5 Pemain Brasil yang Sukses Menaklukkan Sepak Bola Indonesia

oleh Aning Jati diperbarui 11 Feb 2016, 08:00 WIB
5 Pemain Brasil yang Berhasil Taklukkan Sepak Bola Indonesia (Bola.com/Rudi Riana)

Bola.com, Jakarta - Cukup banyak pesepak bola asal Brasil yang berkiprah di Indonesia sejak keran pemain asing dibuka era Galatama dan Liga Indonesia musim pertama 1994.

Belakangan, tak banyak pemain asal Negeri Samba yang berhasil mencuri perhatian pecinta sepak bola Indonesia dengan skill di atas rata-rata nan memesona yang dimilikinya. Hingga, kemunculan trio Brasil di Mitra Kukar yang sukses membawa tim Naga Mekes menjuarai Piala Jenderal Sudirman 2016.

Bak terinspirasi dengan keberhasilan itu, selepas Piala Jenderal Sudirman, beberapa klub tertarik lagi mendatangkan pemain Brasil. Semisal PSM Makassar, Semen Padang, Pusamania Borneo FC, hingga klub hasil akuisisi Madura United.

Rata-rata pemain yang didatangkan klub-klub itu berstatus pemain yang belum pernah berkiprah di pentas sepak bola Indonesia. Bila mereka lolos seleksi, bukan tak mungkin ada beberapa yang bakal mengikuti jejak pendahulu mereka, mampu menaklukkan sepak bola di negeri ini dengan torehan prestasi cemerlang.

Bila melihat ke belakang, ada beberapa pemain Negeri Samba yang tercatat memiliki prestasi apik selama berkiprah di sepak bola Indonesia. Salah satu ukuran prestasi itu adalah keberhasilan mereka mengantar klub yang dibela menjuarai kompetisi domestik.

Siapa saja pemain asal Brasil yang memenuhi kriteria itu dan pantas dianggap memiliki catatan gemilang selama membela klub di Indonesia? Berikut pilihan bola.com:

Pelatih Jacksen F.Tiago memberi instruksi kepada pemain Penang FA saat latihan di Lapangan USM, Penang, Malaysia, Minggu (31/01/2016). (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

1. Jacksen F. Tiago

Jacksen F. Tiago merupakan salah satu gerbong pertama pemain asing yang datang ke Indonesia di era Liga Indonesia. Pada musim pertama Liga Indonesia 1994-1995, sosok asal Brasil itu memperkuat Petrokimia Putra.

Di musim pertamanya, Jacksen yang saat bermain menempati posisi striker ini, langsung mengantarkan Petrokimia Putra ke final. Akan tetapi, di partai puncak, tim asal Gresik itu kalah 0-1 dari Persib Bandung.

Musim berikutnya Jacksen pindah ke PSM Makassar. Popularitasnya saat itu mulai naik di Indonesia. Penampilannya bersama PSM mampu membius penggemar sepak bola di Tanah Air. Tetapi, tidak ada gelar juara yang diraihnya bersama Tim Juku Eja.

Hanya bertahan semusim, Jacksen lalu pindah ke Persebaya Surabaya. Di klub Kota Pahlawan itu peruntungan Jacksen mulai membaik. Gelar juara Liga Indonesia berhasil diraihnya di musim 1996-1997.

Liga Indonesia yang dihentikan pada pertengahan musim 1997-1998, membuat Jacksen hengkang ke kompetisi China dan Singapura. Pada 2000 ia kembali ke Persebaya Surabaya dan mengakhiri karier sebagai pemain di Petrokimia Putra pada 2001.

Setelah banting setir menjadi pelatih, sukses Jacksen makin menjadi-jadi. Total empat gelar juara kompetisi kasta tertinggi di Indonesia berhasil dipersembahkannya. Rinciannya adalah juara bersama Persebaya musim 2004 dan tiga kali di Persipura Jayapura, yaitu musim 2008-2009, 2010-2011, dan 2012-2013.

