Wawancara Bayu Pradana: Perjalanan Karier, Inspirasi, dan Rencana Setelah Gantung Sepatu

oleh Vincentius Atmaja diperbarui 20 Agu 2020, 09:45 WIB
Wawancara Eksklusif - Bayu Pradana (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Semarang - Jawa Tengah seperti tidak pernah absen melahirkan pesepak bola penuh talenta. Satu di antaranya adalah Bayu Pradana Andriatmo, yang kini menjadi pemain andalan klub Barito Putera.

Bayu Pradana, yang lahir di Salatiga, 19 April 1991, memiliki karier cukup gemilang. Jebolan Diklat Salatiga yang namanya melambung bersama sejumlah klub besar hingga menjadi langganan di Timnas Indonesia.

Advertisement

Persis Solo pernah menjadi klub profesional yang ia bela pada awal kariernya, tepatnya pada 2010. Lantas kariernya meningkat dengan bergabung bersama tim seperti Persiba Balikpapan, Mitra Kukar, hingga sekarang Barito Putera.

Bayu Pradana kini menjadi pemain pilar tim Laskar Antasari, sejak direkrut pada awal musim 2019 lalu. Kepiawaiannya sebagai gelandang, membuatnya punya peran cukup vital sebagai jenderal lapangan tengah.

Level Timnas Indonesia sudah disentuhnya sejak bergabung di tim U-23. Ia kemudian naik tim Merah-putih senior sejak 2016. Sampai terakhir kali membela Timnas Indonesia di ajang Kualifikasi Piala Dunia 2022.

Bola.com berkesempatan mewawancarai Bayu Pradana yang bercerita mengenai sepak terjangnya bermain sepak bola. Ia juga mengenang perjalanannya di Timnas Indonesia, hingga sosok legenda sepak bola yang menjadi inspirasinya.

Video

2 dari 3 halaman

Keputusan dan Perjalanan Menjadi Pesepak Bola

Aksi Bayu Pradana (merah)dalam sebuah laga amal di Karanganyar belum lama ini. (Bola.com/Vincentius Atmaja)

Apa kesibukan Anda selama kompetisi terhenti akibat pandemi COVID-19?

Saya berada di rumah di Salatiga, tidak ada aktivitas selain kumpul dengan keluarga. Satu hal yang pasti menikmati waktu kumpul dengan keluarga, karena bisa dibilang ini waktu terlalu lama untuk rehatnya kompetisi. Biasanya libur kompetisi hanya satu sampai dua bulan.

Selain itu, saya juga menjaga kondisi dengan latihan sendiri dan memberikan ilmu kepada adik-adik di akademi. Selain itu ada undangan meramaikan laga amal. Saya bermain bersama Septian David Maulana.

Memang menjadi kebutuhan bagi seorang pemain, entah itu ada pertandingan atau tidak, untuk tetap menjaga kondisi dengan berlatih.

Bagaimana perjalanan karier Anda sebagai pesepak bola, termasuk usia dini?

Awalnya saya dari kampung. Jadi waktu usia SD sampai SMP sering main di kampung. Kemudian masuk SMA di Diklat Salatiga. Setelah lulus saya bermain di Persepar Palangkaraya. Itu jadi klub profesional pertama saya di Divisi I.

Setelah itu saya ke Persis Solo, kemudian ke Persipasi Bekasi, kembali lagi ke Persepar Kalteng Putra. Selanjutnya ke Persiba Balikpapan dan di Mitra Kukar hampir empat tahun. Sekarang saya bermain untuk Barito Putera.

Dorongan atau motivasi apa yang membuat Anda untuk menekuni dunia sepak bola?

Orang tua saya dari dulu tidak memaksa harus begini atau begitu. Selama yang saya lakukan positif, orang tua mendukung, termasuk bidang yang saya tekuni, yakni sepak bola.

Takut tidak mendapatkan tim, pernah orang tua meminta saya jadi polisi. Entah kenapa, mungkin sepak bola jadi jalur saya. Tetap fokus dan yakin kepada diri sendiri menjadi pemain sepak bola sampai sekarang.

Apakah Aanda memiliki sosok yang menjadi inspirasi dalam menekuni sepak bola? Apa alasannya?

Inspirasi saya waktu kecil memang ingin jadi pemain sepak bola, dan saya sering melihat televisi. Kalau pemain idola saya adalah Bima Sakti. Beliau yang menginspirasi saya, karena pernah juga satu tim bahkan satu kamar.

Beliau sosok yang bisa dikatakan sebagai panutan. Mau di lapangan atau luar lapangan menjadi panutan bagi pemain yang lebih muda.

3 dari 3 halaman

Pengalaman Membela Timnas Indonesia

Gelandang Timnas Indonesia, Bayu Pradana, mengamati rekannya saat melawan Thailand pada laga Piala AFF 2018 di Stadion Rajamangala, Bangkok, Sabtu (17/11). Thailand menang 4-2 dari Indonesia. (Bola.com/M. Iqbal Ichsan)

Bagaimana dengan cerita pengalaman Anda saat ikut dipanggil Timnas Indonesia?

Pertama kali dipanggil Timnas Indonesia saat kelompok usia, kalau tidak salah U-20. Selalu ikut seleksi, tapi tidak pernah terbawa. Pelatihnya ada coach Aji Santoso, Widodo C Putro, dan Liestiadi.

Pernah juga SEA Games, pelatihnya coach Rahmad Darmawan, ikut seleksi tapi lagi-lagi tidak terbawa saat kejuaraan.

Sampai akhirnya kesempatan datang sekaligus debut saya di Timnas Indonesia saat melawan Malaysia di Solo pada 2016. Ketika itu kami menang 3-0, bangga sekali apalagi main di Solo, istri saya orang Solo, dan saya juga pernah main di Persis juga.

Adakah laga di Timnas Indonesia yang paling Anda kenang?

Pertandingan debut saya itu yang paling saya kenang. Kemudian bisa langsung tampil di Piala AFF 2016 bahkan sampai final. Mengingat posisi lini tengah banyak pemain yang sudah jadi langganan Timnas Indonsia, alhamdulillah saya bisa main. Itu hal yang luar biasa.

Target atau cita-cita apa yang ingin Anda raih bersama Timnas Indonesia maupun di klub?

Cita-cita pasti ada, saya ingin merasakan juara. Saya masih punya cita-cita membawa tim saya juara, termasuk bersama Timnas Indonesia untuk menjuarai Piala AFF.

Begitu juga dengan di level klub, saya ingin meraih sesuatu bersama tim yang saya bela. Seperti saat ikut tampil dengan Mitra Kukar menjuarai Piala Jenderal Sudirman 2015.

Apakah sudah ada rencana setelah nanti Anda pensiun dari sepak bola?

Setelah pensiun, saya belum tahu ke depannya. Mulai sekarang mulai berpikir untuk sekolah kepelatihan. Setidaknya bisa jadi pegangan dulu, entah nanti akhirnya jadi pelatih atau tidak, biar mengalir saja.

Berita Terkait