BRI Liga 1: Rivalitas Terselubung Persebaya dengan Madura United, Derbi Suramadu Berbalut Persaudaraan

oleh Aditya Wany diperbarui 12 Mar 2024, 17:15 WIB
BRI Liga 1 - Persebaya Surabaya Vs Madura United (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Jakarta Bagi pencinta sepak bola, kata “derbi” teramat sangat memiliki daya tarik dan magis yang kuat.

Kata ini bisa membuat banyak orang tersihir dan rela meluangkan banyak waktu untuk langsung datang ke stadion atau sekadar menyalakan TV menyaksikan 22 orang memainkan bola di atas lapangan.

Advertisement

Dalam waktu dekat, kata tersebut akan merealisasikan apa yang tertulis di atas. Kompetisi BRI Liga 1 2023/2024 bakal menyajikan pertandingan antara Persebaya Surabaya dan Madura United memasuki pekan ke-29.

Laga yang bakal berlangsung di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT), Surabaya, Rabu (13/3/2024) malam, ini mendapat tajuk Derbi Suramadu. Sebelum beranjak jauh, mari bedah dulu apa makna kata “derbi”.

Mengapa kata ini sangat identik dengan sepak bola? Kamus Oxford menyebutkan kata “derby” (dialihbahasakan menjadi “derbi”) merujuk pada perlombaan balap kuda tahunan yang sudah muncul sejak 1780-an.

Singkat cerita, derby atau derbi digunakan untuk merujuk kepada suatu persaingan sengit antara dua klub, dalam konteks ini adalah sepak bola.

Banyak yang bilang bahwa derbi adalah cara untuk menggambarkan persaingan klub sepak bola yang masih dalam satu kota. Namun, maknanya lebih luas dari itu, bisa merujuk kepada sebuah laga sarat gengsi dan rivalitas antara dua klub dari wilayah yang sama.

2 dari 6 halaman

Contoh Dunia

Pemain Inter Milan, Hakan Calhanoglu (tengah) mengontrol bola saat laga Piala Super Italia 2022/2023 melawan AC Milan yang berlangsung di Stadion Internasional King Fahd, Riyadh, Arab Saudi, pada Kamis (19/1/2023) dini hari WIB. (AP Photo/Hussein Malla)

Di Italia, ada tiga derbi yang sangat populer. Pertama adalah Derbi della Madonnina, duel AC Milan kontra Inter Milan yang mempertemukan dua klub asal Kota Milan. Nama derbi ini diambil dari patung Bunda Maria yang diidentikkan dengan Kota Milan.

Persaingan kedua tim sudah sangat jelas karena selama ini sangat menyumbang banyak prestasi di kompetisi domestik atau Eropa. Sejarah panjang keduanya juga bisa berbicara banyak untuk membuktikan persaingan di Kota Mode.

Saking sengitnya, AC Milan dan Inter Milan mengoleksi jumlah scudetto (istilah gelar juara Serie A Italia) yang sama. Baik AC Milan maupun Inter Milan telah sama-sama mempunyai 19 gelar scudetto.

Lalu, ada Derbi della Mole asal Turin yang mempertemukan Juventus dengan Torino. Gregetnya masih kalah dari persaingan AC Milan dan Inter Milan, karena ketimpangan prestasi scudetto, Juventus 36, sementara Torino hanya 7. Nama derbi ini diambil dari bangunan yang melambangkan Kota Turin.

Terakhir, ada Derbi della Capitale asal ibukota Italia, Roma, yang melibatkan Lazio dengan AS Roma. Pertemuan satu ini sangat bergengsi untuk menunjukkan yang terbaik di ibukota, bukan Italia.

Ya, keduanya masih kalah koleksi gelar dibanding klub kota lain. Namun, rivalitas suporter dari kedua kubu sangat keras, bahkan kerap kekerasan fisik atau tindakan kriminal lain di luar lapangan.

