Mengukur Peluang Wolverhampton Jadi Juara Liga Europa Layaknya Chelsea dan Manchester United

oleh Ario Yosia diperbarui 27 Agu 2019, 12:00 WIB
Para pemain Wolverhampton merayakan gol yang dicetak Ruben Neves ke gawang Manchester United pada laga Premier League di Stadion Molineux, Wolverhampton, Senin (19/8). Kedua klub bermain imbang 1-1. (AFP/Paul Ellis)

Bola.com, Jakarta - Tak pernah ada yang membayangkan Wolverhampton Wanderers bakal jadi kekuatan baru di pentas Premier League. Di tangan manajer asal Portugal, Nuno Espirito Santo, Wolves menjelma jadi klub yang menakutkan bagi tim-tim pelanggan zona big four.

"Saya pikir perjalanan itu sesuatu yang istimewa, terlalu banyak pertandingan, terlalu banyak perjalanan, tetapi kami harus beradaptasi."

Advertisement

Beberapa menit setelah penalti dramatisnya menyelamatkan satu poin bagi Wolves dalam hasil imbang 1-1 melawan Burnley, Raul Jimenez berbicara tentang tuntutan yang dihadapi timnya musim ini sebagai hasil dari partisipasi mereka di Liga Eropa.

Nuno Espirito Santo memulai kampanye kompetitif Wolves  pada 25 Juli di babak kualifikasi kedua Liga Europa dan telah mencatat lebih dari 7.500 mil perjalanan udara di kompetisi kasta kedua Benua Biru, selain mengunjungi China di tur pramusim.

Klub yang nangkring di posisi tujuh klasemen akhir Premier League musim lalu masih belum dapat jaminan bisa menembus babak grup. Kans mereka cukup besar usai menggebuk Torino 3-2 di leg pertama play-off. Pada Kamis dini hari mendatang Wolverhampton akan bertindak sebagai tuan rumah.

Berlaga di pentas Eropa dalam rentang 39 tahun terakhir pengalaman spesial bagi klub berlogo Srigala itu. Burnley yang menjadi lawan mereka akhir pekan lalu, pernah merasakan kerusakan di level domestik ketika menghadapi situasi sama.

Sean Dyche cs. finis di posisi ke-7 di Liga Inggris 2017-2018, tetapi kehilangan empat dari lima pertandingan pembukaan musim lalu. Sempat terseok di tiga terbawah pada awal Januari dan berakhir dengan 14 poin lebih sedikit daripada yang mereka capai 12 bulan sebelumnya.

 

2 dari 4 halaman

Momok Burnley Musim Lalu

Gelandang Manchester United, Jesse Lingard, berusaha melewati bek Wolverhampton, Ryan Bennett, pada laga Premier League di Stadion Molineux, Wolverhampton, Senin (19/8). Kedua klub bermain imbang 1-1. (AFP/Paul Ellis)

Bagaimana Wolverhampton Wanderers mengatasi tekanan laga pada Kamis-Minggu?

Pengalaman Burnley musim lalu meski tidak masuk ke babak grup (mereka tersingkir di babak play-off oleh Olympiakos) menjadi peringatan nyata bagi Wolves.

Sejarah mencatat Inggris telah menikmati kesuksesan di level persaingan Liga Europa. Premier League telah memasok lima finalis dalam tujuh tahun terakhir, dan Chelsea (2 kali) dan Manchester United sukses jadi jawara.

Hull City terdegradasi dari Liga Inggris setelah berkompetisi di Kualifikasi Liga Europa pada 2014-2015. Sementara itu, Everton pada 2014-2015 mengalami defisit 25 poin dibandingkan musim sebelumnya.

Wolverhampton menyadari angka-angka ini dan telah menyiapkan ilmu olahraga dan teknologi canggih untuk mengatasi problem kelelahan.

Para pemain mereka mengudara sekitar satu jam setelah kemenangan Kamis di Turin, ketika semestinya latihan persiapan melawan Burnley dilakukan.

Selama penerbangan tiga jam kembali ke West Midlands, masing-masing pemain dilengkapi dengan serangkaian bantalan dan elektroda untuk merangsang kelompok otot utama dan mengurangi risiko kekalahan saat melawan Clarets. Itu cukup berhasil.

Enam puluh dua jam setelah kembali dari Italia, dan meskipun kinerja yang jauh dari dipoles dalam apa pertandingan ketiga mereka dalam seminggu, Wolves memiliki energi yang cukup untuk menyelamatkan satu poin berkat tendangan penalti Jimenez dan memperpanjang awal musim tak terkalahkan mereka untuk kampanye.

