Kenangan Lukas Tumbuan Membawa Jabar Raih Emas Sepak Bola PON 2016: Dipuji Fandi Ahmad, Prihatin Dulu Sebelum Juara

oleh Abdi Satria diperbarui 28 Jul 2021, 05:00 WIB
Lukas Tumbuan lebih dikenal sebagai pelatih bertangan dingin yang melahirkan sejumlah pemain papan atas di kompetisi kasta tertinggi Tanah Air. Lukas hadir dalam channel YouTube Omah Balbalan. (Bola.com/Abdi Satria)

Bola.com, Jakarta - Lukas Tumbuan jadi sosok penting dibalik keberhasilan Jawa Barat meraih medali emas cabang sepak bola di PON 2016.

Berkat keras meracik strategi serta menjaga mental pemainnya, Abdul Aziz dan kawan-kawan mengalahkan Sulawesi Selatan via drama adu penalti dengan skor 5-4 di Stadion Si Jalak Harupat, Kabupaten Bandung, 28 September 2016.

Advertisement

Dalam channel Youtube Simamaung, Lukas mengenang perjalanan tim asuhannya menuju podium juara PON 2016. Menurut Lukas, dirinya mulai yakin tim asuhannya meraih sukses setelah melakoni ujicoba di Singapura.

Membawa sejumlah nama yang saat ini familier di kompetisi Indonesia seperti Abdul Aziz, Febri Hariyadi, Erwin Ramdani dan Gian Zola Nugraha, tim asuhannya berhasil mengalahkan Timnas U-23 Singapura.

Usai pertandingan, legenda sepak bola Singapura, Fandi Ahmad yang banyak membantu mereka selama uji coba tanpa sungkan memuji penampilan tim asuhan Lukas.

"Saya berterima kasih kepada Fandi atas bantuannya kepada kami selama di Singapura. Ia juga turut menyemangati kami kala itu dengan mengutarakan keyakinan dirinya Jabar akan meraih emas di PON 2016," kenang Lukas.

Lukas juga memuji mental pemainnya tak pernah mengeluh meski fasilitas selama di Singapura terbilang minim.

"Kami menginap di youth hostel. Satu kamar bisa menampung 6-8 pemain. Pendingin udara di kamar pun baru dioperasikan mulai jam enam sore sampai pagi. Tapi, anak-anak tetap bersemangat dan tak pernah mengeluh," kata Lukas Tumbuan.

Video

2 dari 3 halaman

Medali Emas

Pemain Sulawesi Selatan, Adi Setiawan, berusaha melewati hadangan pemain Jawa Barat pada laga final PON XIX di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung, Rabu (28/9/2016). (Dok Bola.com)

Di PON 2016, Jabar memang melenggang mulus sampai ke partai puncak menghadapi Sulsel. Jelang laga final inilah, Lukas mengaku sempat ketar-ketir karena timnya diadang sejumlah kendala.

Mereka tak memiliki banyak waktu untuk recovery karena setelah bertanding melawan Papua di semifinal mereka bergegas ke Soreang. Mereka tiba di hotel tengah malam dan baru masuk kamar, 27 September jam 2.30 dinihari WIB.

"Panpel pun tiba-tiba melakukan pergantian wasit yang memimpin partai final. Tak hanya itu, materi pemain Sulsel pun tak sama ketika kami mengalahkan mereka di 8 Besar. Saya akui meski berhasil meraih emas, penampilan Jabar di laga puncak tak sebaik sebelumnya," kata Lukas.

3 dari 3 halaman

Jadi Instruktur Pelatih

Lukas Tumbuan menghabiskan waktunya dengan menjadi instruktur pada sejumlah kursus kepelatihan lisensi D Nasional dan C Diploma PSSI/AFC. (Bola.com/Abdi Satria)

Belakangan, Lukas Tumbuan menghabiskan waktunya dengan menjadi instruktur pada sejumlah kursus kepelatihan lisensi D Nasional dan C Diploma PSSI/AFC. Ia mengaku senang bisa berbagi ilmu dengan para peserta.

"Sebagai instruktur, saya harus lebih sabar dan detail memberikan ilmu kepada peserta. Peran pelatih sangat vital untuk pembinaan yang bertujuan prestasi pemain di masa depan," ungkap Lukas.

Sebagai instrukur, Lukas punya pandangan sedikit berbeda terkait kebiasaan dan menu makanan. Seperti merokok dan meminum minuman beralkohol misalnya.

"Merokok sebaiknya dilarang. Tapi, ada juga pemain yang seperti itu tapi tetap total di lapangan. Begitu pun dengan menenggak minuman beralkohol. Yang penting sang pemain bisa menjaga kondisinya," terang Lukas.

Faktor mental bertanding seorang pemain tampaknya jadi kriteria utama Lukas dalam menilai. Ia menegaskan, meski memiliki bakat dan talenta bagus, kalau merasa cepat puas, percuma saja.

"Saat ini banyak pemain seperti itu. Hebat dan mendapat banyak pujian di level junior tapi tak berkembang di senior. Apalagi di era maraknya media sosial seperti sekarang. Jadi kembali lagi ke mental pemain itu sendiri," pungkas Lukas.

Berita Terkait