Kesaksian Nur’alim di Balik Tragedi Sepak Bola Gajah Timnas Indonesia Vs Thailand di Piala Tiger 1998

oleh Radifa Arsa diperbarui 05 Feb 2023, 07:30 WIB
Flashback Piala AFF - Piala Tiger 1998 (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta - Mantan bek andalan Timnas Indonesia, Nur’alim, memberikan kesaksiannya soal tragedi sepak bola gajah yang mencoreng wajah sepak bola Tanah Air pada Piala Tiger 1998.

Aksi yang menggemparkan dunia sepak bola itu tepatnya terjadi pada laga pamungkas Grup A Piala Tiger 1998, antara Thailand versus Timnas Indonesia di Thong Nhat Stadium, Ho Chi Minh, 31 Agustus 1998.

Advertisement

Ketika itu, Indonesia dan Thailand memang sudah dipastikan lolos ke semifinal. Namun, kedua tim yang diprediksi akan menyajikan duel panas ternyata justru memperagakan keanehan di atas lapangan.

"Ada juga saya di situ pada laga Timnas Indonesia vs Thailand yang diwarnai drama sepak bola gajah. Enggak tahu, itu inisiatif semua," kata Nur'alim mengawali kisahnya soal tragedi tersebut di kanal YouTube Sport77.

 

2 dari 4 halaman

Hindari Laga versus Vietnam

Nur'alim pernah berstatus palang pintu andalan Persija Jakarta. (Bola.com/Vincentius Atmaja)

Satu di antara alasan yang disebut-sebut melatarbelakangi motif sepak bola gajah dari kedua tim ini ialah, menghindari pertemuan dengan Vietnam yang berstatus sebagai tuan rumah pada fase semifinal Piala Tiger 1998.

Jika berjumpa Vietnam, mereka hanya memiliki waktu istirahat yang sangat minim mengingat duel semifinal akan berlangsung pada 3 September 1998.

Apalagi, dua kota yang menjadi lokasi penyelenggaraan kejuaraan itu sangat berjauhan, karena harus pindah dari Ho Chi Minh City menuju Hanoi.

"Jadi gini ya, waktu itu kami sebagai pemain Timnas Indonesia juga bingung. Pada Piala Tiger 1998, kalau menang melawan Thailand, kami subuh harus berangkat dan sorenya bermain," ujarnya.

"Lawan yang dihadapi juga tim tuan rumah, Vietnam. Padahal, antara Ho Chi Minh ke Hanoi itu perjalanannya membutuhkan waktu dua jam," lelaki asal Bekasi itu menambahkan.

 

3 dari 4 halaman

Tak Ada Instruksi

Mursyid Effendi, sudah melupakan insiden gol bunuh diri di Piala Tiger 1998. (Bola.com/Fahrizal Arnas)

Nur’alim mengakui, tidak ada instruksi apa pun yang diberikan manajer maupun tim pelatih Timnas Indonesia untuk mengalah dari Thailand pada laga ini.

Namun, gol bunuh diri yang dicetak Mursyid Effendi memang secara terang benderang dilakukan dengan sengaja.

Itulah sebabnya, pemain Persebaya Surabaya itu mendapat sanksi dari FIFA berupa larangan bermain di semua ajang internasional selama seumur hidup.

"Tidak ada suruhan atau apa. Ya, namanya pemain Indonesia, dikasih ‘terserah kamu (kalian)', jadinya inisiatif sendiri lah. Jadi, saya ingin mengklarifikasi, bahwa kami pada Piala Tiger 1998 itu tidak ada bermain sepak bola gajah," ujarnya.

"Tidak ada instruksi atau apa pun. Mursyid Effendi di depan gawang dia tembak sendiri kan jadi tanda tanya. Itu bukan suruhan dari manajer atau apa. Karena situasionalnya memang begitu," lanjutnya.

 

4 dari 4 halaman

Selebrasi Jadi Tanda Tanya

Gol bunuh diri yang dilakukan Mursyid Effendi memang cukup mengagetkan. Tak hanya orang-orang yang menyaksikan langsung di Stadion Thong Nhat, tetapi juga pendukung skuad Garuda yang menyaksikan dari layar kaca.

Unsur kesengajaan memang tampak jelas dari proses terciptanya gol tersebut. Bahkan, publik juga terhenyak lantaran gol bunuh diri Mursyid Effendi itu disambut dengan selebrasi oleh rekan setimnya.

"Posisinya Thailand juga seperti itu. Giliran kami menyerang, mereka diam. Giliran mereka menyerang kami diam," ujar asisten pelatih FC Bekasi City tersebut.

"Itu kan gol Mursyid Effendi juga tercipta pada injury time. Yang salahnya itu membuat gol bunuh diri lalu tepuk tangan. Itu yang menjadi permasalahannya," lanjutnya.

Berita Terkait