Tega! 2 Musim Terakhir, Arema Depak Lima Pelatih Saat Kompetisi Berjalan

oleh Iwan Setiawan diperbarui 09 Feb 2024, 19:15 WIB
Pelatih Arema FC, Fernando Valente (kanan) didampingi FX Yanuar. (Bola.com/Iwan Setiawan)

Bola.com, Malang - Image Arema FC makin lekat sebagai tim yang gemar gonta-ganti pelatih. Bagaimana tidak, dalam dua musim terakhir, sudah lima pelatih kepala yang diberhentikan ditengah jalan.

Itu tak lepas dari ketidakpuasan suporter dan manajemen akan prestasi tim. Padahal, setiap musim manajemen memberikan target papan atas.

Advertisement

Realitanya, musim lalu Arema finis di urutan 12. Sedangkan musim ini, mereka masih terseok-seok di zona degradasi. Tepatnya posisi 16.

Merosotnya prestasi Arema banyak dikaitkan dengan Tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022. Tapi jika diamati lebih jeli, sebenarnya Arema sudah melempem sebelum tragedi.

Manajemen Arema sempat mengganti pelatih dari Eduardo Almeida ke Javier Rocha waktu itu. Setelahnya, Tragedi Kanjuruhan pecah setelah Arema dipermalukan oleh Persebaya Surabaya di kandang sendiri.

Artinya, ada yang salah dengan tim Singo Edan. Meski sudah berganti lima pelatih, persoalan itu sepertinya belum teratasi. Berikut lima pelatih yang harus didepak Arema di tengah jalan.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

 

 

 

 

2 dari 7 halaman

Eduardo Almeida

Pelatih kepala Rans Nusantara FC, Eduardo Almeida saat menghadapi Persija Jakarta pada laga pekan ke-16 BRI Liga 1 2023/2024 di Stadion Patriot Candrabhaga, Bekasi, Minggu (22/10/2023) malam WIB. (Bola.com/Abdul Aziz)

Pelatih asal Portugal ini sempat memberi kesuksesan di tahun pertamanya. Almeida membawa Arema finish di urutan 4 BRI Liga 1 2021/2022.

Setelah itu, dia mempersembahkan trofi Piala Presiden 2022. Manajemen Arema memberikan apresiasi dengan tambahan kontrak sampai 2024.

Tapi, kemesraan Arema dengan Eduardo Almeida segera berakhir musim 2022/2023. Dia hanya bisa bertahan sampai 8 laga awal musim itu. Padahal catatannya tak terlalu buruk. Tiga kali menang, tiga kalah dan dua hasil imbang.

Posisi Arema juga masih di papan tengah. Namun, ekseptasi manajemen dan suporter sudah terlanjur tinggi. Karena dia baru mempersembahkan trofi Piala Presiden. Musim sebelumnya juga bersaing di papan atas.

Selain itu, materi pemain yang lebih mentereng. Evan Dimas, Hanis Saghara, Irsyad Maulana, Hasim Kipuw, Adam Alis, dan masih banyak pemain papan atas yang didatangkan. Jadi, manajemen dan suporter tidak terima jika Arema berkutat di papan tengah.

Almeida sendiri waktu itu kabarnya kecewa dengan keputusan manajemen dan suporter. Karena dia merasa sudah mengangkat kembali prestasi Arema. Sebab, sebelum dia datang, Singo Edan lebih sering berkutat di papan tengah.

Total, Almeida memimpin Arema dalam 48 pertandingan. Baik di Liga 1 maupun Piala Presiden. Sebanyak 26 laga berakhir dimenangi. Sisanya, 13 kali imbang dan hanya 9 kekalahan.

Bisa jadi manajemen dan Aremania menyesali keputusan melepas Almeida waktu itu. Karena sekarang, Almeida membawa Rans Nusantara dan sempat bersaing di papan atas.

 

 

 

3 dari 7 halaman

Javier Rocha

Pelatih Arema FC, Javier Rocha, saat berada di kantor Arema FC, Kota Malang, Rabu (12/10/2022). (Bola.com/Bagaskara Lazuardi)

Dia dikontrak Arema di pekan 9 Liga 1 2022/2023. Manajemen memilihnya dengan pertimbangan Rocha bisa adaptasi lebih cepat dengan tim. Karena dia fasih berbahasa Indonesia.

Selain itu, pelatih asal Chile ini lama berkarir sebagai pemain di Indonesia. Sehingga dia paham dengan karakter permainan yang dibutuhkan Arema.

Rocha juga berpengalaman membawa Persik dari tim papan bawah jadi tim yang disegani pada musim 2021/2022.

Sayang, hal itu tak terulang saat menangani Singo Edan. Dia hanya bertahan dalam 12 pertandingan.

Bahkan Rocha belum sempat memberikan kemenangan di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang. Karena dua kali dia bermain di sana, dua kekalahan harus ditelan Arema.

Kekalahan yang paling membekas tentu dari Persebaya Surabaya. Karena usai pertandingan, terjadi Tragedi Kanjuruhan yang memakan 135 korban jiwa.

Dari 12 pertandingan yang dilewati, dia memberi lima kemenangan. Sisanya, 7 laga berujung kekalahan. Parahnya, kekalahan itu diderita dalam 5 laga terakhir.

Sehingga Arema sempat terjebak di papan bawah. Rocha didepak sebelum kompetisi berakhir. Dan sampai saat ini dia tidak lagi menangani tim profesional.

