Bola.com, Jakarta - Aksi Muharom Rusdiana sebagai bek sayap kanan Persebaya Surabaya kental mewarnai kompetisi Perserikatan era 1980-an. Pencapaian terbaiknya bersama skuad Bajul Ijo adalah meraih trofi juara musim 1987/1988.
Di level tim nasional, ia juga pernah menjadi bagian dari skuad Garuda berkiprah pada sejumlah turnamen internasional dan Sea Games.
Dalam channel youtube Pinggir Lapangan, Muharom Rusdiana yang kini berusia 61 tahun mengungkapkan awal persentuhannya di sepak bola yang dimulai dengan Tunas Muda yang berlatih pada sebuah lapangan yang tak jauh rumahnya.
Di luar latihan reguler, Muharom kerap menambah sendiri porsi latihan untuk meningkatkan fisik dan staminanya dengan berlari menyusuri rel kereta api pada pagi dan siang hari.
Peruntungannya mulai terbuka ketika Suryanaga, klub internal Persebaya Surabaya mengadakan uji coba dengan Tunas Muda. Bagi Suryanaga, laga itu merupakan bagian dari persiapan mereka menghadapi Piala Soeratin.
Aksi trengginas Muharom yang awalnya berposisi sebagai bek tengah menarik minat pemandu bakat Suryanaga. Ia pun menjadi bagian tim itu. Tak lama bersama Suryanaga, Muharrom Rusdiana menjadi bagian dari Persebaya Junior sejak 1980.
Terinsipirasi Legenda Belgia
Tiga tahun kemudian, di promosikan ke level senior. Ketika itu, Bajul Ijo yang ditangani Januari Pribadi dan JA. Hattu akan berkiprah di kompetisi Perserikatan.
Kebetulan pada momen itu, sejumlah pemain senior Persebaya yang bekerja di tim Pelabuhan Indonesia membela instansinya pada sebuah turnamen di Thailand. Sebelum berlaga menghadapi PSIS Semarang, Muharom Rusdiana dipanggil khusus oleh Januar dan Hattu.
"Saya diminta bermain sebagai bek kanan. Saya langsung mengatakan siap. Karena sebelumnya saya terinspirasi dengan aksi Eric Gerets, bek sayap Belgia di Piala Dunia 1982," kenang Muharom Rusdiana.
Pada laga itu, Muharom yang memang memiliki stamina dan kecepatan mampu tampil apik sebagai bek sayap kanan. Ia mencetak dua assist untuk membawa Persebaya menang dengan skor 2-0.
Esok harinya, media massa di Jawa Timur ramai-rama memuji penampilannya. Sejak itu, Muharom dikenal sebagai bek sayap terbaik di Persebaya pada eranya.
Penampilan Muharom Rusdiana bersama Persebaya dipantau oleh pemandu bakat PSSI yang dikoordinir Sinyo Aliandoe. Ia pun jadi bagian timnas Indonesia U-23 yang mengikuti sejumlah turnamen di kawasan Asia Tenggara.
Namanya kian melejit usai menjadi bagian Persebaya meraih trofi juara Perserikatan 1987/1988 dengan mengalahkan Persija Jakarta via adu penalti di Stadion Gelora Bung Karno Senayan, Jakarta.
Ditegur Wali Kota Surabaya
Usai kompetisi, Muharom Rusdiana kembali ke Suryanaga. Pada momen itu ada tawaran yang datang ke Suryanaga dari Petrokimia Putera, klub Galatama asal Gresik.
Untuk mengisi kekosongan kompetisi Perserikatan, Muharom Rusdiana pun berkostum Petrokimia. Namun, ia hanya bermain dalam tiga laga pada putaran kedua, karena Ketua Umum Persebaya yang juga Wali Kota Persebaya, Poernomo Kasidi marah dan memintanya mundur dari Petrokimia.
"Alhamdulilah saat itu prosesnya berjalan. Uang kontrak pun saya kembalikan ke manajemen Petrokimia," terang Muharom Rusdiana.
Ia pun kembali menjadi bagian Persebaya pada musim-musim berikutnya sebelum pensiun pada 1983 karena cedera lutut saat latihan. Menurut Muharom Rusdiana, sejatinya ia ingin lebih fokus bersama Suryanaga yang menjadi tim pelanggan juara di kompetisi internal Persebaya.
Tapi, ia tak bisa menolak permintaan Poernomo Kasidi yang memintanya kembali memperkuat Persebaya. Ketika didera cedera lutut, manajemen Persebaya menawarinya untuk menjalani operasi di Australia.
Tapi, ia menolak dengan alasan usianya sudah kepala tiga dan memilih pensiun. Kini, meski usianya sudah 61, Muharom Rusdiana mengaku tetap menjaga kebugarannya dengan rutin berolahraga.
Sumber: Youtube Pinggir Lapangan