Gian Zola: Titisan Gianfranco Zola di Persib dan Timnas U-22

oleh Benediktus Gerendo Pradigdo diperbarui 05 Jul 2017, 08:00 WIB
Garuda Kita: Gian Zola dan Kebanggaan Bersama Timnas Indonesia. (Bola.com/Foto: Vitalis Yogi Trisna/Grafis: Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Gelandang muda Persib Bandung, Gian Zola Nasrulloh Nugraha, kini sudah menjadi salah satu bagian penting Timnas Indonesia U-22 asuhan Luis Milla yang tengah bekerja keras untuk mengejar target medali emas di SEA Games 2017 yang digelar di Kuala Lumpur. Kebanggaan tampak terlihat dari wajah pemain berusia 18 tahun itu.

Namanya mulai melesat ketika masuk dalam skuat Persib Bandung. Kesuksesan menjadi juara Pekan Olahraga Nasional (PON) 2016 di Jawa Barat membuat Zola kemudian menjadi salah satu pemain andalan Maung Bandung di Liga 1 2017, yang memang mewajibkan setiap klub memainkan tiga pemain muda di bawah usia 23 tahun dalam setiap pertandingan.

Advertisement

Sebelum tampil di Liga 1 2017, performa Gian Zola sudah diamati dan dinilai baik oleh Pelatih Timnas U-22, Luis Milla, dan tim kepelatihan yang memantau pemain melalui Piala Presiden 2017. Bersama Febri Hariyadi, Gian Zola selalu menjadi pemain yang dipanggil mengikuti pemusatan latihan dan laga uji coba bersama Tim Garuda Muda.

Gian Zola pun mengakui kebanggaan yang dirasakannya ketika mengenakan seragam dengan lambang Garuda di dada dan masuk ke dalam stadion untuk membela nama Indonesia. Rasa bangga itu pun membuatnya semakin termotivasi untuk memperlihatkan performa terbaik yang dimilikinya.

“Membela Timnas Indonesia itu tanggung jawabnya lebih besar daripada ketika bermain bersama klub. Saat itu, rasanya mewakili orang yang lebih banyak, mewakili Indonesia,” ujar Zola kepada Bola.com.

“Ketika mengenakan baju Timnas Indonesia dan masuk ke dalam lapangan, pasti merasa lebih senang dan ada rasa ingin memberikan yang terbaik. Setiap pemain pasti motivasinya akan lebih tinggi ketika membela Timnas Indonesia, hingga lelah saja tidak akan terasa,” lanjutnya.

Gelandang Timnas Indonesia, Gian Zola, berusaha menghadang pergerakan pemain Puerto Rico pada laga persahabatan di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Selasa (13/6/2017). (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Masa depan pemain kelahiran Bandung itu di Timnas Indonesia terbilang cukup cerah. Mendapatkan kesempatan ketika era sepak bola Indonesia ingin membangun Timnas Indonesia yang kuat dari usia muda, Gian Zola mampu memperlihatkan kualitas yang luar biasa di lini tengah bersama pemain-pemain yang lebih berpengalaman.

Pemain jebolan SSB UNI dan SASWCO Bandung itu pun sudah berhasil menorehkan gol pertamanya untuk Timnas Indonesia. Gol yang dicetak dengan tendangan kaki kiri itu dibuatnya ketika Tim Garuda menghadapi Kamboja di Stadion Olimpiade, Phnom Penh, pada laga uji coba internasional pada 8 Juni 2017.

“Rasanya tidak menyangka bisa mencetak gol saat bersama Timnas Indonesia, terutama ketika ada lima pemain senior yang membantu kami. Senang sekali dan tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata,” ujar putra kedua dari Budi Nugraha yang juga merupakan mantan pemain sepak bola itu.

“Gol tersebut menjadi motivasi bagi saya, tapi bukan berarti saya ingin besar kepala. Itu menjadi motivasi bagi saya untuk berlatih lebih keras demi bisa membawa Timnas Indonesia menjadi lebih baik,” lanjutnya.

Hanya satu kali absen mengikuti pemusatan latihan Timnas Indonesia U-22 lantaran harus membela Persib Bandung di Piala Presiden 2017 membuat Gian Zola kini masuk dalam core team yang dibangun Luis Milla untuk membentuk Tim Garuda yang kuat dan bisa bersaing di level Asia dan, mudah-mudahan, di level dunia untuk masa depan. Namun, yang pasti medali emas SEA Games 2017 kini menjadi beban yang harus dipikulnya bersama rekan-rekan setimnya yang lain.

Gelandang Timnas Indonesia U-22, Gian Zola, melakukan pemanasan saat mengikuti sesi latihan di Lapangan SPH Karawaci, Banten, Selasa (7/3/2017). (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

2 dari 3 halaman

Nama Gian Zola dan Doa Orang Tua

Ketika mendengar nama Gian Zola, pecinta sepak bola era 1990-an pasti akan teringat dengan pemain sepak bola asal Italia yang besar bersama Parma dan Chelsea. Ya, dia adalah sosok Gianfranco Zola.

Gianfranco Zola memulai karier sepak bola pada 1984 dan namanya semakin besar ketika membela Napoli dan Parma di Serie A. Kariernya pun berlanjut ke Liga Premier Inggris dan bermain bersama Chelsea. Meski hanya enam tahun membela Timnas Italia, sosok Zola begitu diingat karena postur tubuhnya yang mungil dengan kecepatan dan kemampuan individu yang luar biasa.

Entah mengapa sosok Gian Zola Nasrulloh benar-benar menjadi titisan dari pemain Italia kelahiran 5 Juli 1966 itu. Gian Zola asal Bandung pun memiliki postur tubuh yang mungil dengan kemampuan individu yang pantas diacungi jempol.

