Gempa Palu, Duka di Surga Paralayang Cross Country Indonesia

oleh Wiwig Prayugi diperbarui 02 Okt 2018, 21:30 WIB
Duka Paralayang Indonesia (Bola.com/Foto: ANTARA FOTO/INASGOC /Grafis: Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Paralayang Indonesia, di bawah PB FASI, masih terus melakukan komunikasi dengan tim penyelamat di Palu, Sulawesi Tengah. Tiga atlet masih belum ditemukan hingga Selasa (2/10/2018) siang WIB, sementara empat atlet dan tiga ofisial dinyatakan meninggal.

Pada saat peristiwa gempa, puluhan atlet menginap di hotel Roa Roa, untuk mengikuti kejuaraan bertajuk Palu Nomoni 2018. Ajang ini menggelar kejuaraan internasional paralayang, balap sepeda downhill, dan panjat tebing.

Advertisement

Namun, baru atlet paralayang yang tiba di Palu, karena perlombaan cross country sudah dimulai. Sementara atlet down hill dan panjat tebing belum berangkat.

"Jadi pada Jumat pagi sudah digelar lomba. Setelah salat Jumat, para atlet beristirahat karena ada waktu bebas. Sebagian besar atlet keluar hotel untuk jalan-jalan pada sore hari. Tapi sebagian ada yang istirahat di hotel," kata Wahyu Yuda, Ketua Paralayang Indonesia.

Saat sebagia atlet berjalan-jalan, gempa berkekuatan 7,4 magnitudo terjadi dan mengakibatkan tsunami. Tujuh atlet parayalang dan tiga ofisial terjebak di hotel Roa Roa yang ambruk rata dengan tanah.

"Kami kehilangan kontak dengan atlet dan ofisial sejak Jumat sore. Baru pada Sabtu kami mengetahui ada yang terjebak di hotel," katanya.

Hingga Selasa (2/10/2018), pagi, sudah empat atlet dan tiga ofisial yang ditemukan tewas. Mereka adalah Glenn Ardi Kurniawan, Franky Kowaas, Petra Mandagi, dan Glenn Montoalu. Tiga ofisial adalah Rahma Sauma, Lauren Kowaas, dan Triat.

Ada tiga atlet paralayang yang masih belum dievakuasi hingga Selasa siang, yakni Lee Dong-jin asal Korea Selatan, Reza Kambey, dan Serda Fahmi. PB FASI dan Kemenpora berharap dengan tambahan peralatan pada hari ini, mereka bisa ditemukan.

 

2 dari 2 halaman

Duka di Venue Terbaik Cross Country

Atlet paralayang putra Indonesia, Joni Efendi saat mengikuti nomor cross county di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat, Rabu (29/8). Indonesia mendapatkan dua perunggu di nomor croos country beregu putra dan putri. (Merdeka.com/Arie Basuki)

Palu merupakan satu dari sekian banyak venue paralayang yang digemari atlet, baik Indonesia maupun dunia. Menurut Wahyu, Palu merupakan venue terbaik di Indonesia.

Satu tempat terbaik untuk melakukan paralayang ada di Matantimali yang terletak sekitar dua kilometer dari Desa Wayu, Kecamatan Kinovaro, Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah atau sekitar 30 kilometer dari Kota Palu.

Matantimali juga merupakan salah satu lokasi paralayang terbaik di dunia. Angin akan berembus ke lereng gunung yang menyebabkan turbulensi. Turbulensi ini diperlukan untuk mendapatkan ketinggian ketika akan bermain paralayang. 

"Dari semua atlet paralayang, baik Indonesia maupun luar negeri, memang memuji lokasi di Palu. Palu jadi venue terbaik untuk lintas alam, akurasi dan akrobatik dan sepanjang tahun dan kapanpun bisa digelar kejuaraan di sini," ucapnya.

Paralayang juga menjadi cabang olahraga andalan bagi Indonesia. Pada Asian Games 2018, Indonesia menjadi juara umum dengan mengoleksi dua emas, satu perak, dan tiga perunggu.

Berita Terkait