Berawal dari Kudus Menuju Pentas Bulutangkis Dunia

oleh Aditya Wicaksono diperbarui 07 Sep 2017, 18:35 WIB
Liem Swie King merupakan pahlawan bulu tangkis Indonesia yang berasal dari Kudus. (doc. Djarum Foundation)

Bola.com - Kudus mungkin dikenal sebagai satu di antara kota industri kretek terbesar di Indonesia. Namun, ada satu fenomena ketika banyak bintang bulutangkis mencuat dari kota tersebut.

Advertisement

Kudus terletak di provinsi Jawa Tengah, sekitar 51 kilometer dari ibukota provinsi, Semarang. Kota tersebut terkenal karena menjadi satu-satunya kota di pulau Jawa yang mengadopsi nama dari bahasa Arab, yaitu ‘Al-Quds’.

Perjuangan masyarakat Kudus sejak masa penjajahan mencerminkan sikap mereka yang tak pantang menyerah. Walaupun berasal dari kota yang memiliki luas 425,17 km per segi, Kudus membuktikan memiliki andil besar kepada bangsa Indonesia, khususnya lewat olahraga bulutangkis.

Tidak ada yang menyangka konektivitas antara bulutangkis dan Kota Kudus berawal dari sebuah pabrik kretek milik PT Djarum yang berlokasi di jalan Bitingan Lama No. 35. Kegemaran karyawan terhadap bulutangkis, membuat pabrik PT Djarum dijadikan tempat utama untuk bermain bulutangkis.

Kegemaran tersebut menular setelah masyarakat sekitar mulai ikut bermain. Hal itu membuat Robert Budi Hartono (CEO PT Djarum) mengubah sebuah brak (tempat pelintingan rokok) menjadi lapangan bulutangkis untuk umum pada 1970.

Seketika, kebiasaan bermain berubah menjadi berlatih. Proses tersebut memunculkan seorang calon bintang yang dikenal dengan nama Liem Swie King.

PB Djarum diresmikan pada 1974 di Kudus. Situasi tersebut membuat nama PB Djarum mencuat dan akhirnya didirikan di beberapa kota, yaitu Semarang (1976), Jakarta (1985), dan Surabaya (1986).

Liem Swie King bukanlah satu-satunya bintang yang lahir di PB Djarum. Beberapa pemain lainnya yang juga berasal dari PB Djarum adalah Alan Budikusuma, Ardy B. Wiranata, Hariyanto Arbi, Hastomo Arbi, Ivana Lie, Minarti Timur, hingga Kevin Sanjaya Sukamuljo.

Pada 2004, PB Djarum memulai pembangunan GOR Jati yang berlokasi di jalan Jati, Kudus. GOR tersebut memiliki luas 29.450 meter per segi. GOR Jati diresmikan pada 2006 dan dijadikan sebagai pemusatan latihan dan kegiatan PB Djarum.

Sebagai organisasi yang memiliki peran besar dalam dunia bulutangkis di Indonesia, PB Djarum memiliki komitmen untuk terus melatih dan menghasilkan bintang bulutangkis masa depan.

Hal tersebut tercermin dari kegiatan tahunan mereka, yaitu Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis. Kegiatan memiliki semangat untuk mencari bakat bulutangkis sejak usia dini dan melakukan proses pembibitan serta pembinaan agar memunculkan atlet bulutangkis kebanggaan Indonesia pada masa mendatang.

Kegiatan tersebut memicu animo positif dari masyarakat Indonesia, tidak hanya yang berasal dari pulau Jawa, tetapi juga dari seluruh daerah Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke.

Sejak 2015, peserta mencapai angka 4.000-an orang. Hal tersebut membuktikan bulutangkis masih menjadi olahraga favorit bagi masyarakat Indonesia.

Bagi para peserta, bulutangkis bisa menjadi jalur bagi mereka untuk mengenal dunia. Bulutangkis menjadi olahraga yang kerap mengharumkan nama Indonesia di pentas internasional dan akan menjadi kebanggaan apabila mereka bisa menjadi bagian dari sejarah tersebut.