Susy Susanti Berharap Jaminan Hari Tua Atlet Dipatenkan Lewat UU

oleh Muhammad Wirawan Kusuma diperbarui 02 Sep 2016, 10:15 WIB
Legenda bulutangkis Indonesia, Susy Susanti. (Bola.com/Romi Syahputra)

Bola.com, Kudus - Legenda bulutangkis Indonesia, Susy Susanti, berharap kebijakan pemerintah memberikan jaminan hari tua untuk atlet dipatenkan dalam bentuk Undang Undang. Dia khawatir program yang dicanangkan Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi itu bisa berubah jika tak ada payung hukum yang kuat.

Advertisement

Menpora mengeluarkan kebijakan memberikan jaminan hari tua kepada atlet peraih medali Olimpiade. Peraih medali emas diberikan Rp 20 juta per bulan, peraih perak Rp 15 juta per bulan dan peraih perunggu Rp 10 juta per bulan.

Susy khawatir kebijakan itu berubah jika Imam Nahrawi tak lagi menjadi Menpora. Dia berharap Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) memperkuat program ini dengan menjadikannya sebagai Undang Undang.

"Kalau DPR benar-benar peduli dengan atlet harus bergerak sekarang. Jangan hanya pencitraan. Jangan hanya menjanjikan, tapi sudah harus ada jaminan. Jadi harus ada Undang Undang soal jaminan hari tua buat para atlet," kata Susy kepada wartawan di Semarang, Kamis (1/9/2016).

"Kalau mereka memang peduli dan perhatian terhadap olahragawan, inilah momennya. Kalau sudah berbentuk Undang Undang sudah ada kepastian, karena kebijakan bisa berubah seiring berganti pemimpin,"tambahnya.

Peraih medali emas Olimpiade Barcelona 1992 ini mengaku sudah lama memperjuangkan JHT. Namun, dia dan beberapa rekan seperjuangannya hanya menerima janji manis.

Susy khawatir jika olahragawan tetap tak dihargai akan membuat generasi penerus enggan menjadi atlet. "Kalau tidak dihargai siapa yang mau jadi atlet," ujarnya.

Susy menilai pemikiran mayoritas orang tua sudah lebih longgar mengizinkan anak-anak mereka menjadi atlet. Hal ini tak lepas dari kesuksesan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir meraih medali emas Olimpiade Rio de Janeiro 2016. Dengan kesuksesan itu, pasangan nomor tiga dunia itu kini diguyur bonus yang melimpah.

"Sudah berubah total. Kalau dulu orang tua agak susah mengizinkan anaknya menjadi atlet, sekarang juatru mendorong. Jika sudah ada kepastian, semua anak tentu akan berubah pikiran untuk menjadi seorang atlet," tutur Susy Susanti.

JHT atlet resmi diberikan kepada peraih medali Olimpiade mulai 2 Juni 2016. Sejak berpartisipasi di Olimpiade, Indonesia sudah mendulang 30 medali, perinciannya tujuh emas, 12 perak, dan 11 perunggu.