Duel kelas sosial yang merepresentasikan antar kelompok keduanya dianggap sebagai pemicu. Suporter Lazio adalah kelas borjuis, sedangkan Roma perwakilan proletar. Urusan politik, Lazio dianggap berhaluan kanan, sementara Roma adalah simpatisan kiri.

Contoh tiga derbi di Italia itu sebenarnya sudah cukup untuk menjabarkan lanjutan pembahasan yang sama di Indonesia. Sepak bola negara ini sudah bertahun-tahun berkiblat pada Negeri Pizza jadi tak heran kalau adopsinya cukup banyak.

3 dari 6 halaman

Persebaya dan Madura United, Tak Ada Bibit Permusuhan

Duel antara Lee Yujun dan Muhammad Hidayat saat Madura United berhadapan dengan Persebaya Surabaya pada laga pekan ke-21 BRI Liga 1 2022/2023, Minggu (29/1/2023). Persebaya menang 2-0 dalam laga di Stadion Gelora Ratu Pamelingan, Pamekasan. (Dok. Persebaya)

Sebagai gambaran, derbi negara lain juga tidak salah untuk dilihat. Derbi Suramadu  misalnya yang masih berusia muda. Jika ditelisik, tidak ada persaingan yang sangat kentara antara Persebaya dan Madura United.

Persebaya sudah lahir pada 18 Juni 1927, sementara Madura United yang merupakan “anak kemarin sore” di Indonesia baru berdiri pada 10 Januari 2016. Selisih tahun berdiri keduanya bahkan mencapai 88 tahun!

Suporter kedua kesebelasan juga tidak ada masalah. Bonek dan K-Conkmania (dan nama suporter Madura United lain seperti Trunojoyo Mania, Taretan Dhibi, dan Peccot Mania) malah menjalin persaudaraan. Tidak pernah ada bentrok di antara mereka.

Titel “derbi” dalam rivalitas ini malah menjadi anomali karena tidak ada konflik pada suporter kedua. Mereka sudah terbiasa saling mengunjungi, baik di Surabaya maupun Madura.

Menariknya, pertemuan pertama Persebaya dan Madura United baru digelar pada 28 Januari 2018 pada ajang Piala Presiden di Stadion GBT. Ya, sebuah derbi yang masih sangat muda.

Namun, sebanyak lebih 50 ribu penonton menyaksikannya menjadi bukti spesial laga ini. Sayangnya, persaingan juara juga tidak pernah melibatkan mereka dalam sejarah liga Indonesia.

Maklum, Madura United sudah mulai berkompetisi di TSC 2016, dan berlanjut ke Liga 1 2017 hingga sekarang. Mereka sudah menjalani tiga musim di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

Sementara Persebaya baru “kembali” pada 2017 karena beberapa tahun tidak diakui PSSI. Bajul Ijo bahkan baru juga kembali ke kasta tertinggi pada musim ini setelah juara Liga 2 2017.

4 dari 6 halaman

Awal Mula Derbi Suramadu

Persebaya Surabaya ditahan 1-1 oleh Madura United pada laga perdana Liga 2 2017. (Bola.com/Fahrizal Arnas)

Tapi, nama Derbi Suramadu justru sudah muncul sebelum pertandingannya dihelat. Pada medio April 2017, keduanya sempat dikabarkan akan melakoni laga uji coba.

Posternya pun tersebar di media sosial dengan tulisan “Derbi Suramadu” yang menjadi tajuknya. Publik Surabaya dan Madura pun heboh. Jadilah istilah ini disematkan.

Istilah ini bisa menjadi terobosan buat para klub yang ingin menggambarkan duel sengit dengan klub lainnya. Istilah khusus harus diberikan agar memudahkan publik dengan secara sembarangan menyebut pertemuan semua tim Jawa Timur dengan sebutan Derbi Jatim!

