Sudah Pantaskah Ruben Amorim Dipecat MU?

Perjalanan Ruben Amorim bersama Manchester United resmi berakhir dengan meninggalkan jejak pahit di Old Trafford.

Bola.com, Jakarta - Perjalanan Ruben Amorim bersama Manchester United resmi berakhir dengan meninggalkan jejak pahit di Old Trafford. Datang dengan ekspektasi tinggi setelah kesuksesan besar di Sporting CP, pelatih asal Portugal itu justru gagal mengangkat performa Setan Merah dalam 14 bulan masa jabatannya.

Alih-alih membawa kebangkitan, Amorim malah memimpin United melewati salah satu periode paling kelam dalam sejarah modern klub. Musim pertamanya berujung di posisi ke-15 klasemen Premier League, pencapaian terburuk sejak era degradasi pada 1970-an.

Situasi semakin menyakitkan karena kegagalan tersebut disertai kekalahan memalukan di final Liga Europa. Manchester United takluk dari Tottenham Hotspur, hasil yang memastikan mereka menutup musim tanpa satu pun trofi.

Meski ada sedikit perbaikan performa pada musim berikutnya, konsistensi tetap menjadi masalah besar. Filosofi 3-4-2-1 yang dipegang teguh Amorim tak pernah benar-benar menyatu dengan skuad, sementara hasil buruk terus berdatangan, termasuk kehilangan poin di kandang sendiri saat menghadapi Wolverhampton Wanderers yang kala itu baru mengoleksi dua poin.

 

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

2 dari 5 halaman

Kesetiaan pada Filosofi Jadi Bumerang

Salah satu kritik terbesar terhadap Amorim adalah keteguhannya pada sistem permainan. Ia nyaris tak bergeser dari pakem 3-4-2-1 yang membesarkan namanya di Portugal.

Namun, Premier League menuntut adaptasi yang jauh lebih tinggi. Manchester United kerap tampil rapuh, baik saat bertahan maupun membangun serangan. Pergantian pemain dan perubahan taktik di tengah laga pun jarang memberikan dampak signifikan.

Situasi itu membuat para petinggi klub akhirnya mengambil keputusan tegas. Mengakhiri era Amorim dianggap sebagai langkah yang tak terhindarkan demi menyelamatkan arah proyek jangka panjang United.

 

3 dari 5 halaman

Angka yang Tak Bisa Dibantah

Jika berbicara dengan data, warisan Amorim di Manchester United terlihat semakin suram. Ia meninggalkan klub dengan persentase kemenangan hanya 38,71 persen.

Dari total 61 pertandingan di semua kompetisi, Amorim hanya mampu meraih 24 kemenangan, 17 hasil imbang, dan menelan 21 kekalahan. Bahkan, rentetan kemenangan terpanjang yang ia catatkan hanya tiga laga, itu pun terjadi dua kali sepanjang masa kepemimpinannya.

Catatan tersebut menjadikan Amorim sebagai manajer dengan persentase kemenangan terburuk kedua di antara 11 pelatih Manchester United sejak Sir Alex Ferguson mulai menangani klub pada 1986.

 

4 dari 5 halaman

Lebih Buruk dari Banyak Pendahulunya

Satu-satunya manajer Manchester United yang memiliki rasio kemenangan lebih rendah di era modern hanyalah Ralf Rangnick. Pelatih asal Jerman itu mencatatkan persentase kemenangan 37,93 persen selama masa tugasnya.

Namun, perbandingan itu tetap tak menguntungkan bagi Amorim. Rangnick hanya bertugas sebagai manajer interim dan justru memiliki catatan liga yang sedikit lebih baik dibanding Amorim.

Dengan fakta-fakta tersebut, keputusan Manchester United mengakhiri kerja sama dengan Ruben Amorim bukan sekadar reaksi emosional. Statistik telah berbicara, dan era Amorim akan dikenang sebagai salah satu periode paling mengecewakan dalam sejarah panjang klub.

5 dari 5 halaman

Persaingan di Liga Inggris 2025/2026

Video Populer

Foto Populer