Showtime: Semangat Berbagi Ilmu Silat Minang di Bumi Austria

oleh Reza Khomaini diperbarui 05 Okt 2016, 17:30 WIB
Antusiasme dan kegembiraan menyelimuti sesi latihan di perguruan pencak silat Anak Harimau Austria. (Bola.com/Reza Khomaini/Adreanus Titus)

Bola.com, Wina - Antusiasme dan kegembiraan menyelimuti sesi latihan di perguruan pencak silat Anak Harimau Austria pada Sabtu (24/9/2016). Hall Basket Volkschule (Sekolah Menengah Atas) kota Ladendorf yang menjadi tempat berlatih murid-murid Anak Harimau, kedatangan tamu istimewa.

Advertisement

Tamunya pun tak sembarangan, Haji Sofyan Nadar. Dia dalah salah satu sosok yang berperan besar dalam lahirnya perguruan silat Anak Harimau di kota yang terletak sekitar 75 kilometer dari Wina, Austria ini.

‘‘Hari ini kami kedatangan Pak Haji Sofyan Nadar. Ia adalah guru silat saya dari Indonesia. Kehadirannya di Austria khusus untuk memberikan materi-materi silat kepada guru-guru dan murid-murid Anak Harimau,’’ ucap Stefan Taibl, salah satu pendiri sekolah silat Anak Harimau Austria saat menyambut Bola.com yang meliput langsung kegiatan pelatihan bersama Haji Sofyan Nadar tersebut.

Martin Stueber memelajari teknik tangkisan melawan senjata tajam dari Haji Sofyan Nadar. (Bola.com/Reza Khomaini)

Bagai mendapatkan durian runtuh, kehadiran Haji Sofyan Nadar merupakan momen berharga yang sulit dilewatkan oleh Stefan dan murid-murid Anak Harimau Austria. Mereka antusias menimba ilmu seni beladiri asal Tanah Air langsung dari guru besar silat asal Sumatra Barat tersebut.

’’Momen yang langka bagi kami. Tentu kehadiran Pak Haji (Sofyan Nadar) di sini akan sangat bermanfaat bagi perkembangan ilmu silat kami,’’ ucap Martin Stueber, salah satu murid Anak Harimau yang sudah tiga tahun belajar pencak silat.

Haji Syofyan Nadar adalah guru silat asal Sumatra Barat yang lahir pada 1958 di sebuah desa di Kabupaten Kerinci, Jambi. Ia mulai belajar silat sejak berusia 13 tahun di daerah Kerinci. Guru pertamanya bernama Mak Tiar Tenjak, seorang tukang gali kubur yang tinggal di lokasi Tanah Kuburan Peratuan Orang Pariaman di Bukit Sentiong. Di situlah kali pertama Sofyan kecil berlatih silat di bawah bimbingan Mak Tiar.

Namun, Mak Tiar bukan satu-satunya guru silat Sofyan. Dalam perjalanannya menimba ilmu silat, puluhan guru sudah ditemui Sofyan. Hingga suatu saat dia bertemu seorang guru silat aliran Sunua Jantan yang bernama Syofyan Usman. Dari guru terakhirnya ini, ia menerima bimbingan tentang ilmu silat, plus ilmu agama dan sejarah pencak silat tradisi Sunua daerah pesisir Pariaman. Gurunya tersebut juga dikenal dengan sebutan Ajo Piyan Putiah.

Dua murid Anak Harimau Austria fokus melihat teknik menangkis serangan senjata tajam dengan kaki yang diperagakan Haji Sofyan Nadar. (Bola.com/Reza Khomaini)

Kemampuan Haji Sofyan Nadar di dunia pencak silat mulai tersohor pada awal 90-an di wilayah Sumatra Barat. Murid-muridnya tidak hanya penduduk setempat, tapi hingga provinsi luar Sumatra. Bahkan di pertengahan era 90-an, Sofyan untuk kali pertama mengajarkan silat kepada murid asing asal Jerman.