Setelah bertahun-tahun di Indonesia, sejak 2014 Jacksen mencoba peruntungan dengan melatih klub di Malaysia, Penang FA. Prestasi pertamanya adalah membawa klub tersebut promosi ke Malaysia Super League (MSL) 2016.

Advertisement
2 dari 4 halaman

Selanjutnya

Luciano Leandro rela meninggalkan istri dan anak demi mewujudkan impian jadi pelatih PSM Makassar. (Istimewa)

2. Luciano Leandro

Sosok yang satu ini hingga kini masih jadi buah bibir penggemar sepak bola di Indonesia. Apalagi bila bukan karena kiprah terbarunya, jadi arsitek tim PSM Makassar, yang baru dilakoninya selama beberapa hari terakhir.

Buat Luciano Leandro, PSM bak rumah kedua setelah Brasil. Namanya dikenal di jagat sepak bola Indonesia berkat sepak terjangnya kala membela klub berjulukan Juku Eja itu, mulai Liga Indonesia kedua, musim 1995-1996. Di PSM ketika itu, Luci, begitu panggilan Luciano Leandro, juga satu tim dengan Jacksen F. Tiago.

Permainan khas Negara Samba yang dikerap diperagakan Luci memikat fans Juku Eja serta jadi momok pemain lawan. Di musim pertamanya, Luciano mengantarkan PSM ke final Liga Indonesia 1995-1996.  Tetapi, di final itu PSM kalah dari Mastrans Bandung Raya.

Gagal jadi juara di musim pertama tak membuat performa Luci turun. Sebaliknya ia makin bersinar. Playmaker tipe pekerja keras yang dulu dikenali juga dengan ciri khas rambut kuncirnya itu mengantar PSM jadi semifinalis di Liga Indonesia 1997-1998 serta peringkat pertama Wilayah Timur di Liga Indonesia 1997-1998 yang dihentikan akibat krisis moneter.

Prestasi puncak Luciano baru terjadi kala memperkuat Persija Jakarta mulai musim 2000-2001. Di musim pertamanya itu Luci sukses membawa tim Macan Kemayoran menjuarai Liga Indonesia 20002-2001. Yang menarik, di laga final yang dimainkan di SUGBK, Jakarta, Luciano berhadapan dengan klub yang membesarkan namanya, PSM. Persija akhirnya menang dengan skor 3-2.

Kini Luciano punya tantangan baru, yakni membuat PSM, klub yang begitu dicintainya, menjadi klub sarat prestasi di bawah kepemimpinannya.

3 dari 4 halaman

Selanjutnya

3. Carlos de Mello

Badan gempal tidak mengurangi kelihaian pria ini dalam mengolah si kulit bundar. Gocekan bola dan liuk tubuhnya pas dengan tarian Samba dari negaranya, Brasil.

Publik sepak bola Indonesia tidak akan pernah melupakan bagaimana memikatnya olah bola yang dimiliki Carlos de Mello. Sosok itu pernah menjadi playmaker ulung di banyak klub Indonesia.

Petrokimia Putra, PSM Makassar, Persebaya Surabaya, hingga Persita Tangerang, pernah merasakan servis pemain yang memang doyan makan ini. Umpan terukur tanpa banyak bergerak di lapangan, menjadi ciri khas yang dimiliki Carlos de Mello. Rekan-rekan setimnya, terutama pemain depan, merasakan betul magis umpan yang dilepaskan dari kakinya.

Menjadi salah satu pemain angkatan pertama keran asing di Liga Indonesia mulai 1994-1995, Carlos de Mello baru merasakan gelar juara bersama Persebaya pada 1996-1997. Di musim itu de Mello sekaligus menyabet penghargaan pemain terbaik.

Gelar juara baru dirasakannya kembali pada musim 1999-2000. Ketika itu Carlos de Mello menjadi tulang punggung PSM Makassar dan mampu menjawabnya dengan meraih gelar juara.

