Perbandingan Ketegasan Klub Indonesia Seputar Pemecatan Pelatih dengan Liga Lainnya di ASEAN: Thailand Ternyata Juga Kejam!

Ffenomena depak-mendepak pelatih pada awal musim sebetulnya bukan hal yang aneh. Berikut gambarannya di liga-liga lain di kawasan ASEAN.

BolaCom | Radifa ArsaDiterbitkan 27 Oktober 2026, 09:00 WIB
Ilustrasi pelatih kena pecat, dipecat. (Bola.com/AI)

Bola.com, Jakarta - Ketegasan klub-klub BRI Super League 2026/2027 dalam mengambil keputusan untuk mendepak pelatihnya juga dialami oleh beberapa klub di regional Asia Tenggara.

Liga Thailand ternyata juga berani mengambil langkah tegas jika klub tak mencapai performa oke di musim ini.

Advertisement

Sejauh ini, sejumlah klub BRI Super League 2026/2027 telah mengambil kebijakan yang tegas terhadap pelatihnya.

Lantaran tak mampu membawa tim besutannya bersaing di awal musim, para pelatih ini harus kehilangan pekerjaan lebih cepat.

Memasuki pekan ketujuh, setidaknya sudah ada empat pelatih yang dicopot dari posisinya. Persijap Jepara menjadi tim yang paling kejam karena sudah memecat dua pelatihnya di awal musim, yakni Juan Cortes dan Mario Lemos.

Setelah itu, disusul PSIM Yogyakarta yang resmi berpisah dengan Jean-Paul van Gastel. Yang terbaru, ada Arema FC yang kini sudah resmi mengakhiri hubungan dengan pelatih asal Brasil, Marcos Santos, karena hasil buruk.

Jika dibandingkan dengan beberapa kompetisi di regional Asia Tenggara, fenomena depak-mendepak pelatih pada awal musim sebetulnya bukan hal yang aneh.

Sebab, ada beberapa klub di ASEAN yang sudah mendepak pelatihnya karena hasil buruk.

Berikut Bola.com menyajikan ulasannya.


Liga Thailand Juga Kejam

Vladimir Vujovic menukangi klub Thailand, BG Pathum United untuk musim 2025/2026. (Dok. BG Pathum United)

Tak jauh berbeda dengan di Indonesia, kompetisi sepak bola di Thailand ternyata juga cukup kejam bagi para pelatih yang gagal membawa timnya mencapai performa oke, terutama di Thai League 1 2026/2027.

Sejauh ini, kompetisi kasta tertinggi Liga Thailand itu telah memakan empat korban. Menariknya, beberapa pelatih yang jadi korban ini berasal dari klub-klub elite yang bersaing di papan atas klasemen.

Contohnya adalah Sarawut Treephan. Setelah musim lalu menjadi caretaker Port FC, Sarawut sempat ditetapkan sebagai pelatih definitif. Hasilnya, dia bisa mencapai hasil oke di awal musim dengan meraih dua kemenangan beruntun.

Malapetaka pun hadir pada pekan berikutnya setelah timnya tumbang dua laga beruntun di AFC Champions League Elite (ACLE) melawan klub Jepang Vissel Kobe (1-2) dan digulung Sukhothai FC di kompetisi domestik dengan skor 1-2.

Akibat hasil itu, pelatih berusia 47 tahun itu harus terdepak dari posisinya sebagai arsitek Port FC. Posisinya kini digantikan juru taktik berpaspor Montenegro, Bozidar Bandovic,.

Selain itu, ada pula Vladimir Vujovic, yang juga kehilangan posisinya sebagai pelatih BG Pathum United. Eks pelatih PSIM Yogyakarta itu mesti angkat kaki karena hanya bisa mempersembahkan satu kemenangan dari enam laga.

Lalu, ada dua pelatih lokal Liga Thailand, Sirisak Yodyardtthai (Rasisalai United) serta Rangsan Viwatchaichok (Chonburi FC), yang mesti angkat kaki karena timnya harus terdampar di zona degradasi di awal musim ini.


Malaysia dan Vietnam Lebih Longgar

Situasi ini cukup berbeda dengan sikap klub-klub di Liga Malaysia dan Vietnam yang termasuk cukup longgar dan permisif dengan rekor negatif yang dialami timnya pada awal musim 2026/2027.

Di Negeri Jiran, belum ada klub yang mendepak pelatihnya hingga memasuki pekan keenam Malaysia Super League 2026/2027. Bahkan, tim-tim di papan bawah masih tetap setia memercayakan kemudi tim kepada sang juru taktik.

Misalnya, Kelantan Red Warriors yang saat ini terpuruk di dasar klasemen belum mengambil tindakan terhadap Irfan Bakti Abu Salim. Padahal, dari enam pertandingan, tim ini selalu menelan kekalahan.

Hasil yang diraih Kelantan RW sebetulnya termasuk jeblok. Sebab, dari enam laga, anak asuh Irfan Bakti sudah kemasukan 29 gol.

Itu menjadi jumlah tertinggi di Liga Super Malaysia 2026/2027. Namun, posisinya sejauh ini masih tetap aman.

Sementara itu, di Liga Vietnam, para pelatih juga masih aman-aman saja dari pemecatan. Padahal, di awal musim V League 1 2026/2027, ada beberapa kontestan yang performanya jauh di bawah ekspektasi.

Misalnya, Dong Nai FC sejauh ini hanya meraih satu poin dari lima laga. Hasil itu membawa mereka terdampar di posisi juru kunci klasemen dengan satu poin. Namun, nasib Viet Thang Nguyen sebagai pelatih kepala masih aman.

Adapun di atasnya, ada Quang Trai Le, yang hanya bisa mempersembahkan satu kemenangan, dan mengalami empat kekalahan bersama HAGL FC. Akan tetapi, dia juga belum terdepak dari posisinya sebagai pelatih kepala.

Berita Terkait