Chelsea Rugi Rp8 Triliun Lebih, Terparah dalam Sejarah Sepak Bola Inggris

Chelsea mencatatkan kerugian pra-pajak terbesar dalam sejarah sepak bola Inggris pada musim 2024-25.

BolaCom | Wiwig PrayugiDiterbitkan 27 Februari 2026, 07:00 WIB
Suporter Chelsea memberikan dukungan saat melawan Barcelona pada laga Liga Champions di Stadion Stamford Bridge, London, Selasa (20/2/2018). Hingga babak pertama usai kedudukan masinh imbang 0-0. (AFP/Glyn Kirk)

Bola.com, Jakarta - Chelsea mencatatkan kerugian pra-pajak terbesar dalam sejarah sepak bola Inggris pada musim 2024-25. Berdasarkan data dari UEFA, The Blues mengalami defisit sebesar 407 juta euro

Angka tersebut setara dengan sekitar Rp8,02 triliun. Jumlah fantastis ini menjadi rekor baru di Inggris, dan hanya kalah dari rekor milik Barcelona yang pernah membukukan kerugian €555 juta (sekitar Rp10,93 triliun) pada musim 2020-21 akibat dampak pandemi COVID-19 serta beban akuntansi besar.

Advertisement

Sejak diambil alih oleh Clearlake Capital dan Todd Boehly pada 2022, Chelsea telah menghabiskan lebih dari €1,7 miliar untuk belanja pemain. Jika dikonversi, angka tersebut mencapai sekitar Rp33,49 triliun. Namun investasi masif itu belum sebanding dengan prestasi, terutama di ajang UEFA Champions League maupun Premier League.

Secara perhitungan tiga tahun bergulir versi UEFA, total kerugian Chelsea bahkan menyentuh €622 juta atau sekitar Rp12,25 triliun, jauh melampaui ambang batas €60 juta (sekitar Rp1,18 triliun) yang ditetapkan UEFA dalam regulasi keuangan mereka.


Denda dan Sanksi

Pemain Chelsea merayakan gol yang dicetak oleh Marc Guiu ke gawang Shamrock Rovers pada laga lanjutan UEFA Conference League di Stamford Bridge, London, Inggris, Jumat (20/12/2024) WIB. (AFP/Justin Tallis)

Saat tampil di Piala Dunia Antarklub, Chelsea juga dijatuhi denda €31 juta (sekitar Rp610 miliar) akibat pelanggaran aturan finansial UEFA. Jumlah itu bahkan bisa meningkat hingga €91 juta (sekitar Rp1,79 triliun) jika klub gagal memenuhi kesepakatan kepatuhan dalam empat tahun ke depan.

Meski demikian, sumber internal klub menegaskan bahwa kondisi keuangan Chelsea saat ini telah melalui proses pembersihan akuntansi dan kini sudah mencatat keuntungan secara operasional. Klub juga disebut telah menyelaraskan struktur keuangan mereka dengan kerangka Financial Fair Play UEFA.

Kondisi ini tetap memicu kekhawatiran suporter terkait kemungkinan penjualan pemain bintang pada bursa transfer mendatang. Minimnya partisipasi di Liga Champions musim ini turut memperburuk pemasukan klub, terutama dari sisi hak siar dan pendapatan komersial.


Perjuangkan Liga Champions

Salah satu kekhawatiran terbesar suporter adalah kemungkinan penjualan pemain bintang demi menyeimbangkan neraca keuangan. Namun pihak klub yakin tidak akan ada kebutuhan untuk penyelesaian regulasi tambahan karena mereka sudah berada dalam parameter yang disepakati bersama UEFA.

Chelsea juga memanfaatkan strategi pembiayaan kreatif, termasuk restrukturisasi internal dan transaksi bisnis tertentu, untuk membantu stabilitas finansial mereka di bawah aturan domestik dan Eropa.

Fokus Chelsea kini adalah memastikan tiket Liga Champions musim depan tetap aman. Saat ini mereka berada di posisi lima klasemen liga, yang diproyeksikan cukup untuk lolos ke kompetisi elite Eropa.

Jika berhasil kembali tampil konsisten di Liga Champions, pemasukan dari hak siar dan pendapatan komersial diyakini akan membantu memperbaiki kondisi finansial dalam jangka panjang.

Sumber: Daily Mail


Posisi Chelsea

Berita Terkait