FIFA Setujui Undang-Undang Vinicius Jelang Piala Dunia 2026, Apa Itu?

Lawan rasisme, FIFA dan IFAB mensahkan aturan baru setelah insiden Vinicius Junior.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 01 Maret 2026, 14:45 WIB
Hingga laga usai skor tidak berubah. Real Madrid lolos ke babak 16 besar Liga Champions 2025/2026 dengan agregat 3-1 atas Benfica. Tampak dalam foto, penyerang Real Madrid asal Brasil, Vinicius Junior, merayakan golnya selama pertandingan leg kedua babak playoff 16 besar Liga Champions 2025/2026 melawan SL Benfica di Stadion Santiago Bernabeu pada Rabu 25 Februari 2026 waktu setempat atau Kamis (26/2/2026) dini hari WIB. (Thomas COEX/AFP)

Bola.com, Jakarta - FIFA menyetujui rencana penerapan aturan baru yang secara informal dijuluki sebagai "Undang-Undang Vinicius Junior" menjelang Piala Dunia 2026.

Kebijakan ini muncul di tengah sorotan terhadap kasus dugaan pelecehan rasial yang melibatkan bintang Real Madrid, Vinicius Junior.

Advertisement

Nama Vinicius dan Real Madrid ramai diperbincangkan dalam beberapa pekan terakhir setelah pemain Benfica, Gianluca Prestianni, dituduh melakukan pelecehan rasial terhadap penyerang berusia 25 tahun tersebut.

Insiden itu disebut terjadi pada leg pertama babak play-off Liga Champions antara Madrid dan Benfica. Hingga kini, kasus tersebut masih dalam penyelidikan UEFA.

Sambil menunggu proses investigasi berjalan, Prestianni telah dijatuhi skorsing oleh UEFA sehingga absen pada leg kedua yang digelar Kamis (26-2-2026) dini hari WIB lalu.


Langkah Tegas

Vinicius Junior (kanan) mencetak gol tunggal kemenangan Real Madrid atas Benfica pada laga leg pertama knockout play-off Liga Champions musim ini di Estadio da Luz, Lisbon, Rabu (18/02/2026) dini hari WIB. Sayangnya dalam duel tersebut, Vincius menjadi korban tindakan rasisme yang dilakukan pendukung dan pemain Benfica, Gianluca Prestianni. (AFP/PATRICIA DE MELO MOREIRA)

Prestianni dan pihak Benfica membantah tudingan bahwa dirinya menyebut Vinicius dengan sebutan bernada rasial. Minimnya rekaman audio dari tepi lapangan yang dapat menangkap percakapan kedua pemain membuat pembuktian secara konklusif menjadi sulit.

Situasi makin rumit karena Prestianni terlihat menutup mulutnya sebelum berbicara kepada Vinicius. Tindakan itu membuat metode pembacaan gerak bibir tak bisa digunakan untuk mengklarifikasi ucapan yang terjadi di lapangan.

Namun, praktik tersebut kini menjadi perhatian serius FIFA dan badan pembuat aturan sepak bola dunia, International Football Association Board (IFAB).

Mengutip laporan Diario AS, kedua organisasi itu telah sepakat untuk mengambil langkah tegas dalam memerangi rasisme dengan melarang pemain menutup mulut saat berbicara kepada lawan.

Larangan tersebut akan mencakup penggunaan jersey, tangan, atau benda lain untuk menutupi mulut ketika berinteraksi di lapangan.


Penerapan Aturan Baru

Kylian Mbappe menilai winger Benfica, Gianluca Prestianni, tidak pantas lagi tampil di kompetisi elite Eropa tersebut setelah dugaan tindakan pelecehan rasial terhadap Vinicius. Meskipun begitu Prestianni tidak mendapat kartu kuning atau merah dari wasit. Ia terlihat menutup mulutnya dengan jersey, sehingga wasit tidak menemukan bukti verba. (AFP/Patricia De Melo Moreira)

Dalam Sidang Terbaru IFAB yang digelar Sabtu lalu, disepakati bahwa aturan tersebut akan difinalisasi sebagai regulasi baru sebelum Piala Dunia 2026.

Aturan itu pun secara tidak resmi mulai disebut sebagai "Undang-Undang Vinicius (Vinicius law)".

Langkah ini dipandang sebagai bukti keseriusan FIFA dalam memperkuat upaya melawan rasisme di sepak bola.

Kebijakan tersebut juga diperkirakan akan disambut positif oleh Real Madrid, yang terus memberikan dukungan kepada Vinicius di tengah proses penyelidikan UEFA terhadap Prestianni serta insiden tak menyenangkan yang terjadi di Estadio da Luz, 12 hari lalu.

 

Sumber: Football Espana

Berita Terkait