IOC Tanggung Kerugian Batalnya Olimpiade Tokyo 2020 Mencapai Rp11,8 Triliun

oleh Marco Tampubolon diperbarui 15 Mei 2020, 23:30 WIB
Presiden International Olympic Committee (IOC), Thomas Bach (kiri) memberikan bendra Olimpiade kepada Gubernur Tokyo, Yuriko Koike pada penutupan Olimpiade Rio 2016 di Stadion Maracana, Rio de Janeiro, (22/8/2016). (AFP/Eric Feferberg)

Jakarta - Komite Olimpiade Internasional (IOC) bakal menanggung biaya yang muncul akibat penundaan Olimpiade Tokyo 2020. Pesta olahraga multieven empat tahunan ini terpaksa ditunda pelaksanannya akibat pandemi virus corona COVID-19.

Seperti diketahui, Olimpiade Tokyo 2020 seharusnya akan berlangsung mulai Juli mendatang. Namun situasi pandemi virus Corona Covid-19 yang memburuk di Jepang memaksa IOC dan menundanya hingga tahun depan.

Advertisement

Ketua IOC, Thomas Bach mengatakan, pihaknya akan menanggung sebagian biaya yang ditimbulkan akibat penundaan itu. Seperti dilansir CNA, pihaknya sudah menganggarkan dana sebesar 800 juta USD atau setara Rp 11,892 Triliun.

"Kami akan mengantisipasi biaya tambahan sebesar 800 juta USD sebagai bagian dan tanggung jawab kami sebagai organisasi menyusul penundaan Olimpiade Tokyo 2020," kata Bach saat menutup rapat dewan eksekutif IOC.

Bach merinci, sebanyak 650 juta USD akan disalurkan kepada panitia Olimpiade Tokyo 2020. Sementara 150 juta USD lainnya diberikan untuk mendukung federasi internasional dan Komite Olimpiade Nasional (NOC).

 

Video

2 dari 3 halaman

Di Luar Biaya Penyelenggaraan

Pekerja berjalan di kapal tongkang yang membawa Cincin Olimpiade di Distrik Odaiba, Tokyo, Jepang, Jumat (17/1/2020). Cincin Olimpiade dengan tinggi 15,3 meter dan panjang 32,6 meter tersebut akan berada di sana hingga Olimpiade 2020 berakhir. (AP Photo/Jae C. Hong)

Meski demikian, yang disampaikan Bach belum termasuk biaya yang dikeluarkan oleh panitia Olimpiade Tokyo 2020 yang kini harus menanggung keterlambatan penyelenggaraan hajatan akbar olahraga itu hingga 12 bulan.

Pandemi virus corona COVID-19 memang tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat. Penyebaran virus baru ini juga telah mengganggu berbagai sendi kehidupan masyarakat, termasuk olahraga. Bahkan sejumlah ahli berpendapat, bahwa Olimpiade Tokyo 2020 belum bisa digelar tahun depan bila pandemi tidak berakhir dan vaksin penangkalnya juga belum ditemukan.

 

3 dari 3 halaman

Enggan Berspekulasi

Bach menolak mengomentari hal ini. Sebaliknya, dia meminta seluruh pihak bekerjasama untuk mencari cara menyukseskan Olimpiade tahun depan.

"Saat ini kami bekerja dengan penuh keyakinan akan kesuksesan Tokyo 2020 di tahun 2021 dan menggelar acara ini dalam lingkungan yaang aman bagi semua peserta," kata Thomas Bach. "Kita masih setahun dua bulan lagi dari pembukaan Olimpiade yang ditunda ini. Jadi sebaiknya jangan terlalu berspekulasi mengenai perkembangan di masa depan," beber Bach.

Sejauh ini, pandemi virus corona COVID-19 telah menjangkiti lebih dari 4 juta orang di dunia dan merenggut hampir 300 jiwa. Sebanyak 90 vaksin sudah dikembangkan di mana 8 di antaranya sudah masuk dalam uji klinis. Meski demikian, ahli berpendapat bahwa dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk merampungkan proses itu dan mungkin saja tidak berhasil sama sekali.

Sumber asli: CNA

Disadur dari: Liputan 6 (Marco Tampubolon, published 15/5/2020)