Pemain Timnas Indonesia U-16 Kini Bisa Mengontrol Emosi

oleh Aditya Wany diperbarui 12 Agu 2018, 19:30 WIB
Duel Thailand vs Indonesia di final Piala AFF U-16 2018 di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, Sabtu (11/8/2018).

Bola.com, Sidoarjo - Berbagai cerita mengiringi pencapaian Timnas Indonesia U-16 menjadi juara Piala AFF U-16 2018. Satu di antaranya yang menjadi sorotan adalah emosi labil pemain.

Dia usia mereka yang masih remaja, pemain Timnas Indonesia U-16 beberapa kali terpancing provokasi dari lawan. Insiden terakhir yang cukup merugikan tim terjadi saat bertemu Vietnam di matchday ketiga penyisihan Grup A (2/8/2018).

Saat itu bek kanan Bagas Kaffa dan Vo Nguyen Hoang (pemain Vietnam) diusir wasit setelah berseteru di lapangan. Keduanya mendapat sanksi larangan bertandingan selama dua pertandingan.

Setelah duel itu, pemain Garuda Asia terlihat sudah bisa mengontrol emosi masing-masing. Tidak ada lagi friksi selama pertandingan di lapangan atau insiden memalukan yang bisa merugikan tim.

"Tugas pelatih selain mengajarkan aspek fisik, taktik, dan, teknik, adalah juga mengatur mental bagimana mereka menahan emosi. Saya sudah menunjukkan beberapa kali di turnamen, dan kami sempat menjadi tim fair play," kata Fakhri Husaini, pelatih Timnas Indonesia U-16.

Advertisement

Satu insiden perseteruan sempat terjadi di laga final Piala AFF U-16 di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, Sabtu malam (11/8/2018). Ketika itu pemain Timnas Indonesia U-16 terlibat friksi kecil dengan pemain Thailand.

Insiden bermula saat pemain sayap, M. Supriadi, berusaha melakukan penetrasi ke jantung pertahanan Thailand pada pertengahan babak pertama. Supriadi terlambat, bola berhasil dikuasai kiper Thailand, Anuchid Taweesri.

Namun, setelah itu Supri terjatuh menimpa tubuh Anuchid akibat didorong pemain belakang Thailand. Anuchid tidak terima dan melabrak Supriadi yang kebingungan dengan situasi yang baru dialaminya.

Rekan setim Supriadi, Bagus Kahfi, sempat terpancing dengan mendatangi dan menantang Anuchid. Di momen inilah, kapten David Maulana bisa menunjukkan jiwa kepemimpinannya dengan berusaha menenangkan rekan-rekannya.

"Insiden kartu merah Bagas sudah cukup menjadi bagian dari cara supaya mereka mengendalikan emosinya. Ini akan jadi pelajaran buat pemain. Mereka akan mendapat lawan dengan berbagai macam karakter. Mereka akan tahu ada provokasi dan intimidasi di lapangan," imbuh Fakhri.

Setelah itu, tidak ada lagi perseteruan yang terjadi antara pemain di kedua kubu. Permainan kasar atau provokasi verbal dari lawan bisa jadi masa lalu bagi Timnas Indonesia U-16.