Begini Kondisi Terakhir Choirul Huda Sebelum Melawan Semen Padang

oleh Gatot Susetyo diperbarui 17 Okt 2017, 10:45 WIB
Pelatih kiper Persela, Erick Ibrahim, mengungkapkan kondisi terakhir Choirul Huda sebelum laga Persela vs Semen Padang. (Bola.com/Nicklas Hanoatubun)

Bola.com, Lamongan - Banyak fakta yang belum terungkap soal bagaimana sebenarnya kondisi fisik almarhum Choirul Huda sebelum berdiri di bawah mistar Persela melawan Semen Padang, Minggu (15/10/2017).

Di antara anggota tim pelatih Laskar Jaka Tingkir, Erick Ibrahim yang paham betul kebugaran one man one club itu. Maklum, Erick Ibrahim adalah pelatih kiper Persela yang tiap hari melihat dan memantau langsung fisik para penjaga gawang.

"Di usia yang menginjak 38 tahun, kondisi fisik Choirul Huda saya lihat sangat prima. Ini tak lepas dari kedisiplinan dia menjaga badan. Secara mental dan fisik, dia dalam puncak kematangan sebagai kiper," ungkap Erick.

Advertisement

Kondisi yang dimiliki Choirul Huda sebelum meninggal akibat benturan pada laga kontra Semen Padang lalu, seperti dialami Erick Ibrahim saat masih aktif sebagai pemain.

"Di usia itu, seorang kiper memiliki segalanya. Mental, fisik, teknik, dan ketenangan di permainan. Ini yang saya alami waktu jadi kiper di usia seperti itu. Artinya, dari faktor tersebut, Choirul Huda masih sangat pantas untuk jadi kiper utama Persela," ujarnya.

Soal diparkirnya Choirul Huda pada beberapa pertandingan terakhir dan posisinya digantikan Ferdiansyah, mantan kiper BPD Jateng di era Galatama itu menyatakan hanya untuk rotasi saja.

"Ketika posisinya digantikan Ferdiansyah, bukan karena kondisi Choirul Huda jelek. Tapi, tim ini butuh rotasi untuk kompetisi yang sangat panjang. Ferdiansyah juga kaya pengalaman. Jadi, saya ingin mereka bersaing sehat untuk berdiri di bawah mistar," imbuhnya.

Penghargaan untuk Almarhum Choirul Huda

Bahkan, lanjut Erick Ibrahim, beberapa pekan terakhir motivasi Choirul Huda sangat besar saat latihan.

"Saya salut dengan semangatnya. Sebagai kiper yang tidak muda lagi, tapi motivasinya untuk bersaing luar biasa. Ini mungkin karena dia asli Lamongan sehingga dia merasa malu bila tim ini terpuruk di kompetisi," kata mantan pelatih kiper Persipura Jayapura itu.

Dari pengamatan Erick di lapangan, Choirul Huda bahkan menambah sendiri porsi latihan agar bisa merebut kembali slot kiper nomor satu di Persela.

"Selama saya jadi pemain, soal profesionalisme dan dedikasi terhadap tim, Choirul Huda menempati rangking teratas. Padahal dengan kemampuannya, dia bisa jadi pemain kaya bila bermain di klub-klub besar Indonesia. Tapi, ternyata dia tetap setia di Persela. Seharusnya semua pihak di Lamongan memberi penghargaan tertinggi untuk almarhum," jelasnya.

Bentuk penghargaan itu, menurut Erick Ibrahim bisa pemberian nama Stadion Choirul Huda untuk menggantikan Surajaya.

"Ini hanya ide saya pribadi. Berikutnya, terserah pejabat Pemkab Lamongan dan manajemen. Di Italia ada nama Stadion Giuseppe Meazza untuk mengabadikan nama si pemain. Tak ada salahnya, bila Persela pun melakukan hal serupa untuk almarhum Choirul Huda," harapnya.