Wawancara Gede Widiade: Cinta Persebaya dan Timnas U-23

oleh Zaidan Nazarul diperbarui 24 Jul 2015, 12:19 WIB
TANPA PAMRIH - Gede Widiade tidak pernah berpikir untuk mendapatkan keuntungan dengan menjadi CEO Persebaya Surabaya dan Manajer Timnas U-23. (Liputan6.com/ Helmi Fitriansyah)

Bola.com, Surabaya - Jangan pernah tanyakan kecintaan Gede Widiade terhadap sepak bola. Pasalnya, ia telah menunjukkan totalitasnya selama membidani Persebaya Surabaya di pentas Indonesia Super League dan Timnas U-23 yang berlaga di SEA Games 2015 lalu.

Ingin tahu apa sebenarnya yang mendasari Gede melakukan pengorbanan besar pada kedua tim itu? Berikut penuturan Gede pada Bola.com di Surabaya.

Advertisement

Apa alasan Anda mau berkorban sangat besar pada Persebaya dan Timnas U-23?

Saya tidak setuju kalau dibilang berkorban, tapi ini memberikan sumbangsih.  Saya sendiri orangnya tidak neko-neko. Saya tidak suka dugem, atau hal-hal yang berbau menghamburkan uang. Cinta saya hanya satu, sepak bola. Karena itu, saya rela berikan pikiran, tenaga dan uang untuk sepak bola.

Kenapa memilih Persebaya dan Timnas U-23, padahal banyak tim lain yang bisa Anda pilih?

Saya lahir dan besar di Surabaya dan cinta Persebaya. Negara saya adalah Indonesia, dan saya juga mencintai Timnas. Itulah alasan saya memilih dua tim itu.

Apakah Anda pernah mendapat tawaran menjadi petinggi tim lain?

Banyak, Persija (Jakarta) salah satunya. Tapi saya minta maaf kepada klub-klub itu karena saya harus memilih Persebaya dan Timnas U-23. Tak menutup kemungkinan nanti akan ada tim lain yang akan saya pegang.

Apa yang Anda harapkan dengan menjadi CEO Persebaya dan manajer Timnas U-23?

Saya tidak berharap imbalan apa-apa dari apa yang sudah saya berikan. Saya hanya ingin menyalurkan hobi dan kecintaan saya serta keluarga pada bola. Sebab, kami sekeluarga suka nonton bola, apalagi sampai terlibat di dalamnya.

Berapa dana yang sudah Anda gelontorkan untuk kedua tim itu sejauh ini?

Tidak perlu saya sebutkan berapa besarannya. Yang pasti, sudah miliaran rupiah. Namun tidak perlu membahas berapa uang yang saya habiskan untuk keduanya. Sebab, saya berprinsip, saya melakukan sesuatu yang saya sukai tanpa perhitungan, apalagi untuk menghibur masyarakat pecinta bola di Surabaya dan Indonesia.         

Bagaimana reaksi keluarga? Adakah protes dari istri dan anak?

Reaksi keluarga saya biasa saja karena mereka tahu persis kalau bola hobi saya. Lebih-lebih mereka juga cinta sepak bola. Bahkan istri dan anak saya sering nobar kalau ada final Champions League. Saya sendiri tidak ikut kalau nobar. Kami juga pernah melihat langsung pertandingan Liga Spanyol di Madrid dan Barcelona.

Harapan Anda pada sepak bola Indonesia?

Saya berharap sepak bola Indonesia segera bangkit dari keterpurukan. Tentu saja, konflik antara PSSI dengan Menpora harus selesai lebih dulu. Dengan begitu, perbaikan bisa dilakukan, dan kebangkitan Indonesia bisa terwujud.

Baca juga :

Wawancara Bayu Gatra: Mengaku Didekati Klub Malaysia

Wawancara Manahati Lestusen: Kasihani Kami Pemain Muda

Wawancara Rochi Putiray: Match Fixing Timnas U-23 Ada Buktinya