Pemberian nama yang tampaknya benar-benar disertai doa yang kuat dari orang tuanya membuat Gian Zola kini benar-benar tampak seperti sang legenda. Meski tak pernah benar-benar melihat bagaimana hebatnya Gianfranco Zola, yang memutuskan gantung sepatu pada 2005 ketika berseragam Cagliari, pemain kelahiran 5 Agustus 1998 itu pun merasa sangat bersyukur atas anugerah yang luar biasa itu.

“Saya sendiri merasa sangat senang diberi nama seperti seorang legenda sepak bola. Sebagai pemain sepak bola tentu merasa sangat dianugerahi berkat. Nama adalah doa, dan Alhamdullilah, doa ayah saya itu terkabul,” ujar Gian Zola.

Gelandang Timnas Indonesia U-22, Gian Zola, berebut bola dengan Nur Hardianto saat sesi latihan di Lapangan SPH Karawaci, Banten, Selasa (7/3/2017). (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

Bicara soal namanya yang identik dengan legenda sepak bola Italia bertubuh mungil itu, tentu saja keterlibatan orang tua dalam karier sepak bolanya sangat besar. Seorang ayah yang memberikan nama seorang legenda sepak bola dunia, pasti menginginkan anak tersebut menjadi pemain sepak bola yang kelak juga bisa melegenda.

Namun, tampaknya anugerah dari Tuhan melalui doa sang ayah lebih besar dari yang bisa dibayangkan. Zola kecil memang tumbuh dengan menyukai sepak bola. Sang ayah, Budi Nugraha, bahkan pernah bercerita kepada Zola mengenai masa-masa kecil yang tampaknya menjadi petanda keberhasilan Zola pada saat ini.

“Saya menyukai sepak bola karena keinginan saya sendiri, tak ada paksaan dari orang tua. Ayah juga pernah bercerita bahwa sejak kecil saya senang menendang bola. Kata ayah, saya melakukannya dengan kaki kiri,” ujar pemain yang kini memang mengandalkan kaki kiri sebagai senjata mematikan di lapangan hijau itu.

Kegemaran Zola menendang bola dengan kaki kiri membuat Budi Nugraha pun mengajak Zola untuk melihat pertandingan sepak bola di Bandung. Saat itu sebuah pertandingan final turnamen sepak bola antar-SSB digelar di Bandung, di mana saat itu Zola melihat Febri Hariyadi bermain untuk SSB UNI Bandung yang bertanding di laga puncak itu. Zola pun mengaku ingin masuk SSB UNI sejak hari itu.

Saat itu Zola duduk di kelas 4 SD dan sang ayah menyambut baik keinginan anaknya yang ingin serius bermain sepak bola. Sang ayah yang juga pernah bermain untuk Persikab Kabupaten Bandung dan Persika Karawang itu memberikan dukungan penuh terhadap minat sang anak.

Gian Zola (Bola.com/Adreanus Titus)

3 dari 3 halaman

Persib Sudah, Manchester United Selanjutnya

Persib Sudah, Manchester United Selanjutnya

Bicara soal nama, satu hal yang mungkin luput dari Gian Zola adalah dirinya tidak mengidolakan Chelsea, klub yang pernah dibela Gianfranco Zola semasa aktif bermain. Rival Chelsea, Manchester United, justru menjadi klub yang diidolakan pemain berusia 18 tahun itu.

Hal tersebut yang membuatnya mengidolakan Paul Scholes, mantan gelandang Manchester United yang merupakan salah satu lulusan Class of 92, lulusan akademi Manchester United yang terkenal dengan kesuksesannya.

Ya, Gian Zola ternyata lebih mengidolakan Paul Scholes dan Lionel Messi, pemain berbeda tipe yang kerap melakukan serangan dari lini kedua. Permainan kedua pemain tersebut tampaknya memberi inspirasi terhadap permainan Zola.

Gelandang Timnas Indonesia U-22, Gian Zola, melakukan pendinginan usai mengikuti sesi latihan di Lapangan SPH Karawaci, Banten, Selasa (7/3/2017). (Bola.com/Vitalis Yogi Trisna)

“Scholes bermain sangat taktis dan sederhana. Ia merupakan salah satu pemain yang berpengaruh di lini tengah Manchester United dalam urusan aliran bola, umpan, dan tembakan jarak jauh. Kalau Messi adalah sosok pemain hebat yang tidak sombong dan secara teknik dribel dan penyelesaian akhir sangat luar biasa. Ituh yang menjadi inspirasi saya dalam bermain sepak bola,” ungkap Zola yang kelahiran 5 Agustus 1998 tersebut.

Mengidolakan Paul Scholes dan menjadi penggemar Manchester United telah mengungkap mimpi Zola sebagai pemain sepak bola. Merasa salah satu impiannya sudah terwujud bersama Persib Bandung, Zola tidak ragu untuk menyebut mimpi berikutnya yang ingin dia kejar, yaitu menjadi pemain Manchester United dan tampil di kancah Eropa.

“Waktu saya kecil dan berada di rumah kakek, saya pernah menuliskan bahwa saya ingin bermain di Manchester United dan di Persib. Alhamdullilah bermain di Persib sudah kesampaian. Sementara untuk Manchester baru di MUPC (Manchester United Premier Cup) saja,” kisah Zola.

“Cita-cita saya sejak kecil adalah bermain di Eropa dan mimpi itu masih ada. Zola akan terus berlatih dan berlatih, siapa tahu nanti ada kesempatan untuk ke sana,” tutupnya penuh keyakinan.