Panitia Ungkap 4 Kekurangan Djarum Superliga Badminton 2017

oleh Zaidan Nazarul diperbarui 27 Feb 2017, 11:30 WIB
Direktur Djarum Superliga, Achmad Budiharto, memberikan keterangan kepada media setelah partai final putra Djarum Superliga Badminton 2017 di DBL Arena, Surabaya, Minggu (26/2/2017). (Bola.com/Fahrizal Arnas)

Bola.com, Surabaya -Panitia Lirik Daerah Lain untuk Gelar Djarum Superliga Badminton Tahun Depan Panitia Djarum Superliga Badminton 2017 yang digelar di DBL Arena, Surabaya, tampaknya bakal melirik kota lain untuk melangsungkan turnamen yang sama tahun Penyelenggara Djarum Superliga Badminton 2017 menilai ada empat kekurangan yang harus dibenahi supaya event ini berlangsung lebih gereget pada tahun depan. Salah satu yang disorot adalah kurangnya animo penonton sepanjang perhelatan Djarum Superliga di DBL Arena Surabaya, 19-26 Februari 2017. 

Advertisement

Direktur Djarum Superliga, Achmad Budiharto, mengaku tak puas dengan animo penonton di Surabaya, khususnya di final putri. Pada oertandingan antara Mutiara Cardinal melawan Berkat Abadi, jumlah penonton di Kota Pahlawan jauh lebih sedikit dibanding tiga event sebelumnya, yaitu pada 2012, 2013, dan 2014. Saat itu, pada final putri, tribune penonton penuh dan tak menyisakan banyak tempat kosong.

“Kami tidak menyalahkan penonton, ini akan jadi pekerjaan rumah kami tahun depan. Yang pasti memang ada perbedaan dengan perhelatan sebelumnya," kata Budi, setelah final tunggal putra antara Musica Champions kontra PB Djarum, Minggu.

Kekurangan kedua pada event tahun ini, ujar Budi, adalah minimnya bintang-bintang bulutangkis yang turun, khususnya di sektor putri. Sedangkan yang ketiga, tim-tim yang hadir dinilai tampil kurang serius, khususnya tim dari luar negeri seperti Sports Affair (Malaysia), Kumamoto Saisunkhan (Jepang), dan Granular (Thailand). Hal itu bisa dilihat dari prestasi tim-tim tersebut yang kurang menggigit.

Untuk di sektor putra sendiri, absennya Lee Chong Wei (Musica) lantaran cedera dinilai tidak terlalu berpengaruh. Absennya Chong Wei masih bisa ditutupi beberapa bintang lain, seperti Lee Yong-dae, Jonatan Cristie, dan Ihsan Maulana Mustofa, yang memiliki banyak fans. "Harus saya akui, untuk final putranya luar biasa. Penonton sampai hampir tidak muat," tutur dia.

Adapun permasalahan yang keempat adalah pemilihan jadwal turnamen yang dinilai tidak tepat.  Minimnya bintang-bintang bulutangkis dunia yang hadir, terutama di sektor putri, diyakini karena jadwal Djarum Superliga kurang ideal. Menurut Budi, pelaksaan Djarum Superliga tahun ini terlalu berdekatan dengan kejuaraan beregu di Ho Chi Minh, Vietnam.

Guna mengatasi berbagai masalah tersebut, pihak penyelenggara kemungkinan bakal memilih kota lain sebagai tuan rumah Djarum Superliga Badminton tahun depan. Budi menyebutkan sudah ada beberapa daerah yang masuk incaran panitia. Tapi, mereka belum bisa memutuskan di mana Dharum Superliga Badminton tahun depan balal digelar. Budi mengatakan pihak penyelenggara masih akan mengevaluasi, sebelum menentukan daerah lokasi baru penyelenggaraan event tersebut.