MotoGP Lebih Kompetitif, Marc Marquez Ledek F1

oleh Oka Akhsan diperbarui 06 Sep 2016, 14:30 WIB
Duel ketat antara Marc Marquez dan Valentino Rossi menjadi daya tarik yang selalu dinantikan penggemar MotoGP pada seriap balapan. (AFP/Juan Mabromata)

Bola.com, Jakarta - Pebalap Repsol Honda, Marc Marquez, buka suara terkait persaingan yang sangat kompetitif di MotoGP pada musim 2016. Menurut Marquez, situasi serupa mustahil terjadi di F1.

Balapan MotoGP musim ini memang sulit diprediksi. Bahkan, tujuh seri terakhir dimenangi oleh tujuh pebalap yang berasal dari empat pabrikan berbeda.

Advertisement

Mereka adalah Jorge Lorenzo dan Valentino Rossi (Yamaha), Marc Marquez, Jack Miller, dan Cal Crutchlow (Honda), Andrea Iannone (Ducati), serta Maverick Vinales (Suzuki).

Miller, Iannone, Crutchlow, dan Vinales untuk pertama kali meraih kemenangan di kelas MotoGP. Miller juara di Belanda, Iannone di Austria, Crutchlow di Rep. Ceska, sedangkan Vinales di Inggris. Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah ada empat pemenang baru dalam satu musim MotoGP.

Terakhir kali ada tujuh pebalap berbeda yang meraih kemenangan dalam satu musim MotoGP terjadi pada 2006. Kala itu, Nicky Hayden, Valentino Rossi, Loris Capirossi, Marco Melandri, Dani Pedrosa, Toni Elias, dan Troy Bayliss masing-masing sekali menjadi juara.

Sementara itu, terakhir kali tujuh balapan beruntun dimenangi oleh pebalap berbeda terjadi pada musim 1999-2000 saat MotoGP masih bernama kelas 500cc.

Saat itu, Alex Criville, Regis Laconi, Tadayuki Okada, Max Biaggi, Norick Abe, Kenny Roberts Jr. memenangi enam seri terakhir musim 1999 sebelum ditutup Garry McCoy yang jadi juara pada balapan pertama musim 2000.

Empat pabrikan yang mampu meraih kemenangan seri dalam semusim terakhir kali terjadi pada 2007. Menariknya, pabrikan yang jadi juara saat itu juga sama seperti musim ini, yakni Honda, Yamaha, Ducati, dan Suzuki.

Menurut dua kali juara dunia, Marc Marquez, motor yang cepat saja tak cukup untuk membuat pebalap jadi juara seri pada MotoGP 2016. Kemenangan dan kekalahan seorang pebalap di mata Marquez juga ditentukan oleh faktor fisik dan strategi yang tepat, baik sebelum maupun saat lomba.

"Hal seperti ini tak akan pernah terjadi di F1," kata dua kali juara dunia MotoGP, Marc Marquez, seperti dilansir motorsport-magazin.com.

2 dari 3 halaman

Perbandingan dengan F1

Pebalap Suzuki, Maverick Vinales, salah satu pebalap yang meraih kemenangan pertama di MotoGP pada musim 2016. (AFP/Oli Scarff)

Perbandingan dengan F1

Namun, pernyataan Marquez hanya tepat jika melihat data statistik tiga tahun terakhir. Dalam rentang 2008-2013, justru F1 yang lebih banyak memunculkan juara berbeda.

Bahkan, pada 2012 ada tujuh pebalap berbeda yang menang dalam tujuh balapan beruntun, yakni Jenson Button, Fernando Alonso, Nico Rosberg, Sebastian Vettel, Pastor Maldonado, Mark Webber, dan Lewis Hamilton.

Akan tetapi, tren itu berbalik 180 derajat sejak Mercedes mendominasi lomba jet darat pada 2014. Dalam tiga musim terakhir, hanya ada tiga pebalap di luar duo Mercedes, Rosberg dan Hamilton, yang bisa jadi juara, yaitu Daniel Ricciardo (Red Bull/2014), Sebastian Vettel (Ferrari/2015), dan Max Verstappen (Red Bull/2016).

Perbandingan Jumlah Juara Seri di MotoGP dan F1 dalam 10 Musim Terakhir

Musim-Pemenang MotoGP-Pemenang F1

*2016-7-3
2015-4-3
2014-4-3
2013-4-5
2012-3-8
2011-4-5
2010-4-5
2009-5-6
2008-4-7
2007-5-4

Keterangan *: musim belum selesai

3 dari 3 halaman

Faktor Penyebab MotoGP Lebih Kompetitif Ketimbang F1

Ducati, salah satu pabrikan yang diuntungkan dengan kebijakan penggunaan elektronik standar mulai MotoGP 2017. (AFP/Joe Klamar)

Faktor Penyebab MotoGP Lebih Kompetitif Ketimbang F1

Ducati menang untuk pertama kali sejak 2010 di Red Bull Ring. Suzuki memutus puasa kemenangan selama sembilan tahun di Silverstone. Sementara itu, Miller dan Crutchlow merupakan pebalap tim satelit.

Artinya, dominasi dua pabrikan besar, yakni Honda dan Yamaha, mulai terkikis. Imbasnya positif karena balapan jadi lebih seru.

Dua faktor utama yang membuat persaingan di MotoGP jadi lebih ketat adalah elektronik (ECU) dan ban Michelin. Dengan seluruh tim menggunakan ECU standar, maka selisih antar tim jadi tak terlalu besar.

"Michelin memungkinkan pebalap memakai kombinasi ban yang berbeda. Ada pebalap yang lebih cepat dengan ban berkompon lunak. Namun, ada pula pebalap lain yang tampil kompetitif dengan kompon ban yang lebih keras. Sementara elektronik sangat membantu Suzuki dan Ducati mendekati level Yamaha dan Honda," kata Valentino Rossi.

Dengan kata lain, kebijakan otoritas pengelola MotoGP berbuah positif. Mereka sukses membuat balapan jadi lebih seru dan menarik minat banyak fans.

Sebaliknya, F1 kehilangan banyak penggemar karena balapan berjalan membosankan akibat dominasi tim-tim besar. Otoritas F1 juga terlalu sering mengubah regulasi yang membingungkan penonton.