Marcus Rashford Baper Berat Jadi Korban Ejekan Rasis usai Manchester United Tumbang di Final Liga Europa

oleh Ario Yosia diperbarui 27 Mei 2021, 17:10 WIB
Marcus Rashford. Dengan meraih poin 5, adalah pemain terburuk Manchester United di laga ini. Ia gagal memanfaatkan sebuah peluang emas untuk membawa Manchester United unggul 2-1. Pengambilan keputusannya juga kadang tidak akurat. (AP/Kacper Pempel/Pool)

Bola.com, Jakarta - Kesabaran Marcus Rashford ada batasnya. Ia menumpahkan kekesalannya usai jadi objek ejekan berbau rasis di media sosial usai laga final Liga Europa antara Manchester United Vs Villareal.

Striker Manchester United itu mengatakan dia telah dikirimi sekitar 70 penghinaan rasial setelah kekalahan timnya final Liga Europa.

Advertisement

Tim asuhan Ole Gunnar Solskjaer ditahan 1-1 di Gdansk oleh underdog Villarreal, yang akhirnya menang 11-10 melalui adu penalti setelah tendangan penalti kiper David De Gea diselamatkan.

Rashford menghadapi media setelah pertandingan dan menerima semburan pelecehan rasis ketika pemain depan United itu membuka teleponnya.

"Setidaknya 70 penghinaan rasial di akun sosial saya dihitung sejauh ini," tulis penyerang United itu di Twitter.

"Bagi mereka yang berusaha membuat saya merasa lebih buruk dari yang sudah saya lakukan, semoga kalian dinaungi keberuntungan .

"Saya marah karena salah satu pelaku yang meninggalkan gunung emoji monyet di Direct Message ke saya. Ia adalah seorang guru matematika dengan profil terbuka. Dia mengajar anak-anak! Dan tahu bahwa dia dapat dengan bebas melakukan pelecehan rasial tanpa konsekuensi ..."

Rashford juga mengirim emoji jempol ke orang-orang yang menghinanya: "Kamu pantas mendapatkannya, kamu mengerikan."

Video

2 dari 2 halaman

Sosok Panutan yang Kerap Dibully

Aksi Marcus Rashford saat MU kalahkan Granada pada leg pertama Liga Europa (Cristina Quicler/AFP)

Marcus Rashford sosok yang kerap jadi korban ujaran kebencian berbau rasisme. Sebagai pemain berkulit hitam ia sering dibully usai timnya kalah.

Rashford mendapat pelecehan, usai Manchester United ditahan imbang Arsenal di Emirates Stadium, Minggu (31/1/2021) silam.

Rashford kala itu menyikapinya dengan dewasa. Lewat pernyataannya di media sosial, ia mengaku malah lebih bangga menjadi warga kulit hitam.

"Saya seorang pria kulit hitam dan saya hidup setiap hari dengan bangga bahwa saya demikian," katanya di Twitter.

"Tidak seorang pun, atau tidak seorang pun yang berkomentar, yang akan membuat saya merasa berbeda. Maaf jika Anda mencari reaksi keras, Anda tidak akan mendapatkannya di sini."

"Saya tidak membagikan tangkapan layarnya (bukti serangan rasialnya). Tindakan itu tidak bertanggung jawab, dan seperti yang dapat Anda bayangkan, tidak ada yang asli di dalamnya."

"Saya memiliki anak-anak cantik dari semua warna yang mengikuti saya. Mereka tidak perlu membacanya. Warna-warna indah yang seharusnya dirayakan," jelasnya.

Sebagai pesepak bola, Rashford padahal banyak berkontribusi pada penyelesaian masalah sosial di sekitarnya. Pemain 24 tahun itu memerangi kelaparan anak-anak di Inggris selama pandemi virus corona. Berkali-kali ia melobi pemerintah Inggris agar tak menelantarakan anak-anak kelaparan, yang membuatnya diganjar gelar bangsawan oleh kerajaan.

Sumber: Sportsmole