8 Besar Liga 2: Permainan Terbuka Berujung Kegagalan Persiraja ke Semifinal

oleh Aning Jati diperbarui 21 Nov 2018, 19:55 WIB
Logo Liga 2 Indonesia (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Sleman - Persiraja Banda Aceh harus mengubur dalam-dalam impian promosi ke Liga 1 musim depan seusai hasil negatif di partai terakhir babak 8 besar Grup B Liga 2 2018.

Tim berjulukan Lantak Laju ini dicukur lima gol tanpa balas oleh tuan rumah PSS Sleman di Stadion Maguwoharjo, Sleman, Rabu (21/11/2018).

Advertisement

Padahal, dalam laga ini, Persiraja hanya butuh hasil imbang saja untuk dapat melaju ke semifinal. Sebelum pertandingan, Persiraja memimpin klasemen Grup B dengan poin sembilan.

Pada akhirnya Azka Fauzi dkk. tak mampu menahan kekuatan PSS dengan hattrick Cristian Gonzales serta masing-masing gol dari Dave Mustaine dan Aditya Putra Dewa.

Setelah kalah 0-5 dari PSS, di pertandingan lain semakin memastikan Persiraja harus lempar handuk. Yakni secara mengejutkan, Persita Tangerang mampu mengalahkan tuan rumah Madura FC dengan skor 2-1.

Alhasil, di klasemen akhir Grup B, Persiraja berada di peringkat ketiga dengan poin sembilan. Sementara tiket semifinal diraih PSS dan Persita, yang sama-sama mengoleksi poin 10.

"Skor besar hari ini tidak mencerminkan permainan kami. PSS lebih bisa dalam menyelesaikan peluang. Kemudian, kenapa kami kebobolan banyak gol, karena kami bermain terbuka sepanjang pertandingan," ujar pelatih Persiraja, Akhyar Ilyas.

Ia mengaku tim asuhannya sudah berjuang sekuat tenaga sepanjang musim ini. Akhyar Ilyas juga mengklaim Persiraja tidak bergantung kepada tim lain termasuk mengharapkan Madura dapat mengalahkan Persita pada pertandingan terakhir.

Kenyataannya, Madura FC untuk kali pertama kalah di kandang sendiri dari Persita, yang berimbas menyingkirkan Persiraja.

"Kami ambil positifnya saja, rezekinya sampai di sini, di babak 8 besar. Kami tahu Madura tidak pernah kalah di kandang sendiri. Tapi, itulah sepak bola Indonesia. Maka dari itu kami berjuang sendiri," timbuh mantan pemain Persija Jakarta itu. (Vincentius Atmaja)