Makna Teriakan Atlet Kempo DKI yang Berbuah Medali Emas PON 2016

oleh Muhammad Wirawan Kusuma diperbarui 28 Sep 2016, 08:05 WIB
Tim kempo putri DKI Jakarta, tampil untuk kelas embu beregu putri pada PON XIX Jawa Barat di GOR Sasana Budaya Ganesha, Bandung, Selasa (27/9/2016). (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Bola.com, Bandung - Tim beregu putri DKI Jakarta merebut medali emas PON 2016 pada cabang kempo setelah menjadi yang terbaik pada nomor embu beregu. Dalam perlombaan yang berlangsung di Sasana Budaya Ganesha, Selasa (27/9/2016), empat atlet DKI tampil penuh semangat.

Ini tergambar dalam setiap gerakan yang dilakukan Dita Cucu Kartika, Dewi Aristiani, Gema Sofat Yaquti, dan Dwi Aryanti. Tak hanya itu, teriakan yang mereka keluarkan seperti membahana di dalam arena pertandingan.

Advertisement

"Itu namanya Ai. Itu masuk dalam salah satu kriteria penilaian. Jadi ada penilaian semangat. Letupan, kiai, kimek namanya," ujar Dita selaku kapten tim, menjelaskan soal teriakan yang dilakukan para atlet kempo bertanding kepada Bola.com.

"Jadi setiap jurus dalam kempo yang kami keluarkan, setiap kami bertahan atau menyerang, kami harus serasi dalam mengeluarkan kiai atau teriakan. Itu menjadi salah satu penilaian. Kalau kiainya berbeda-beda, akan berpengaruh ke penilaian," tambahnya.

Tentu teriakan bukan satu-satunya faktor kemenangan DKI Jakarta. Gerakan atau jurus yang dipakai para atlet kempo DKI juga memiliki peranan penting.

"Ada banyak jurusnya. Kami memang sengaja menggunakan jurus-jurus yang tingkat kesulitannya tinggi karena di sini ada Dan II (tingkatan dalam kempo) dan itu yang tertinggi di sini. Jadi kami pakai itu, biar ada nilai tambah," ungkap Gema.

Kemenangan DKI ini bukan datang begitu saja. Butuh perjuangan dan pengorbanan berat dari Gema, Dita, Dewi dan Dwi. Susah senang mereka lalui bersama demi mewujudkan target meraih medali emas PON.

Tim kempo putri DKI Jakarta, tampil untuk kelas embu beregu putri pada PON XIX Jawa Barat di GOR Sasana Budaya Ganesha, Bandung, Selasa (27/9/2016). (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

"Persiapan kami sudah dari 2013. Sebelum PON, kami dikarantina di mess selama tiga bulan dan tidak bisa pulang juga bertemu keluarga," jelas Dwi.

"Dari Pra PON kami memang sudah sama-sama hingga sekarang. Agar kompak kami suka pergi bareng atau melakukan hal bersama-sama. Biar lebih solid," timpal Dewi.

Selepas PON, keempat atlet kempo DKI ini akan terus menjalani latihan. Sudah ada turnamen besar yang menunggu mereka.

"Setelah PON ini kami akan mengikuti Kejuaraan Dunia Kempo yang berlangsung di Amerika. Mudah-mudahan jika kami terpilih bisa menjadi juara lagi," tutup Dita.