggalkan Newcastle United untuk bergabung ke Arsenal pada bursa transfer musim panas 2026. Gelandang asal Brasil itu mengaku sampai kehilangan banyak waktu tidur karena harus berpisah dengan klub yang telah memberinya begitu banyak kenangan.
Guimaraes menghabiskan sekitar empat tahun bersama Newcastle United. Ia bahkan dipercaya menjadi kapten pada 2024 sebelum memutuskan menerima pinangan Arsenal dengan nilai transfer mencapai 75 juta poundsterling atau setara Rp1,8 triliun.
Keputusan tersebut tidak mudah bagi pemain berusia 28 tahun itu. Selama membela The Magpies, Guimaraes menjalin hubungan erat dengan para suporter, rekan setim, hingga pelatih Eddie Howe.
Bersama Newcastle, ia juga berhasil mempersembahkan trofi Carabao Cup 2025. Gelar tersebut menjadi trofi domestik pertama klub dalam 70 tahun terakhir. Selain itu, Newcastle dua kali tampil di Liga Champions dan mencapai dua partai final selama periode kebersamaannya.
"Sangat sulit bagi saya karena memiliki hubungan yang luar biasa dengan semua orang di Newcastle," ujar Guimaraes setelah Arsenal bermain 2-2 melawan Bayern Munchen dalam laga Liga Champions, Kamis (22/10/2026) dini hari WIB, seperti dikutip dari ESPN.
"Saya sudah memberikan yang terbaik untuk klub. Saya berada di sana hampir lima tahun dan jauh di dalam hati, saya hanya menginginkan tantangan baru. Sejujurnya, keputusan ini sangat berat karena saya benar-benar menikmati waktu di klub tersebut dan merasakan begitu besar kasih sayang dari para suporter," lanjutnya.
Simak update terkini klasemen Liga Inggris 2026/2027 di sini.
Pengaruhi Kondisi Emosional
Guimaraes mengakui keputusan meninggalkan Newcastle turut memengaruhi kondisi emosional dirinya dan keluarga. Meski demikian, ia merasa sudah waktunya membuka lembaran baru bersama Arsenal.
"Saya kehilangan banyak malam karena sulit bagi saya dan keluarga untuk mengambil keputusan ini. Namun, sekarang saya berada di sini dan hanya berusaha memberikan yang terbaik untuk Arsenal," tuturnya.
"Saya rasa sudah melakukan hal hebat untuk Newcastle. Kami memenangkan trofi setelah 70 tahun, dua kali tampil di Liga Champions, dan mencapai dua final. Saya sudah memberikan apa yang bisa saya berikan untuk klub. Saya mendoakan yang terbaik bagi mereka karena mereka sangat baik kepada saya. Sekarang waktunya melangkah maju," imbuh Guimaraes.
Berpisah dengan Newcastle hingga Menangis
Kepergian Guimaraes juga tidak terlepas dari perubahan besar yang terjadi di Newcastle pada musim panas 2026. Sejumlah pemain, termasuk Anthony Gordon dan Sandro Tonali, meninggalkan klub. Pelatih Eddie Howe juga tidak lagi menangani The Magpies.
Meski demikian, Guimaraes menegaskan bahwa hubungan emosionalnya dengan Newcastle tetap menjadi salah satu hal yang membuat keputusan hengkang terasa berat.
Baginya, meninggalkan klub bukan sekadar mengakhiri kontrak atau berpindah ke tim lain. Ia harus berpamitan dengan orang-orang yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri.
"Bukan hanya sulit untuk memberi tahu Eddie, tetapi juga para pemilik klub dan rekan-rekan setim. Klub sedang memasuki perubahan besar dan banyak pemain pergi, begitu juga pelatih," kata Guimaraes.
"Hubungan saya dengan klub itu luar biasa. Saya belum pernah merasa begitu dicintai seperti ketika berada di Newcastle. Saya berharap bisa mendapatkan kasih sayang yang sama di Arsenal, tetapi hubungan yang saya miliki dengan Newcastle benar-benar istimewa," lanjutnya.
Guimaraes bahkan mengaku tidak kuasa menahan air mata ketika berpamitan dengan rekan-rekannya.
"Sangat sulit bagi saya untuk mengucapkan selamat tinggal kepada mereka. Saya ingat ketika berpamitan dengan para pemain, saya menangis. Mereka juga menangis karena kami sudah seperti keluarga di sana," ungkapnya.
Sumber: ESPN