Menuju Piala Dunia 2022: Menengok ke Belakang Aksi Negara Asal Shin Tae-yong, Ada Apa Lagi Nih?

oleh Choki Sihotang diperbarui 20 Jul 2022, 10:20 WIB
Francesco Totti saat laga Italia kontra Korea Selatan pada Piala Dunia 2002. (dok. Fourfourtwo)

Bola.com, Jakarta - Korea Selatan memiliki pepatah lawas yang berbunyi ; Kebahagiaan akan datang di akhir penderitaan. Wejangan tersebut sangat pas jika dikaitkan dengan pencapaian Korea Selatan di Piala Dunia 2002.

Saat itu, bersama Jepang, FIFA mendapuk Negeri Ginseng sebagai tuan rumah dan menjadi negara pertama di Asia yang menghelat Piala Dunia. Di bawah asuhan pelatih Belanda berahang baja, Guus Hiddink, Ksatria Taegeuk mengguncang jagad balbalan sekaligus menorehkan sejarah.

Advertisement

 

2 dari 5 halaman

Tak Diunggulkan

Tak diunggulkan di awal turnamen, pasukan Hiddink justru tampil kesetanan dan merangsek sampai ke semifinal bersama Jerman, Turki, dan Brasil. Nama terakhir menjadi juara.

Satu di antara duel yang paling berkesan, apalagi kalau bukan laga kontra Italia di babak 16 besar. Kedua negara saling berhadapan di Daejeon World Cup Stadium, 18 Juni 2002.

 

3 dari 5 halaman

Keroyok Italia

Pendukung tuan rumah yang menyemuti stadion harap-harap cemas. Soalnya, Italia punya nama beken di pentas balbalan terakbar dengan koleksi tiga gelar juara.

Selain itu, Gli Azzurri diperkuat pula sederet bintang top macam Francesco Coco, Christian Vieri, dan Francesco Totti. Dipimpin wasit Byron Moreno asal Ekuador, Italia lebih dulu memimpin. Armada Giovanni Trapattoni hanya butuh 18 menit untuk menempatkan Korea Selatan di ujung tanduk via tandukan Vieri.

 

4 dari 5 halaman

Hasil Pilu

Ahn Jung Hwan saat merayakan gol yang dicetaknya ke gawang Timnas Italia di Piala Dunia 2002 lalu (Fifa.com)

Akan tetapi, hasil di ujung laga sungguh memilukan bagi Italia. Mereka kalah 1-2 setelah Korea Selatan mampu menyamakan skor dan akhirnya menang. Gol berasal dari Seol Ki Hyeon pada menit ke-88, serta Ahn Jung Hwan di babak perpanjangan waktu, menit 117'.

Kekalahan yang sangat menampar Italia, tentu saja. Ahn Jung Hwan jadi sasaran kemarahan. Dia dianggap tak tahu berterima kasih karena Italia sudah memberinya kesempatan bermain di Serie A bersama Perugia. Luciano Gaucci, bos besar Perugia, memilih mendepak Ahn Jung Hwan ketimbang menahan rasa jengkel yang dalam.

 

5 dari 5 halaman

Dikira Curang

Tak sedikit yang mengendus laga itu berbau kecurangan yang menguntungkan Korea Selatan. Totti diganjar kartu merah serta gol Damiano Tomassi dianulir lantaran dianggap offside adalah dua keputusan wasit yang dianggap merugikan Italia.

Apalagi, beberapa tahun setelah drama di Daejeon World Cup Stadium itu berlalu, wasit Byron Moreno mengeluarkan pernyataan kontroversi. "Saya mungkin telah membuat beberapa keputusan yang salah, tapi saya tak perlu meminta maaf," kata Byron Moreno, dilansir Futbol Sin Cassette.

Italia boleh-boleh saja gusar dan tak menerima kekalahannya. Akan tetapi, bagi Korea Selatan, Piala Dunia 2002 adalah momen nan sarat sejarah. Penantian dan penderitaan panjang mereka berakhir sudah.

Berita Terkait