Menguak Hubungan Lingkungan dan Penuaan Kulit, Apa Kata Penelitian?

Kondisi lingkungan memengaruhi proses penuaan. Simak faktanya berikut ini.

Bola.com, Jakarta - Kualitas udara di berbagai kota besar Indonesia, termasuk Jakarta, kerap menjadi sorotan. Pada awal 2019, laporan Greenpeace bahkan menempatkan ibu kota negara itu sebagai kota dengan polusi tertinggi di Asia Tenggara lantaran kadar PM2.5 jauh melampaui batas aman WHO.

Situasi tersebut bukan hanya menimbulkan ancaman bagi kesehatan pernapasan, tetapi juga berdampak pada kesehatan kulit.

Selama bertahun-tahun, radiasi ultraviolet (UV) dikenal sebagai penyebab utama penuaan kulit. Namun, belakangan, perhatian ilmiah turut mengarah pada paparan polusi udara sebagai faktor yang makin relevan dan berpotensi mempercepat proses penuaan.

Polutan yang tak terlihat ini dapat berinteraksi langsung dengan permukaan kulit dan menimbulkan kerusakan signifikan.

Yuk, baca informasi berikut ini, yang bertujuan meningkatkan pemahaman bahwa polusi udara bukan sekadar isu lingkungan, melainkan juga ancaman nyata bagi kesehatan kulit.

Mengenali bagaimana polusi berperan dalam proses penuaan menjadi langkah awal untuk mengambil tindakan perlindungan yang tepat.

Berikut penjelasan lengkapnya sebagaimana dirangkum dari berbagai sumber.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

2 dari 6 halaman

Mengapa Polusi Memicu Penuaan Dini?

Kulit adalah organ terbesar dan menjadi pertahanan pertama tubuh terhadap lingkungan luar. Perannya sebagai barier membuatnya sangat rentan terhadap kontak langsung dengan berbagai polutan.

Data WHO pada 2018 menunjukkan sebagian besar populasi dunia menghirup udara dengan tingkat polusi tinggi, menandakan bahwa persoalan ini bersifat mendesak.

Penuaan kulit merupakan proses kompleks yang dipengaruhi faktor intrinsik, seperti genetik dan usia, serta faktor ekstrinsik dari lingkungan.

Polusi termasuk pemicu utama penuaan ekstrinsik karena dapat memicu radikal oksigen aktif (ROS). Keberadaan ROS dalam jumlah berlebih menyebabkan stres oksidatif, yang pada akhirnya mempercepat munculnya tanda-tanda penuaan.

Saat kulit terpapar polutan, produksi ROS meningkat drastis. Kondisi ini mengganggu keseimbangan alami kulit, merusak DNA sel, dan memicu respons peradangan.

Kerusakan kolagen dan elastin pun semakin cepat, membuat kulit kehilangan kekencangan serta elastisitasnya sehingga kerutan dini lebih mudah muncul.

3 dari 6 halaman

Polutan Utama dan Cara Kerjanya Merusak Kulit

Setiap jenis polutan memiliki mekanisme berbeda dalam memengaruhi kesehatan kulit. Particulate Matter (PM2.5 dan PM10) merupakan campuran partikel padat dan cair yang dapat menembus kulit melalui folikel rambut maupun jalur transepidermal.

PM2.5, yang ukurannya sangat kecil, dapat membawa berbagai bahan kimia berbahaya dan memicu stres oksidatif.

Polycyclic Aromatic Hydrocarbons (PAH) yang berasal dari pembakaran tidak sempurna juga menjadi ancaman serius. Paparan PAH berhubungan erat dengan timbulnya flek hitam dan gangguan pigmentasi lainnya.

Studi menunjukkan bahwa PAH dapat memicu produksi ROS dan mempercepat penuaan kulit.

Volatile Organic Compounds (VOC) dan ozon (O₃) permukaan tanah turut berkontribusi pada kerusakan kulit. VOC umumnya berasal dari emisi kendaraan dan industri, sementara ozon terbentuk melalui reaksi fotokimia polutan.

Ozon dapat menguras cadangan antioksidan di lapisan epidermis, termasuk vitamin C dan E, sehingga kulit lebih mudah mengalami kerusakan.