Bukan hal yang aneh kalau nama derbi ini diambil dari Jembatan Suramadu. Toh, jembatan itu memang menghubungkan Surabaya dan Madura yang menjadi basis kedua klub. Selain menggunakan kapal tentu saja.

Faktanya, nama-nama derbi di Italia pun menggunakan nama-nama tempat pula. Hanya beberapa saja yang mengambil nama kota karena memang klub yang terlibat berasal dari kota yang sama sekaligus memudahkan penyebutan.

5 dari 6 halaman

Edisi ke-18

Gelandang Persebaya Surabaya, Koko Ari (kiri) berebut bola dengan striker Madura United, Mochammad Kevy dalam laga matchday ke-2 Grup C Piala Menpora 2021 di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung, Minggu (28/3/2021). (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Kini, Derbi Suramadu itu akan memasuki edisi ke-18. Artinya, kedua tim tercatat sudah berjumpa 17 kali di semua ajang. Menariknya, 17 pertemuan itu dilakukan hanya dalam enam tahun saja atau sejak 2018.

Sebelumnya, ada satu pertandingan Derbi Suramadu yang digelar di momen yang langka. Itu terjadi saat masuk jilid 9. Derbi Suramadu saat itu digelar bertepatan dengan pertandingan itu, umat muslim akan merayakan malam takbiran Idul Adha, Sabtu (10/8/2019).

Saat itu, hari raya tersebut jatuh pada Minggu (11/8/2019) dan didahului dengan takbiran pada malam sebelumnya. Momen seperti jarang terjadi di kompetisi Indonesia karena biasanya jadwal pertandingan menghindari hari raya keagamaan.

Ketentuan jadwal kompetisi ini memang disusun oleh PT Liga Indonesia Baru selaku operator Liga 1 2019. Klub yang akan bertanding harus siap menjalaninya sesuai dengan rilis jadwal yang telah dibuat oleh operator.

Duel bertajuk Derbi Suramadu ini awalnya digelar malam hari dengan kick-off pukul 18.30 WIB. Setelah mempertimbangkan bentrokan dengan malam takbiran, PT LIB memutuskan menggantinya pada sore hari pukul 15.30 WIB.

Momen menarik juga muncul menjelang pertandingan berakhir. Para suporter di stadion melantunkan takbir untuk menggambarkan perayaan Idul Adha. Duel itu sendiri pada akhirnya berakhir sama kuat 2-2.

6 dari 6 halaman

Bulan Ramadan

Untuk kali ini, Persebaya akan menjamu Madura United dalam nuansa bulan Ramadan. Derbi Suramadu jilid 18 bakal digelar pada pukul 20.30 WIB atau setelah selesai menunaikan salat tarawih.

Catatan pertemuan menunjukkan bahwa Persebaya merupakan tim yang masih mendominasi Madura United. Bajul Ijo mampu membukukan 10 kemenangan, sedangkan Laskar Sape Kerap hanya dua kali.

Total, terdapat 51 gol yang tercipta dalam semua pertandingan Derbi Suramadu di semua ajang. Siapa kali ini yang mendominasi dalam produktivitas mencetak gol?

Lagi-lagi Persebaya lebih banyak mencetak gol dengan membukukan 31, sementara Madura United tertinggal jauh dengan mencetak 20 gol.

Soal catatan pertemuan Persebaya mungkin jauh lebih unggul. Tapi, lain halnya dengan pertemuan terakhir kedua tim yang terjadi di putaran pertama Liga 1 musim ini.

Madura United sukses menang 3-0 atas Persebaya pada 17 September 2023. Itu jadi kemenangan pertama tim asal Pulau Garam itu atas Bajul Ijo sepanjang pertemuan di Liga 1.

Derbi Suramadu jilid ke-18 ini jadi semakin menarik dengan hasil pertandingan itu. Persebaya tentu tidak ingin kalah dua kali melawan Madura United hanya dalam satu musim.

Berita Terkait