Sukses


Dituding Lepas Tangan soal Bellaetrix, Ini Penjelasan PBSI

Bola.com, Jakarta - Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PP PBSI) angkat bicara terkait masalah cedera pemain tunggal putri, Bellaetrix Manuputty. Induk cabang olahraga bulutangkis tersebut memberikan klarifikasi mereka terkait tudingan "lepas tangan" soal pemulihan cedera Bella.

Seperti diketahui, Bella baru saja menjalani operasi lutut di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD), Senin (13/6/2016). Kabarnya, tak ada bantuan sama sekali dari PBSI soal biaya operasi tersebut. Bella justru dibantu Wakil Ketua MPR, Oesman Sapta Odang.

Dalam keterangannya, PBSI membantah telah menelantarkan Bella. Justru mereka menganggap Bella yang membuat cederanya itu tak kunjung pulih karena tak berkomitmen dalam menjalani terapi.

PBSI juga menjelaskan kenapa Bella tidak direkomendasikan untuk menjalani operasi. Dokter PBSI, Michael Triangto, mengatakan operasi tidak disarankan untuk Bella karena sang pemain belum sepenuhnya menjalani program Exercise Therapy,  terapi latihan yang bisa mempercepat penyembuhan dari suatu cedera tertentu yang mengubah cara hidupnya yang normal.

Berikut klarifikasi PP PBSI soal kronologi awal cedera Bellaetrix hingga menjalani operasi, seperti dikutip dari situs resmi PBSI:

PP PBSI memberikan klarifikasi terkait dengan pemberitaan mengenai operasi yang dijalani pebulutangkis tunggal putri Bellaetrix Manuputty. Pemain yang akrab disapa Bella, mengalami cedera ketika menghadapi Li Xuerui (Tiongkok), di Piala Sudirman, bulan Mei 2015 lalu.

Sepulangnya dari Piala Sudirman yang kala itu berlangsung di Dongguan, Tiongkok, Bella langsung mendapatkan perawatan dari dokter PBSI, dr. Michael Triangto dan ahli ortopedi, dr. Nicholaas Budhiparma SpOT, FICS. Setelah dilakukan tindakan MRI (Magnetic Resonance Imaging), pemain kelahiran 11 Oktober 1988 ini dinyatakan mengalami cedera lutut kiri, dimana ligamen otot ACL nya sobek sebagian dan untuk itu Bella diminta melakukan Exercise Therapy. Apabila Exercise Therapy tersebut tidak membuahkan hasil sebagaimana yang diharapkan, maka akan dilakukan operasi.

Bella pun direkomendasikan untuk menjalani program Exercise Therapy yang sudah dirancang PBSI untuknya. Pada saat yang bersamaan, terdapat tiga atlet lainnya yang juga menjalani program yang sama diantaranya Annisa Saufika, Masita Mahmudin dan Adriyanti Firdasari. Annisa mengalami tingkat cedera yang lebih parah diantara ketiga pemain lainnya, dimana ligamen ACL nya dinyatakan robek total.

Firda yang saat itu sudah tidak menjadi penghuni pelatnas pun masih mendapat perhatian dari PBSI, begitu juga Sony Dwi Kuncoro dan Simon Santoso yang hingga saat ini masih sering berkonsultasi dengan dr. Michael.

Pada dasarnya PBSI mempunyai kebijakan untuk memperhatikan seluruh atlet terutama yang berada di Pelatnas, yang selalu bertarung demi mengharumkan nama Bangsa dan Negara dalam berbagai hal termasuk bilamana atlet mengalami cedera.

Dua minggu setelah program Exercise Therapy, kondisi Bella tidak mengalami kemajuan sesuai yang diharapkan, berbeda dengan ketiga rekan-rekannya. Hingga saat ini ketiga pemain tersebut sudah dinyatakan membaik, bahkan Anissa sudah kembali bertanding.

“Untuk mendapatkan hasil yang diinginkan, program exercise therapy harus dijalankan secara utuh oleh seorang atlet, dan dalam hal ini Bella belum menjalankan programnya hingga selesai. Hal yang sama terjadi ketika Bella menjalani Program Exercise Therapy di institusi yang lain. Oleh karena itu, saya tidak merekomendasikan Bella untuk melakukan operasi karena operasi adalah sebuah opsi yang memungkinkan untuk dilakukan, apabila program Exercise Therapy telah dilakukan secara utuh namun tidak memberikan hasil seperti yang diharapkan,” kata dr. Michael.

“Bella tidak bisa berkomitmen dengan program Exercise Therapy yang sudah ditentukan, programnya tidak pernah selesai. Di sini saya melihat sepertinya ada masalah dalam dirinya. Untuk itu saya sarankan Bella menemui psikiater, dengan tujuan memperkuat komitmen dan rasa percaya dirinya untuk bisa sembuh total,” jelas dr. Michael.

Menurut dr. Michael, Bella sempat satu kali mendatangi sang psikiater yang telah ditunjuk untuk menangani masalahnya. Berdasarkan laporan yang didapat dari psikiater, Bella dinyatakan perlu menjalani tes lanjutan, namun hingga saat ini Bella belum mendatangi psikiater tersebut untuk menjalani tes lanjutannya.

Setelah tidak mendapatkan rekomendasi operasi, maka pada tanggal 11 Maret 2016, Bella pun menyampaikan keinginannya kepada pengurus untuk menjalani operasi di luar negeri dengan biaya sendiri dan hal tersebut ternyata tidak dilakukan.

Terhitung sejak 16 Maret 2016 Bella sudah tidak lagi berada di pelatnas dan Bella juga tidak merespon komunikasi dari PBSI, termasuk dari sang pelatih, Bambang Supriyanto.

PBSI berharap tindakan operasi Bella hari ini dapat berjalan dengan lancar. Bella dapat cepat pulih serta kembali bertanding untuk membela merah putih di kancah Internasional.

Video Populer

Foto Populer