5 Pebalap Asia Terbaik Sepanjang Sejarah F1

oleh Oka Akhsan diperbarui 13 Mar 2016, 12:38 WIB
5 Pebalap Asia paling sukses dalam sejarah F1. (Wikipedia/ F1 Fanatic)

Bola.com, Jakarta - Ajang Formula 1 tak bisa dilepaskan dari Asia. Sejak pertama kali digelar pada 1950, sudah ada delapan negara Asia yang pernah menjadi tuan rumah balapan lomba jet darat.

Dari 21 seri yang masuk dalam kalender musim 2016, sebanyak enam di antaranya bakal dihelat di kawasan Asia, yakni Bahrain, China, Singapura, Malaysia, Jepang, dan Uni Emirat Arab. 

Advertisement

Asia tak cuma mementaskan balapan lomba jet darat. Sejak musim pertama F1 pada 1950, sudah ada 24 pebalap Asia yang pernah start di lomba jet darat.

Jepang menjadi penyumbang terbanyak dengan 20 pebalap, disusul India (2 pebalap), Malaysia (1), dan Thailand (1). Indonesia menjadi negara Asia terbaru yang punya wakil di F1 lewat Rio Haryanto pada musim 2016.

Sejauh ini, memang belum pernah ada pebalap Asia yang menjadi juara dunia F1. Namun, beberapa pebalap Asia dianggap memiliki talenta luar biasa yang aksinya selalu ditunggu-tunggu para penggemar lomba jet darat.

Berikut adalah lima pebalap Asia terbaik yang pernah berkiprah di F1 versi Bleacherreport. Mereka masuk dalam daftar bukan hanya karena prestasi di atas lintasan, tapi juga berkat pengaruhnya terhadap lomba jet darat.

2 dari 6 halaman

1

Satoru Nakajima, saat beraksi di Adelaide, Australia, pada 1987, dengan mengendarai mobil Camel Lotus Honda. (reddit.com)

5. Satoru Nakajima (Jepang)

Satoru Nakajima tampil di F1 dalam rentang musim 1987-1991 bersama Lotus dan Tyrrell. Saat debut bersama Lotus, Nakajima sudah berusia 34 tahun dan menjadi rekan setim legenda F1, Ayrton Senna.

Nakajima menorehkan prestasi istimewa selama lima tahun berkarier di F1. Dia selalu meraih poin pada setiap musim. Saat pensiun, Nakajima total mengoleksi 16 poin. Meski mencetak poin dalam 10 balapan, dia belum pernah naik podium dari 74 start.

Putra Satoru, yakni Kazuki, juga mengikuti jejak sang ayah dengan berkiprah di F1 dalam rentang 2007-2009 bersama Williams. Namun, prestasi Kazuki tak sebaik Satoru. Dia cuma meraih sembilan poin dari 36 start.

3 dari 6 halaman

2

Narain Karthikeyan, beraksi mengendarai mobil HRT di Sirkuit Sepang, Malaysia, pada 2012. (HRT F1 Team)

4. Narain Karthikeyan (India)

Secara prestasi, karier Narain Karthikeyan di F1 tak bisa dibilang spektakuler. Sejak debut bersama Jordan pada 2005, Karthikeyan lebih sering menjadi penghias baris belakang saat lomba.

Karthikeyan memang pernah finis keempat di Indianapolis, AS, pada 2005. Akan tetapi, saat itu balapan hanya diikuti enam dari 20 pebalap karena kontroversi ban Michelin.

Namun, Karthikeyan berperan besar memopulerkan F1 di India. Sejak Karthikeyan tampil di F1, India memiliki tim balap, yakni Force India, pebalap kedua di lomba jet darat, Karun Chandok, dan menggelar balapan pada 2011-2013.

Sepanjang kariernya di F1, Karthikeyan start dalam 46 balapan dan mengoleksi total lima poin.