3 dari 4 halaman

Mengatasi Masalah Kebugaran

Gelandang Wolverhampton Wanderers Ruben Neves dibidik MU dan Manchester City. (AFP/Geoff Caddick)

Raul Jimenez berbicara tentang masalah fisik yang muncul dari Liga Europa. Ia salah satu mantan pemain yang kenyang pengalaman berkiprah di kompetisi satu ini.

"Tahap awal Liga Eropa adalah mimpi buruk," mantan bek Inggris dan Manchester City Micah Richards mengatakan kepada BBC Radio 5 Live.

"Saya pernah ke tempat-tempat yang bahkan saya tidak tahu cara mengeja nama. Sebagai pemain, Anda ingin bermain di pertandingan besar jadi jika Anda bermain melawan seseorang yang belum pernah Anda dengar, saya tidak akan mengatakan standar Anda turun, tetapi Anda pasti tidak pernah mengharapkannya selayaknya sebuah big match. "

Namun realitanya Wolves harus tampil di Liga Europa.

Setelah menghempaskan klub Irlandia Utara, Pyunik Yerevan, 48 penggemar Wolves yang melakukan perjalanan putaran 6.000 mil pertengahan minggu ke ibu kota Armenia dan kemudian berlanjut ke Torino untuk memastikan satu tiket ke babak grup.

Pemain sayap Spanyol, Adama Traore, tiba di bandara untuk penerbangan ke Armenia tanpa paspor dan melewatkan leg pertama. Itu tidak penting karena Wolves menang 4-0 (agregat 8-0).

Satu penggemar, pendukung berat Steve Bishop, hanya bisa melihat 18 menit terakhir pertandingan di Armenia setelah penerbangannya ditunda.

Terlepas dari hal ini, musim ini jadi spesial bagi Wolves. Mereka mengarungi rintangan untuk naik kelas menjadi klub elite.

"Kami ingin merangkul trofi Liga Eropa dan bersaing di semua kompetisi di mana kami berada," kata Nuno.

4 dari 4 halaman

Bermodal 21 Pemain Saja

Striker Liverpool, Divock Origi, menggiring bola saat melawan Wolverhampton pada laga Liga Inggris di Stadion Anfield, Liverpool, Minggu (12/5). Liverpool menang 2-0 atas Wolves. (AFP/Paul Ellis)

Wolverhampton tidak memiliki kedalaman skuad dibanding rival mereka di Liga Inggris macam, Arsenal dan Manchester United, yang sudah dipastikan lolos ke babak grup Liga Europa.

Nuno menggunakan hanya 18 pemain untuk mengaransi posisi ketujuh di Premier League musim lalu. Pilar andalan mereka Ryan Bennett, Willy Boly, Coady, Matt Doherty, Jimenez, Jonny, Joao Moutinho, Ruben Neves, dan Rui Patricio, bermain lebih dari 30 pertandingan selama semusim.

Musim ini mereka punya modal 21 orang pemain. Jumlah yang terhitung minimalis untuk besaing di empat ajang sekaligus (Liga Inggris, Piala Liga, Piala FA, dan Liga Europa)

"Jelas skuad kecil yang kami miliki memunculkan keuntungan. Hubungan personal antarsatu sama lain kuat. Tak banyak masalah muncul, karena satu sama lain jarang duduk di bangku cadangan," kata Steve Burt, penggemar berat Wolverhampton saat diwawancarai BBC.

"Tim medis dan sport science benar-benar hebat dan itu membantu kami menghindari cedera karena kami menjalani pelatihan dengan cara yang benar.

"Ada sebuah film dokumenter televisi yang fantastis tentang tur Wolves ke China pada musim panas dan bagaimana mereka menganalisis keringat yang hilang setiap pemain, jadi ketika mereka keluar dari lapangan, setiap pemain memiliki diet sendiri atau minuman untuk mengisi kembali.

"Ini benar-benar ke detail terbaik. DNA Nuno berjalan di seluruh klub."

Salah satu faktor yang mungkin membantu mereka adalah fakta bahwa skuat mereka ditaburi pemain dengan pengalaman Eropa: Patricio, Boly, Jonny, Moutinho, Neves, Leander Dendoncker, Jimenez dan Diogo Jota semuanya telah bermain di kompetisi kontinental satu ini sebelumnya.

Hal yang sama tidak dimiliki Burnley tahun lalu.

Sumber: BBC