Edinson Cavani Pernah Minta Wasit Ini Dipenjara, Kini Ia Pimpin Final Liga Champions 2026

Wasit yang pernah bikin Edison Cavani dan Uruguay murka kini ditugaskan memimpin final Liga Champions 2026.

Bola.com, Jakarta - Final Liga Champions 2026 antara Arsenal versus Paris Saint-Germain (PSG) akan dipimpin wasit asal Jerman, Daniel Siebert.

Namun, penunjukan tersebut kembali mengingatkan publik pada satu di antara kontroversi terbesar dalam kariernya di panggung internasional.

Nama Siebert sempat menjadi sasaran kemarahan para pemain Uruguay setelah laga melawan Ghana pada fase grup Piala Dunia 2022.

Saat itu, Uruguay menang 2-0, tetapi tetap tersingkir karena kalah produktivitas gol dari Korea Selatan yang pada saat bersamaan meraih kemenangan dramatis atas Portugal.

Kekecewaan Uruguay memuncak setelah pertandingan berakhir. Sejumlah pemain mendatangi perangkat pertandingan untuk melayangkan protes, sementara Edinson Cavani melampiaskan emosinya dengan memukul monitor VAR.

Mantan penyerang Manchester United tersebut bahkan melontarkan komentar pedas terhadap kepemimpinan Siebert.

"Mereka harus memasukkannya ke penjara," kata Cavani.

"Tetapi, jika saya dihukum karena memukul VAR maka wasit yang membuat kami tersingkir dari Piala Dunia juga harus dimasukkan ke penjara," imbuhnya.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Kemarahan Uruguay kepada Siebert

Sepanjang pertandingan melawan Ghana, Uruguay beberapa kali meminta hadiah penalti. Namun, seluruh tuntutan tersebut ditolak oleh Siebert.

Keputusan-keputusan itu memicu rasa frustrasi yang makin besar hingga peluit akhir dibunyikan. Beberapa pemain Uruguay bahkan dilaporkan mengikuti Siebert menuju lorong ruang ganti untuk terus menyampaikan protes.

Saat diminta menjelaskan reaksinya, Cavani meminta publik memahami tekanan emosional yang dialami pemain dalam pertandingan besar.

"Hal-hal seperti itu bisa terjadi. Orang-orang harus sedikit melihat dari sisi pemain sepak bola, bukan hanya dari sisi wasit atau pihak lainnya. Mereka harus melihat apa yang terjadi, mengapa itu terjadi, dan mengapa semuanya berlangsung seperti itu," ujar Cavani.

"Memang benar kami harus menjaga perilaku dan sebagainya. Namun, kami juga manusia. Kadang apa yang terjadi di lapangan dijalani dengan penuh gairah. Anda bekerja sangat keras untuk sampai ke sana, untuk bersaing, dan melalui semua proses itu," tuturnya.

"Karena itu, reaksi seorang pemain mungkin tidak bisa dibenarkan, tetapi setidaknya bisa sedikit lebih dimaklumi," lanjutnya.

Kini Pimpin Final Liga Champions

Kendati sempat menjadi pusat kontroversi di Qatar, Siebert tetap dipercaya UEFA memimpin sejumlah pertandingan pada Piala Eropa 2024. Namun, ia tidak masuk daftar wasit yang ditugaskan untuk Piala Dunia 2026.

Akhir pekan ini, wasit berusia 42 tahun tersebut justru akan mencapai satu di antara tonggak terbesar dalam kariernya setelah ditunjuk memimpin final Liga Champions untuk pertama kalinya.

Arsenal datang ke pertandingan sebagai tim yang tidak lebih diunggulkan dibanding PSG. PSG berambisi menjadi tim kedua dalam sejarah Liga Champions yang mampu mempertahankan gelar juara secara beruntun.

Sementara itu, Arsenal berharap terhindar dari kontroversi perwasitan seperti yang pernah mereka alami pada satu-satunya final Liga Champions sebelumnya pada 2006 saat menghadapi Barcelona.

Pada pertandingan tersebut, kiper Jens Lehmann menerima kartu merah pada pertengahan babak pertama. Meski Sol Campbell sempat membawa Arsenal unggul, gol Samuel Eto'o dan Juliano Belletti membalikkan keadaan dan mengantarkan Barcelona menjadi juara.

Rekam Jejak Siebert Bersama Arsenal dan PSG

Tim asuhan Mikel Arteta memiliki alasan untuk cukup percaya diri menghadapi laga final tanpa dibayangi masalah disiplin. Sepanjang musim ini, Arsenal tidak menerima satu pun kartu merah.

Selain itu, pengalaman mereka bersama Siebert di Liga Champions musim ini juga terbilang positif.

Wasit Jerman tersebut memimpin dua pertandingan Arsenal, yakni kemenangan 1-0 atas Sporting CP pada perempat final serta kemenangan dengan skor yang sama melawan Atletico Madrid di semifinal.

Adapun PSG baru sekali dipimpin Siebert pada musim ini, yakni saat bermain imbang tanpa gol melawan Athletic Club pada League Phase.

 

Sumber: Expert

Video Populer

Foto Populer