Sentuhan Magis Duo Lionel: Bagaimana Hubungan Spesial Scaloni dan Messi Bawa Argentina Bangkit dari Keterpurukan ke Ambang Sejarah

Cerita bagaimana hubungan duo Lionel, Scaloni dan Messi, bawa Argentina bangkit dari keterpurukan ke ambang sejarah.

Bola.com, Jakarta - Kiprah Timnas Argentina yang berada di ambang sejarah baru pada Piala Dunia 2026 tak bisa dilepaskan dari dua sosok penting, yakni Lionel Scaloni, sebagai nakhoda tim, serta Lionel Messi yang menjadi aktor di atas lapangan.

Keduanya telah terikat hubungan cukup spesial, bahkan sampai disebut seperti "ayah dan anak". Relasi Scaloni dengan Messi menghadirkan stabilitas yang langka untuk Timnas Argentina dan kini berada di ambang sejarah Piala Dunia.

Cerita ini dapat ditarik jauh ke tahun 2005, tepatnya saat Messi mengukir debutnya bersama Albiceleste. Saat itu, dia mendapatkan kartu merah karena menyikut bek Hungaria, Vilmos Vanczak, 45 detik setelah masuk dari bangku cadangan.

Selama durasi itu, Messi hanya menerima dua operan saja. Semuanya datang dari Scaloni. Jumlahnya memang tak banyak, tetap dua operan itu menjelma kontak pertama dalam hubungan yang kini berujung keberhasilan Argentina di panggung dunia.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Scaloni di Mata Messi

Dalam laporan yang dihimpun The Guardian, Lionel Messi pernah bercerita bahwa Scaloni adalah satu di antara anggota skuad pertama yang benar-benar menyambutnya dengan hangat di Timnas Argentina.

Setelah Messi mencetak gol melawan Serbia-Montenegro di fase grup Piala Dunia 2006, pemain pertama yang menghampirinya di lorong stadion, merangkulnya dari belakang dengan pelukan selamat, adalah Scaloni.

Mantan bek kanan West Ham itu hanya berusia sembilan tahun lebih tua dari Messi. Akan tetapi, sejak saat itu, ada aspek yang hampir seperti sosok ayah dalam hubungan mereka di Timnas Argentina.

Cerita yang terjadi setelahnya adalah sebuah kisah sukses yang tak masuk akal.

Setelah bertahun-tahun penuh frustrasi, pemain terbaik di generasinya yang bisa dibilang salah satu dari tiga pemain terbaik sepanjang sejarah sepak bola, berhasil dituntun menuju kejayaan di panggung terbesar oleh seorang pelatih yang mendapatkan pekerjaan tersebut karena sebuah ketidaksengajaan.

Scaloni Jadi Nakhoda

Scaloni menjadi manajer Argentina di masa kelam setelah Piala Dunia 2018, yang berjalan berantakan.

Jorge Sampaoli didatangkan dengan biaya sangat mahal dari Sevilla, tetapi gaya permainan pressing ketat dengan garis pertahanan tinggi yang diusungnya tidak pernah cocok dengan lini belakang Argentina yang lamban.

Setelah bersusah payah meraih hasil imbang melawan Islandia, Argentina dihajar 0-3 oleh Kroasia. Beruntung, mereka bisa tetap lolos dari fase grup berkat kemenangan menegangkan atas Nigeria lewat gol brilian Messi dan tendangan voli Marcos Rojo.

Di babak 16 besar, mereka akhirnya tumbang dengan skor 3-4 dari Prancis dalam pertandingan yang sebenarnya tidak seketat yang terlihat di papan skor.

Ketika itu, Les Bleus unggul dalam hampir segala hal. Sampaoli jelas kesulitan mengatasi tekanan, dan ia pun meninggalkan jabatannya setelah Piala Dunia 2018 di Rusia itu berakhir.

Pilihan Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) yang saat itu sedang kehabisan uang pun akhirnya jatuh kepada Scaloni untuk menjadi nakhoda baru. Sebelumnya, dia menjabat sebagai asisten Sampaoli di Piala Dunia 2018, sekaligus menjabat sebagai pelatih Timnas Argentina U-21.

Sebagai opsi paling murah yang tersedia, Scaloni awalnya hanya diminta AFA untuk menangani Argentina dalam enam laga persahabatan yang telah dijadwalkan hingga akhir tahun.

Cara Membujuk Messi

Setelah kegagalan ini, Messi mengalami frustrasi yang sangat kelam di Barcelona. Dia sempat mundur dari timnas karena kekecewaan yang menumpuk, terutama karena kekalahan dari Cile di final Copa America 2016 lewat adu penalti.

Segala hal terasa abu-abu saat itu, kecuali satu hal: Scaloni tahu Argentina butuh Messi.

Satu di antara asisten Scaloni saat itu adalah mantan pengatur serangan River Plate dan Valencia, Pablo Aimar, yang kebetulan merupakan idola masa kecil Messi.

Jadi, ketika Scaloni menelepon Messi, ia mengajak Aimar untuk bergabung dalam panggilan tersebut. Ia memaparkan visinya tentang skuad baru yang diremajakan dengan Messi sebagai satu pilar penting untuk menopangnya. Messi pun akhirnya luluh.

Dari momen itu, Albiceleste perlahan mulai mengalami perbaikan yang signifikan. Puncaknya, mereka berhasil mengamankan gelar Piala Dunia 2022 dan menjadi trofi ketiga dalam sejarah turnamen elite tersebut.

Di edisi kali ini, Messi dan Scaloni berpeluang besar untuk kembali merasakan kesuksesan yang sama. Namun, mereka harus bisa melewati adangan Inggris di babak semifinal, dan jika lolos, akan bersua Spanyol yang sebelumnya menggulung Prancis.

Scaloni di Ambang Sejarah

Di Qatar, empat tahun silam, atribut Scaloni yang paling menonjol adalah ketenangannya.

"Matahari akan tetap terbit besok," katanya setelah kekalahan dari Arab Saudi dan kemenangan dramatis melawan Belanda.

Terkadang, rasanya seolah-olah ia memikul tanggung jawab atas stabilitas emosional seluruh negaranya.

Momen ketika ia runtuh dalam tangis setelah penalti kemenangan di adu penalti final sungguh menyentuh. Seorang pria yang rendah hati dan pendiam membiarkan besarnya pencapaian yang ia raih meresap ke dalam dirinya.

Scaloni memang menunjukkan jauh lebih banyak emosi dalam Piala Dunia kali ini, hingga pada titik ia tidak mampu menyelesaikan wawancaranya setelah kemenangan atas Mesir. Ada kesan bahwa Scaloni sedang mengarungi gelombang emosi yang besar dan berjuang keras untuk menahan air matanya.

Namun, jika ia mampu mempertahankan fokus tersebut selama dua pertandingan lagi hingga akhirnya menjuarai edisi 2026 ini, ia akan menjadi manajer kedua setelah Vittorio Pozzo yang memenangkan dua Piala Dunia.

Catatan luar biasa ini lahir dari seorang pria yang awalnya ditunjuk hanya karena AFA tidak mampu membayar pelatih yang lebih terkenal. Manajer yang dipilih secara kebetulan ini bisa menjelma menjadi pelatih Piala Dunia terbesar dalam hampir satu abad terakhir.

 

Sumber: The Guardian

Video Populer

Foto Populer