Frank Lampard, Pahlawan Revolusi Chelsea

Frank Lampard tercatat sebagai pemain yang menjadi bagian dari revolusi Chelsea dari klub semenjana menjadi langganan juara Premier League.

BolaCom | Aditya WicaksonoDiterbitkan 03 Februari 2017, 14:30 WIB
Thanks, Super Frank. (Bola.com/Adreanus Titus)

"I'm not silly. I understand that, with age and at different parts of your career, you have different challenges." - Frank Lampard

Bola.com - Frank Lampard resmi mengumumkan pengunduran diri sebagai pesepak bola profesional pada Kamis, 2 Februari 2017. Setelah 21 tahun menjalani karier profesional, Lampard berencana membuka lembaran baru dalam hidupnya dengan mengincar karier manajerial. 

Advertisement

Lampard merupakan bagian dari generasi emas sepak bola Inggris. Bersama David Beckham, Paul Scholes, John Terry, Steven Gerrard, Joe Cole, Rio Ferdinand, Michael Owen, Wayne Rooney dan beberapa pemain lainnya, Lampard pernah dituntut untuk membawa The Three Lions meraih prestasi di level internasional.

Meskipun gagal mengantar Inggris meraih prestasi, kiprah Lampard untuk The Three Lions pantas untuk diapresiasi. Sejak menembus tim nasional pada 1999, Lampard mencatatkan 106 penampilan dan menyumbang 29 gol. Super Frank menjadi satu di antara sembilan pemain yang berhasil mencatatkan 100 penampilan untuk timnas Inggris.

Lampard memulai karier sepak bola bersama West Ham United pada tahun 1994. Hanya semusim di tim akademi, Lampard meraih promosi ke tim senior pada 1995. Namun ia harus menjalani masa peminjaman ke Swansea City pada musim tersebut.

Frank Lampard bersama Harry Redknapp dan Rio Ferdinand di West Ham United. (doc. West Ham United)

Pada musim 1997-98, Lampard mulai tampil reguler bersama The Hammers. Pada musim tersebut, Lampard mulai diperbincangkan setelah mencetak hattrick untuk West Ham pada laga melawan Walsall (19/11/1997) di kompetisi Piala Liga.

Pada tahun 2001, Lampard memutuskan untuk hengkang dari West Ham dan bergabung ke Chelsea. Pemecatan yang dialami Harry Redknapp dan Frank Lampard Sr., melatar belakangi keputusan Lampard untuk meninggalkan Boleyn Ground.

Uang sebesar 11 juta poundsterling (Rp 184 miliar) harus dikeluarkan Chelsea untuk mengangkut Frank Lampard ke Stamford Bridge.

 


Pahlawan Revolusi Chelsea

Frank Lampard memilih hengkang ke Chelsea setelah meninggalkan West Ham United pada 2001. (Sky Sports)

Keputusan Lampard untuk bergabung dengan Chelsea terbukti menjadi keputusan yang tepat. Pada tahun 2004, Roman Abramovich membuat keputusan penting dengan menunjuk Jose Mourinho untuk menggantikan Claudio Ranieri.

Di tangan Mourinho, Lampard membuat dirinya menjadi satu di antara gelandang Inggris terbaik. Kejelian Mourinho dalam memaksimalkan potensi Lampard, menjadikan sang pemain memiliki keunggulan dalam mencetak gol.

Pada musim 2004-05, The Blues berhasil menjuarai Premier League untuk kali pertama sepanjang sejarah klub. Lampard menghabiskan 13 tahun dalam karier profesionalnya sebagai pemain Chelsea. Total 13 gelar berhasil dipersembahkan Lampard untuk Chelsea.

Frank Lampard mengantarkan Chelsea menjadi juara Liga Champions pada tahun 2012. (doc. Chelsea)

Tidak hanya gelar, Lampard mencatatkan sebuah pencapaian prestigius yang membuat namanya melekat dengan buku rekor Premier League. Lampard merupakan satu-satunya pemain yang berposisi sebagai gelandang yang masuk dalam daftar 10 pencetak gol terbanyak di Premier League.

Dalam daftar tersebut, Lampard menempati peringkat keenam dengan 177 gol dari 609 penampilan. Ia mengungguli sejumlah nama striker top Premier League seperti Thierry Henry, Robbie Fowler, Michael Owen, hingga Teddy Sheringham.

Sebagai satu di antara pahlawan revolusi di Chelsea, para suporter The Blues pun menyematkan status legenda untuk Lampard. Status tersebut membuat para suporter Chelsea tidak sampai hati mencemooh Lampard ketika sang pemain membobol gawang Chelsea sebagai pemain Manchester City pada Premier League 2014-15.


Penyesalan Super Frank

Frank Lampard ketika merayakan Frank Lampard Day bersama New York City FC, Jumat (2/9/2016). (Skysports).

Sebagaimana para pemain sepak bola pada umumnya, Lampard juga mempunyai penyesalan selama menjalani karier sebagai pesepak bola profesional.

Lampard yang menjadi bagian dari generasi emas sepak bola Inggris, gagal mempersembahkan satu gelar pun untuk negaranya. Selain itu, Lampard tidak pernah mencatatkan namanya dalam papan skor di turnamen Piala Dunia.

Satu kekecewaan yang tidak akan bisa tergerus waktu adalah kejadian dalam pertandingan melawan Jerman pada Piala Dunia 2010. Saat itu, bola hasil tendangan Lampard yang sudah melewati garis gawang tidak diakui sebagai gol. Hasilnya, Inggris bertekuk lutut dengan kekalahan 1-4 dari Jerman.

Peristiwa tersebut akhirnya menjadi satu di antara banyak alasan FIFA untuk mengenalkan teknologi garis gawang.

"Jelas saya kecewa pada saat itu. Namun saya berusaha untuk tidak memikirkannya. Hal yang membuat saya bangga adalah peristiwa tersebut mendorong FIFA untuk menerapkan teknologi garis gawang. Perubahan ini sangat positif di sepak bola agar pertandingan bisa berjalan lebih adil," ungkap Lampard pada 2014.

Selain itu, penyesalan lain yang mungkin dirasakan Lampard adalah tidak bisa mengakhiri karier sebagai pemain Chelsea. Setelah meraih banyak prestasi bersama klub tersebut, pasti ada secercah harapan dalam hati Lampard untuk bisa mengumumkan pengunduran diri dengan status masih menjadi pemain Chelsea.

Frank Lampard tidak mendapatkan kesempatan untuk mengakhiri karier sebagai pesepak bola di Chelsea. (EPA/Andy Rain)

Namun sebagai seorang profesional, Lampard berusaha untuk terus melihat kariernya ke depan dan memanfaatkan kesempatan yang ia miliki dengan bergabung ke Manchester City hingga kemudian berlabuh di New York City.

Bagaimana pun performa Lampard sebagai satu di antara gelandang terbaik di Premier League tidak akan pernah dilupakan. Keandalan dalam mencetak gol dan determinasi tinggi untuk membawa klubnya meraih prestasi akan terus dikenang oleh para penikmat sepak bola dunia.

Thanks, Super Frank!

Sumber: Berbagai Sumber

Saksikan cuplikan pertandingan dari Liga Inggris, Liga Italia, dan Liga Prancis dengan kualitas HD di sini

Berita Terkait