Sofyan juga merupakan salah satu guru silat asal Indonesia yang didatangi para pendiri perguruan Anak Harimau, yakni Stefan Taibl dan Martin Jagoditsch. Pada 2009, selama kurang lebih 20 hari di Sumatra Barat, Stefan dkk mendapat gemblengan silat aliran Sunua dari Haji Sofyan Nadar.

‘‘Sekarang giliran Pak Haji yang datang ke Austria. Kami memang mengundang Pak Haji untuk datang mengajar langsung para pesilat di Anak Harimau. Ini rencana yang cukup lama. Baru tahun ini, berkat bantuan dari pihak Kedutaan RI, akhirnya Pak Haji bisa datang ke Austria,’’ tutur Stefan.

Kehadiran guru besar Silek Sunua ini mendapat sambutan hangat dari murid-murid Anak Harimau. Sedikitnya 17 orang berlatih bersama Haji Sofyan selama sepekan. Ada peserta yang baru memulai mendalami silat, namun ada juga yang sudah puluhan tahun. Usia mereka juga beragam, di bawah 30 tahun hingga di atas 60 tahun. 

’’Saya sudah 10 tahun belajar silat. Tapi sempat dua tahun berhenti. Sekarang baru memulai kembali berlatih. Usia saya 63 tahun, sangat senang bisa dilatih dan melihat pergerakan silat dari guru besar silat,’’ ucap Kurt Schoenauer antusias.

Silek Sunua, Bayang, dan Harimau

Tingginya antusiasme para murid Anak Harimau Austria membuat Sofyan beberapa kali mengulang gerakan atau jurus silat. Sebagian peserta yang ikut latihan agak kesulitan menirukan gerakan cepat Haji Sofyan. ‘‘Pelan-pelan dan mohon diulang lagi,’’ ucap salah satu murid saat Sofyan memeragakan gerakan silek Sunua. Mendengar permintaan itu, Sofyan pun mengulang kembali gerakan silek Sunua yang diperagakannya.

Haji Sofyan Nadar terlihat santai dalam memeragakan teknik menghindar dari serangan senjata tajam. (Bola.com/Reza Khomaini)

Tidak hanya gerakan-gerakan dasar silat khas Sumatra Barat yang diajarkan Haji Sofyan kepada para peserta. Teknik-teknik tangkapan dan kuncian tidak luput dari program pelatihan yang dirancang pelatih silat yang memulai karier sejak usia 13 tahun itu. Bahkan, beberapa teknik membela diri dari serangan lawan dengan menggunakan selembar kertas dan puntung rokok pun diperagakan Sofyan.

‘‘Sangat menarik sekali melihat teknik-teknik mempertahankan diri dari serangan lawan. Terlebih yang memeragakannya adalah guru besar silat,’’ tutur Martin Stueber, salah satu murid belia di perguruan Anak Harimau.

Haji Sofyan Nadar mengajarkan salah satu murid Anak Harimau teknik kuncian dalam silek Sunua. (Bola.com/Reza Khomaini)

Sofyan mengaku terkejut dengan antusiasme warga Austria di kota Ladendorf. Ini merupakan kali pertama ia mengajar silat di Austria. ’’Saya terkejut sekali. Mereka sangat antusias. Bahkan ada murid yang usianya di atas saya. Salut dengan semangat orang-orang Austria,’’ kata Haji Sofyan.

Ditanya mengenai program latihan yang diberikannya selama di Austria, pelatih yang pernah menularkan ilmu silat ke sejumlah murid asal Eropa ini mengaku telah merancang menu-menu latihan dasar. Ada tiga aliran yang diajarkan Sofyan selama sepekan, yakni aliran silek Sunua, Bayang, dan Harimau. ‘‘Ada juga dasar permainan buaya. Tapi semua tergantung mereka. Sejauh mana mereka bisa mengikuti programnya,’’ jelas Haji Sofyan.