Andy Robertson dan Akhir Sebuah Era di Liverpool

Andy Robertson adalah legenda Liverpool. Kepergiannya ke Tottenham, apabila deal, akan menandai berakhirnya sebuah era.

Bola.com, Jakarta - Andy Robertson telah lama menempati tempat istimewa dalam sejarah Liverpool. Jika kepindahannya ke Tottenham Hotspur benar-benar terwujud, itu bukan sekadar transfer biasa, melainkan penanda berakhirnya sebuah era di Anfield.

Didatangkan dari Hull City pada Juli 2017 dengan banderol hanya 10 juta paun, Robertson menjelma menjadi satu di antara rekrutan terbaik dalam sejarah modern Liverpool. Hampir tak ada yang membayangkan bek asal Skotlandia itu akan berkembang menjadi sosok kunci dan legenda klub.

Selama membela The Reds, Robertson mencatatkan 363 penampilan dan memenangkan seluruh trofi mayor yang tersedia.

Di level domestik, ia meraih dua gelar Premier League, masing-masing di era Jurgen Klopp dan Arne Slot, serta dua Piala FA dan dua Piala Liga. Di pentas Eropa dan dunia, ia turut mengangkat trofi Liga Champions, Piala Super Eropa, dan Piala Dunia Antarklub.

Kini di usia 31 tahun, Robertson layak disebut sebagai satu di antara pemain terbaik Liverpool di era modern, sekaligus satu di antara bek kiri terhebat sepanjang sejarah klub.

Ketika laporan The Athletic mengungkap adanya pembicaraan penjualan Robertson ke Tottenham pada bursa transfer bulan ini, wacana tersebut langsung memantik perasaan emosional di kalangan pendukung.

Baca selengkapnya ulasan The Athletic berikut ini.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

2 dari 5 halaman

Karakter di Lapangan

Di atas lapangan, Robertson merepresentasikan semangat dan mentalitas yang selalu diidentikkan dengan Liverpool. Ia bermain dengan gairah tanpa kompromi, kerap memberi segalanya di setiap pertandingan.

Pressing tanpa henti saat Liverpool menang 4-3 atas Manchester City pada Januari 2018 akan selalu dikenang, begitu pula perannya dalam laga legendaris comeback 4-0 atas Barcelona di semifinal Liga Champions 2019, termasuk momen ketika ia sukses mengusik konsentrasi Lionel Messi.

Kendati sempat memulai kariernya di Anfield dengan perlahan, Robertson segera memanfaatkan kesempatan dan berkembang menjadi pemain inti yang tak tergantikan. Ia dikenal sebagai bek ulet dengan energi luar biasa, sosok rendah hati yang konsisten melampaui ekspektasi.

"Andy Robertson, menurut saya, adalah bek kiri terbaik di dunia," ujar Jurgen Klopp pada 2021, sebuah pengakuan yang mencerminkan betapa pentingnya peran sang pemain.

Bersama Trent Alexander-Arnold, Robertson mendefinisikan ulang peran full-back modern di era Klopp. Keduanya menjadi motor kreativitas dari sisi lapangan.

Total 68 assist Robertson di semua kompetisi menempatkannya di peringkat ke-15 daftar assist terbanyak sepanjang sejarah Liverpool. Sebanyak 56 di antaranya tercipta di Premier League, hanya kalah dari Steven Gerrard, Mohamed Salah, Alexander-Arnold, dan Steve McManaman.

3 dari 5 halaman

Kontribusi di Luar Lapangan

Kontribusi Robertson juga terasa di luar lapangan. Ia menjadi bagian dari kelompok pemimpin tim di era Klopp.

Meski Arne Slot tak lagi menggunakan struktur kepemimpinan formal, Robertson ditunjuk sebagai wakil kapten setelah kepergian Alexander-Arnold pada musim panas lalu dan tetap memegang peran sentral sebagai pemain senior.