 

4 dari 7 halaman

I Putu Gede

Pelatih Arema FC, I Putu Gede. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Mantan kapten Arema ini ditunjung menggantikan Javier Rocha musim 2022/2023. Waktu itu, status Putu Gede masih jadi pelatih PSMS Medan di Liga 2. Namun, Putu Gede bisa melatih Arema karena Liga 2 tidak dilanjutkan pasca Tragedi Kanjuruhan.

Dia dibawa oleh manajer baru Arema, Wiebie Dwi Andriyas. Karena keduanya sempat berkolaborasi di PSMS Medan. Tapi, Putu tercatat memimpin Arema hanya dalam 5 pertandingan.

Karena, lisensinya belum memenuhi syarat sebagai pelatih kepala. Waktu itu, Putu Gede masih dalam proses merampungkan lisensi A Pro PSSI.

Dari lima pertandingan, dia memberikan dua kemenangan dan tiga kekalahan. Jadi, waktu itu prestasinya juga belum terlalu memuaskan. Tapi, peran Putu Gede tak berhenti setelah menjalani lima pertandingan.

Dia tetap ditugaskan sebagai pelatih berdampingan dengan Joko 'Getuk' Susilo. Keduanya menuntaskan kompetisi dengan finish di urutan 12.

Kurang memuaskan sebenarnya. Tapi, materi pemain Arema sudah berkurang di paruh musim. Karena beberapa pemain memilih hengkang. Seperti Adam Alis, Irsyad Maulana, Hasim Kipuw, Hanis Sagara dan beberapa nama lainnya.

Putu Gede baru benar-benar mundur dari Arema awal musim ini. Waktu itu, Arema belum meraih kemenangan dalam 4 laga beruntun.

Putu Gede merasa bertanggung jawab atas hasil itu. Sampai saat ini, dia dianggap memberi warisan buruk untuk Arema.

Karena materi pemain baru yang direkrut sebagian besar dari Liga 2. Bisa jadi waktu itu dana yang diberikan untuk perekrutan pemain terbatas. Sehingga Putu Gede lebih banyak merekrut pemain dari kasta kedua.

 

 

 

5 dari 7 halaman

Joko Susilo

Joko Susilo sudah memimpin latihan Arema FC pada Kamis (9/3/2023). Pelatih yang karib disapa Getuk itu kembali dipercaya menangani Singo Edan untuk sisa musim ini. (Bola.com/Iwan Setiawan)

Pelatih yang satu ini sudah keluar masuk Arema FC. Namun, kali ini dia datang sebagai tandem Putu Gede sejak pengujung musim 2022/2023.

Dari pantauan Bola.com, waktu itu Getuk tak banyak berperan. Putu Gede yang lebih dominan memberikan instruksi di latihan maupun pertandingan.

Kabarnya, keberadaan Getuk hanya sebagai formalitas untuk memenuhi persyaratan lisensi pelatih kepala di BRI Liga 1.

Karena Getuk sudah mengantoni lisensi A Pro. Getuk baru bekerja 100 persen setelah Putu Gede mundur,

Dia memimpin Arema hanya dalam tiga pertandingan. Pekan kelima sampai tujuh. Hasilnya, hanya satu poin saat imbang lawan Persis Solo. Sisanya ditekuk Barito Putera dan PSIS Semarang. Setelah itu, Getuk dipindah tugas sebagai Direktur Akademi Arema. Posisi yang sudah dijabat sebelumnya.

Getuk tak bisa berbuat banyak dalam periode ini. Karena dia tak banyak terlibat dalam perekrutan pemain. Dia hanya menyusun skema dengan skuat yang ada.

Bisa dibilang kedalaman skuat Arema tak terlalu bagus. Karena pemain inti dan cadangan sangat timpang. Mayoritas pemain dari Liga 2 tak bisa bersaing di kasta tertinggi. Hanya Samuel Balinsa dan Flabio Soares yang kini tersisa sebagai pemain cadangan.

 

 

6 dari 7 halaman

Fernando Valente

Pelatih Arema FC asal Portugal, Fernando Valente saat memimpin sesi latihan di Stadion Gajayana. (Bola.com/Iwan Setiawan)

Pelatih asal Portugal ini diharapkan jadi solusi untuk mendongkrak prestasi Arema. Fernando Valente datang di pekan 10 musim ini.

Sebenarnya, dia datang ke Indonesia dengan niatan berlibur sekaligus menjenguk putranya, Ze Valente yang bermain untuk Persebaya Surabaya waktu itu.

Tapi manajemen Arema melihat dia mumpuni sebagai pelatih kepala. Meskipun dua klub yang ditangani Fernando adalah tim kelompok usia di Shakhtar Donets (Ukraina) dan Estoril (Portugal).

Angin segar sempat diberikan Fernando. Dua laga awal berujung kemenangan. Tapi, dia juga datang di momen yang tepat.

Karena dua laga awalnya menghadapi Persikabo 1973 dan Bhayangkara FC. Dua tim yang sama-sama di zona degradasi.

Meski dari segi permainan membaik, hasil yang didapat Arema belum konsisten. Total, Fernando memimpin Arema dalam 15 pertandingan. Sebanyak 5 kemenangan diberikan. Sisanya tiga kali imbang dan 7 kekalahan.

Fernando hanya bisa membawa Arema naik dua tingkat. Dari juru kunci ke urutan 16. Sementara manajemen memberi target untuk segera lepas dari zona degradasi. Jadi, Fernando harus dilengserkan Arema ketika Liga 1 musim ini masih menyisakan 10 pertandingan.

7 dari 7 halaman

Yuk Lihat Peta Persaingan

Berita Terkait