Nitrogen dioksida (NO₂), satu di antara polutan umum di wilayah urban, juga dikaitkan dengan peningkatan lentigo atau flek penuaan, terutama pada populasi Asia.

4 dari 6 halaman

Dampak Polusi yang Tampak pada Kulit

Sebagai konsekuensi urbanisasi dan aktivitas industri, polusi udara memiliki dampak nyata terhadap kesehatan kulit. Satu di antara gejala paling mencolok adalah penuaan dini, ditandai dengan kerutan, elastisitas yang menurun, hingga perubahan tekstur kulit.

Polutan yang memicu stres oksidatif dapat merusak DNA dan mengganggu komunikasi antarsel sehingga mempercepat proses penuaan ekstrinsik.

Polusi juga memicu gangguan pigmentasi, seperti flek hitam dan warna kulit yang tidak merata.

PAH dan NO₂ berperan besar memicu pembentukan lentigo. Aktivasi reseptor AhR akibat polutan tersebut dapat meningkatkan produksi melanin sehingga terjadi hiperpigmentasi.

Selain itu, polusi berpengaruh pada integritas skin barrier. Perubahan komposisi lipid pada stratum korneum membuat kulit menjadi lebih kering, sensitif, dan mudah iritasi. Penurunan kadar kolesterol dan peningkatan produksi sebum dapat mengganggu fungsi pelindung alami kulit.

Polusi bahkan dapat menimbulkan peradangan kronis dan mengganggu mikrobioma kulit. Ozon dan partikulat matter dapat memicu pelepasan sitokin pro-inflamasi, sedangkan ketidakseimbangan mikrobioma akibat polusi membuat flora baik kulit menjadi tidak stabil.

5 dari 6 halaman

Langkah Strategis Melindungi Kulit dari Polusi

Dengan besarnya pengaruh polusi terhadap penuaan kulit, perlindungan menjadi hal yang tidak bisa diabaikan.

Kendati belum ada panduan baku, langkah-langkah perlindungan umumnya diarahkan pada penguatan skin barrier, peningkatan kadar antioksidan, serta pengendalian peradangan.

Penggunaan produk perawatan kaya antioksidan seperti vitamin C, vitamin E, dan niacinamide menjadi satu di antara strategi efektif. Antioksidan dapat menetralkan radikal bebas dan mengurangi stres oksidatif.

Tabir surya juga perlu digunakan setiap hari karena radiasi UV dapat memperburuk efek polutan terhadap kulit. Pelembap membantu menjaga barrier kulit agar tetap kuat dengan mengurangi kehilangan air transepidermal.

Pembersihan kulit tidak boleh dilewatkan. Double cleansing membantu mengangkat partikel polutan yang menempel pada permukaan kulit.

Produk pembersih dengan formula rinse-off memastikan polutan terbilas sepenuhnya sehingga tidak menyumbat pori atau memicu iritasi.

 

6 dari 6 halaman

Peran Bersama untuk Lingkungan dan Kesehatan Kulit

Polusi udara merupakan isu global yang membutuhkan solusi dari berbagai pihak, dari individu hingga pemerintah. Pemahaman bahwa polusi berdampak langsung pada proses penuaan kulit seharusnya mendorong tindakan kolektif untuk memperbaiki kualitas udara.

Mendukung kebijakan lingkungan yang lebih ketat sangat penting, terutama terkait regulasi emisi kendaraan dan industri, dua sumber utama polusi di wilayah urban seperti Jakarta.

Standar kualitas udara yang lebih baik perlu diterapkan bersama dengan dorongan penggunaan energi bersih.

Pilihan gaya hidup juga berpengaruh besar. Menggunakan produk yang ramah lingkungan, memanfaatkan transportasi umum, mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi, serta mendukung ruang terbuka hijau dapat membantu memperbaiki kualitas udara.

Kesadaran bersama adalah kunci. Dengan memahami bahwa polusi berpengaruh tidak hanya pada kesehatan kulit, tetapi juga kesehatan tubuh secara keseluruhan, masyarakat dapat tergerak untuk menciptakan perubahan yang lebih besar.

 

Sumber: liputan6.com

Video Populer

Foto Populer