4 dari 6 halaman

3

Aguri Suzuki, saat naik podium GP Jepang 1990 di Sirkuit Suzuka. (en.responsejp.com)

3. Aguri Suzuki (Jepang)

Aguri Suzuki menutup kariernya sebagai salah satu pebalap tersukses Asia di F1. Finis ketiga dan naik podium pada GP Jepang musim 1990 di Suzuka menjadi momen yang paling diingat sepanjang karier Suzuki di F1 selama delapan tahun dalam rentang 1988-1995.

Pada musim kedua di F1 pada 1989 bersama tim Zakspeed Racing, Suzuki membuat rekor buruk. Dia gagal mengikuti seluruh balapan sepanjang musim tersebut karena mobilnya kurang kompetitif.

Pada saat itu, memang hanya 26 dari 39 pebalap yang bisa mengikuti lomba. Jadi, sembilan pebalap langsung tersingkir pada Jumat.

Secara keseluruhan, Suzuki mencetak delapan poin, yang diraih dalam lima balapan berbeda, dari 64 kali start. Mayoritas poin yang didapat Suzuki hadir pada musim 1990.

Setelah pensiun, Suzuki sempat memiliki tim F1, yakni Super Aguri, yang menghiasi grid dalam rentang 2006-2008. Tim tersebut meraup delapan poin sepanjang tiga musim di F1 lewat Takuma Sato pada musim 2007. Super Aguri bubar setelah balapan keempat musim 2008 karena masalah keuangan.

5 dari 6 halaman

4

Takuma Sato, merayakan keberhasilan naik podium di Indianapolis, AS, pada 2004 (motorsport.com)

2. Takuma Sato (Jepang)

Takuma Sato aktif di F1 dalam rentang 2002-2008. Selama tujuh musim di lomba jet darat, Sato membela tiga tim, yakni Jordan, BAR, dan Super Aguri.

Dari 90 kali start, Sato mampu mengoleksi 44 poin. Prestasi terbaiknya di F1 adalah naik podium ketiga pada GP AS 2004 bersama BAR.

Karier Sato di F1 sempat nyaris berakhir prematur setelah pada 2005 ditendang BAR-Honda demi mendatangkan Rubens Barrichello. Dia masih bisa membalap di F1 setelah Aguri Suzuki mendirikan tim Super Aguri supaya pebalap Jepang tetap ada di grid F1.

Banyak pengamat memuji Sato karena dianggap memiliki kecepatan alami. Namun, talenta besarnya tertutup oleh gaya balap Sato yang serampangan. Dia kerap menjadi penyebab kecelakaan karena melakukan manuver berbahaya.

6 dari 6 halaman

5

Kamui Kobayashi, merayakan keberhasilan naik podium pada GP Jepang 2012 di Sirkuit Suzuka. (f1fanatic.co.uk)

1. Kamui Kobayashi (Jepang)

Kamui Kobayashi paling layak disebut sebagai pebalap Asia terbaik di F1. Dia punya banyak penggemar karena aksinya di lintasan sering mengundang decak kagum.

Gaya balap Kobayashi yang berani dan oportunis serta lihai dalam melakukan late-braking membuat balapan menjadi menarik. Berbeda dengan manuver Takuma Sato yang dianggap berbahaya, aksi Kobayashi dalam menyalip pebalap lain lebih halus dan jarang diprotes rival-rivalnya.

Talenta luar biasa Kobayashi bisa dilihat dari prestasinya yang mampu mencetak 125 dari hanya tiga musim penuh awal di F1.

Kobayashi mencapai puncak popularitas saat naik podium pada GP Jepang 2012 di Suzuka. Dia menjadi pebalap Jepang ketiga yang naik podium di F1 setelah Aguri Suzuki dan Takuma Sato.

Salah satu bukti Kobayashi begitu dicintai fans adalah saat dia melakukan fund raising untuk mendapat satu kursi di F1 pada musim 2014. Hasilnya, dia mampu mengumpulkan dana yang dibutuhkan untuk membalap bersama Caterham.

Namun, Kobayashi bukan tak memiliki pengalaman buruk. Dia pernah menabrak empat kru pit pada GP Inggris 2012 di Sirkuit Silverstone dan mendapat denda. Dia juga pernah mengalami insiden saat melakukan demo F1 dengan mengendarai mobil Ferrari di Moskow, Rusia, pada 2013.