Setelah membawa PSM juara, tidak lama kemudian Carlos de Mello memutuskan pensiun. Tetapi, kprahnya juga tidak bisa jauh dari Indonesia. Tercatat ia pernah menjadi pelatih Persisam Samarinda dan PSM Makassar. Bahkan pada 2013 pernah menangani timnas pelajar Indonesia U-18.

Namun, dalam karier kepelatihannya di Indonesia, Carlos de Mello belum pernah sukses. Tidak ada satupun gelar juara yang didapatkannya. Bahkan ia pernah dipecat PSM Makassar dari kursi kepelatihan karena rangkaian hasil buruk.

4. Antonio Claudio

Nama Antonio Claudio cukup melekat di jagat sepak bola Indonesia. Sosok asal Brasil ini merupakan salah satu pemain dari Brasil yang awet berkiprah di nusantara.

Kiprahnya di Indonesia dimulai ketika memperkuat PSP Padang di Liga Indonesia 1995-1996. Bersama rekan satu negaranya, Claudio Luzardi, yang bermain sebagai gelandang, Toyo, demikian panggilan akrab Antonio Claudio, membuat PSP menjadi buah bibir Liga Indonesia.

Toyo yang bermain sebagai bek, kemudian banyak berkiprah di klub Indonesia. Semen Padang, Persija, Jakarta, Persib Bandung, Persibom Bolaang Mongondow, hingga Persih Tembilahan, pernah diperkuatnya. Pada musim 2011-2013 Toyo sempat hijrah ke klub Thailand, Chiangrai United.

Kini, Toyo Claudio berkiprah di Villa 2000, tetapi karena Divisi Utama sudah tidak memakai pemain asing, ia banyak bergelut di bidang kepelatihan. Hal itu juga karena saat ini usianya sudah 42 tahun.

Prestasi puncak Toyo sebagai pemain di Indonesia, diraih saat memperkuat Persija di Liga Indonesia 2001. Ketika itu Persija berhasil meraih gelar juara setelah di final mengalahkan PSM Makassar, skor 3-2.

Saat itu Antonio Claudio adalah kapten Persija dengan pemain asing selain dia adalah Mbeng Jean dan Luciano Leandro. Hingga kini prestasi Persija itu belum bisa diulangi lagi sampai sekarang.

4 dari 4 halaman

Selanjutnya

Hilton Moriera (kiri) dan Alberto Goncalves (kedua dari kanan), dua pemain asing asal Brasil Penang FA yang dibawa Jacksen F. Tiago dari Indonesia. (Istimewa).

5. Alberto Goncalves

Bila empat pemain asal Brasil pilihan bola.com di atas mewakili generasi awal Liga Indonesia, Alberto Goncalves mewakili generasi pemain "baru" alias era Indonesia Super League (ISL) yang mulai diterapkan pada musim 2008.

Penyerang bernama lengkap Alberto Goncalves Da Costa ini meraih sukses bersama Persipura Jayapura selama dua periode (2007-2010 dan 2011-2012). Striker yang biasa disapa Beto ini dikenal licin di kotak penalti lawan. Pergerakannya jadi momok pemain belakang lawan.

Di tim Mutiara Hitam ia senantiasa jadi andalan di lini depan. Berbagai prestasi diraih Beto kala berkostum Persipura, baik prestasi personal seperti pencetak gol terbanyak di Copa Indonesia 2007. Bersama Persipura, Beto merebut gelar juara ISL 2009, 2011 serta runner-up pada musim 2010.

Kiprah Beto di sepak bola Indonesia berlanjut ke Arema. Namun, di tim Singo Edan pencapaiannya tak maksimal hingga ia memutuskan hijrah ke kompetisi Malaysia bersama Penang FA di akhir musim 2014.

Semusim berada di klub asuhan pelatih Jacksen F. Tiago itu, Beto kembali ke Indonesia setelah performanya dianggap tak memuaskan dan dicoret di akhir musim 2015.

Sekarang Beto, yang berusia 35 tahun, berlabuh di Sriwijaya FC. Ia mengaku tertantang membuktikan lagi ketajamannya sebagai juru gedor yang disegani di sepak bola Indonesia.