Bola.com, Jakarta - Nasib Manchester City masih berada dalam tanda tanya besar. The Citizens terancam pengurangan poin dalam jumlah masif, bahkan disebut bisa mencapai 40 hingga 60 poin, jika dinyatakan bersalah atas sebagian tuduhan paling serius yang dialamatkan kepada mereka.
Baik Man City maupun Premier League hingga kini masih menunggu putusan atas 115 dakwaan terkait dugaan pelanggaran finansial sepanjang periode 2009 hingga 2018.
Proses investigasi terhadap dugaan pelanggaran regulasi liga telah rampung pada Desember 2024 setelah sidang tribunal selama 12 pekan. Namun, komisi independen yang menangani perkara tersebut belum juga mengumumkan hasil akhirnya.
Man City membantah seluruh tuduhan dan diyakini tetap percaya diri akan dibebaskan dari kesalahan. 14 bulan telah berlalu sejak tribunal berakhir, sementara komisi masih melakukan pertimbangan.
Pakar keuangan sepak bola, Kieran Maguire, yang mengikuti kasus ini secara intensif, mengungkapkan bahwa sekitar 500.000 dokumen bukti diajukan oleh pihak pembela maupun penuntut selama persidangan.
Maguire memperkirakan keputusan akan keluar dalam beberapa bulan ke depan. Ia menyebut Man City dan Premier League kemungkinan akan mendapat pemberitahuan 24 jam sebelum putusan dipublikasikan.
Dampak Bisa Besar
Menurutnya, memprediksi hasil akhir hampir mustahil. Namun, jika melihat preseden terbaru, dampaknya bisa sangat besar apabila keputusan berpihak melawan Man City.
"Premier League tidak bisa mendegradasikan Manchester City ke League One atau League Two karena itu merupakan keputusan EFL, dan Manchester City tidak pernah dinyatakan bersalah oleh EFL. Jadi, sanksinya harus berupa pengurangan poin," ujar Maguire dalam "The Overlap Fan Debate".
Ia mencontohkan kasus Everton dan Nottingham Forest yang masing-masing mendapat pengurangan enam dan empat poin untuk satu pelanggaran dalam periode tiga tahun.
"Tuduhan terhadap Manchester City mencakup periode sembilan tahun, jadi skalanya jauh lebih besar. Angka pastinya memang belum diketahui, tetapi kemungkinan signifikan," jelasnya.
"Saya pikir Anda harus menambahkan satu nol dari yang kita lihat pada Forest dan Everton, jadi mungkin di kisaran 40 hingga 60 poin akan konsisten secara logika dengan keputusan-keputusan sebelumnya. Kalau ingin lebih berat lagi, kita belum tahu tingkat keparahannya," lanjutnya.
Tuduhan Kompleks
Maguire menegaskan bahwa kasus Everton dan Forest murni terkait Financial Fair Play (FFP). Sementara itu, tuduhan terhadap Man City jauh lebih kompleks.
"Tuduhan terhadap Manchester City menjadi alasan kenapa prosesnya sangat lama. Penipuan korporasi adalah tuduhan yang sangat serius. Dewan direksi bisa saja harus mundur. Bagaimana mungkin Anda duduk satu meja dengan anggota Premier League lain, yang juga merupakan pemegang saham, jika tuduhan itu terbukti?"
Ia menyinggung kasus Juventus di Serie A, ketika jajaran direksi klub tersebut mengundurkan diri setelah klaim terkait gaji pemain terbukti tidak benar.
"Saya pikir ini soal integritas, jika Manchester City terbukti bersalah. Dan itu bisa berarti restrukturisasi total klub," kata Maguire.
Kompleksitas Perkara
Penundaan putusan ini memicu frustrasi luas. Kompleksitas perkara serta kebutuhan tiga anggota panel independen untuk mencapai keputusan bersama disebut menjadi penyebab lamanya proses.
"Jika melihat kasus-kasus serupa, khususnya yang berkaitan dengan penipuan, saya rasa kita sudah berada di tahap akhir menuju keputusan," tambah Maguire.
"Salah satu tantangannya adalah karena ada tiga sosok sangat senior yang harus bersama-sama mengambil keputusan final. Mengumpulkan ketiganya dalam waktu yang sama ternyata tidak mudah, dan itu ikut menunda proses."
"Seharusnya tuntas dalam beberapa bulan ke depan, meski kita pernah mengatakan hal itu sebelumnya. Tapi, bukti yang harus ditinjau sangat banyak dan tuduhannya sangat, sangat serius, jadi memang dibutuhkan dasar yang benar-benar kuat," ucapnya.
Sumber: Express