Kepribadian Robertson yang hangat dan emosional membuatnya dicintai rekan setim dan suporter. Wawancara penuh emosi yang ia berikan setelah Skotlandia lolos ke Piala Dunia 2026, saat mengenang mantan rekan setimnya, Diogo Jota, menjadi gambaran kuat ikatan yang ia bangun selama di klub.

Awal bulan ini, Robertson mengakui masa depannya sedang dibicarakan dengan klub. Ia belum mengambil keputusan final setelah menerima peran berbeda di tim.

Meski mengaku masih menikmati situasi tersebut, ia juga berkata jujur, "Saya adalah pemain yang ingin bermain," usai kemenangan Liverpool atas Barnsley di Piala FA.

Musim panas lalu, Atletico Madrid sempat tertarik merekrutnya. Robertson memilih bertahan di Anfield, meski sadar posisinya tak lagi dijamin sebagai pilihan utama di bawah Slot.

4 dari 5 halaman

Berisiko Besar, tapi

Posisi bek kiri memang menjadi area yang ingin diperkuat Liverpool setelah inkonsistensi Robertson dan Kostas Tsimikas musim lalu. Performanya sempat membaik di paruh akhir musim juara, tetapi tanda-tanda penurunan dibanding masa puncaknya mulai terlihat.

Musim ini, Robertson lebih sering menjadi pelapis bagi rekrutan anyar Milos Kerkez. Bek berusia 22 tahun itu didatangkan dari Bournemouth dengan nilai sekitar 40 juta paun dan tampil impresif dalam beberapa pekan terakhir, meski sempat mengalami awal musim yang sulit.

Dari 21 penampilan di semua kompetisi musim 2025/26, Robertson hanya tujuh kali menjadi starter, empat di antaranya di liga. Ia kembali ke tim utama pada awal November dan memberi dampak positif dalam kemenangan atas Aston Villa dan Real Madrid di tengah periode sulit klub.

Dengan hanya enam bek senior yang tersedia akibat cedera jangka panjang Conor Bradley dan Giovanni Leoni, keputusan menjual Robertson sejatinya berisiko besar.

Meski secara finansial ada keuntungan, mengingat kontraknya berakhir akhir musim dan ia bukan lagi starter reguler, Liverpool berada satu cedera lagi dari potensi krisis di lini belakang.

Joe Gomez, yang memiliki riwayat cedera panjang, berpotensi harus menjadi pelapis utama di seluruh posisi pertahanan jika Robertson pergi.

5 dari 5 halaman

Status Legenda Liverpool

Di sisi lain, Liverpool masih memiliki Tsimikas sebagai bek kiri senior. Pemain asal Yunani itu kini dipinjamkan ke AS Roma. Namun, laporan menyebutkan Nottingham Forest tertarik merekrutnya, sementara Roma bersedia mengakhiri masa peminjaman jika menemukan pengganti.

Liverpool sebenarnya bisa memanggil kembali Tsimikas, meski membutuhkan persetujuan klub Italia tersebut. Sang pemain sebelumnya menegaskan kesiapannya berperan sebagai pelapis.

"Bagi saya, 27 pertandingan di sini lebih berharga daripada 40 laga bersama tim lain di liga berbeda," kata Tsimikas kepada Sport24, musim panas lalu.

Jika Robertson dan Liverpool sepakat berpisah pada musim panas nanti, ia hampir pasti akan mendapatkan perpisahan emosional yang layak.

Namun, kesempatan untuk bermain lebih sering di tempat lain tampaknya menjadi tawaran yang sulit ditolak.

Perpisahan itu mungkin datang lebih cepat dari dugaan banyak orang. Namun, satu hal yang pasti: status Andy Robertson sebagai legenda Liverpool tak akan pernah luntur, dan cinta para suporter kepadanya akan tetap abadi.

 

Sumber: The Athletic via NY Times

Video Populer

Foto Populer