Kenangan Aji Santoso di Stadion Tambaksari: Semua Lawan Takut Menghadapi Persebaya

oleh Aditya Wany diperbarui 08 Agu 2021, 15:30 WIB
LEGENDARIS - Banyak pesepak bola legendaris dari Surabaya ditempa di Stadion Gelora 10 November, Tambaksari, Surabaya. (Bola.com/Zaidan Nazarul)

Bola.com, Surabaya - Stadion Gelora 10 November, Surabaya, merupakan tempat yang memiliki nilai historis tinggi bagi Persebaya Surabaya. Klub berjulukan Bajul Ijo itu juga telah kembali menggunakannya sebagai tempat latihan mulai April lalu.

Sebelumnya, Persebaya Surabaya terpaksa berpindah beberapa tempat latihan karena stadion yang disebut dengan istilah Tambaksari itu dalam kondisi kurang layak. Renovasi pun sudah dilakukan dan kini bisa dimanfaatkan oleh Rachmat Irianto dkk.

Advertisement

Pelatih Persebaya, Aji Santoso, merupakan satu di antara orang yang memiliki banyak kenangan manis di Stadion Tambaksari. Jangan lupa, dia pernah berseragam Persebaya selama empat musim menjadi bagian integral tim pada 1995 hingga 1999.

"Saya sudah mulai ujung sampai ujung (stadion), tak rijiki kabeh iki (saya bersihkan semua ini)," ujar Aji Santoso diiringi tawa.

Pernyataan itu menggambarkan betapa pelatih asli Malang itu memahami seluk beluk Stadion Tambaksari

"Banyak sekali kenangan di sini. Ketika 1997, kami menjadi juara. Siapa pun yang main di Tambaksari ini sudah keder duluan. Pertama karena lapangan dan stadionnya cukup angker buat lawan," ungkap pelatih Persebaya Surabaya itu.

Video

2 dari 2 halaman

Momen Manis

Yusuf Ekodono (jongkok tengah) bersama rekan Persebaya pada 1997, termasuk Carlos de Mello dan Jacksen F. Tiago, saat menghadapi klub Korea Selatan dalam turnamen segitiga di Surabaya. (Bola.com/Istimewa/Fahrizal Arnas)

Momen Persebaya Surabaya menjuarai Liga Indonesia 1996/1997 termasuk kenangan manis bagi masyarakat Surabaya dan pecinta Persebaya. Sebab, tim asal Kota Pahlawan saat itu berisikan banyak pemain nasional dan ditunjang pemain asing top.

Selain Aji Santoso, ada Anang Ma'ruf, Yusuf Ekodono, Reinold Pietersz, Carlos de Melo, Jacksen Tiago, Uston Nawawi, Bejo Sugiantoro, dan masih banyak yang lain. Dua nama terakhir bahkan kini menjadi asisten pelatih Persebaya.

"Tim ditunjang dengan materi yang bagus dan pelatih berkualitas, almarhum Rusdy Bahalwan. Bagi lawan, sangat sulit untuk bisa mendapatkan poin di sini," ujar pelatih berlisensi AFC Pro itu.

Aji Santoso adalah kapten tim musim itu dan memuncaki klasemen akhir Divisi Barat dengan 43 poin dari 20 pertandingan. Dari jumlah pertandingan itu, Persebaya hanya kalah tiga kali, sisanya 13 kali menang dan 4 kali bermain imbang.

Persebaya juga mampu tampil sebagai tim paling produktif di babak penyisihan dengan membukukan 62 gol. Berikutnya, mereka mampu menekuk Bandung Raya dengan skor 3-1 di partai final.

Berita Terkait