Bola.com, Jakarta - Performa Rafael Leao kembali menjadi bahan perdebatan di Italia. Ia dipuji sebagai pemain terbaik di Serie A Liga Italia, tapi di sisi lain ada anggapan AC Milan justru tampil lebih solid ketika sang bintang asal Portugal tidak bermain.
Perdebatan mengenai Rafael Leao ini semakin menarik karena melibatkan dua nama besar: Alessandro Florenzi dan Paolo Di Canio.
Leao mencetak satu gol dalam kemenangan 2-0 yang diraih AC Milan atas US Cremonese pada akhir pekan lalu. Meski begitu, Rossoneri masih tertinggal 10 poin dari rival sekota mereka, Inter Milan, yang berada di posisi puncak.
Musim ini, Leao memang sempat diganggu masalah kebugaran. Namun, kontribusinya tetap signifikan dengan sembilan gol dan dua assist dari 20 penampilan di Serie A.
Menariknya, Rafael Leao tak lagi selalu dimainkan sebagai winger kiri, melainkan diplot sebagai penyerang tengah dalam skema 3-5-2.
Florenzi: Leao Pemain Terbaik di Serie A
Florenzi, mantan bek AC Milan yang meraih Scudetto 2021/2022 bersama Leao, memberikan pembelaan tegas terhadap kualitas rekannya itu.
"Saya pikir pemain-pemain kuat harus mengambil tanggung jawab dan harus ditempatkan dengan baik di lapangan," ujar Florenzi.
"Mereka harus bermain dengan cara tertentu untuk mengekspresikan permainan mereka. Saya tidak tahu apakah Milan memberikan kepada Leao sebanyak yang Leao berikan kepada Milan saat ini," lanjutnya.
Menurut Florenzi, perubahan gaya bermain AC Milan turut memengaruhi performa sang bintang.
"Milan sekarang bermain dengan serangan balik, yang cocok untuknya, tetapi saya pernah melihatnya bermain dalam tim yang lebih harmonis dalam hal gaya permainan, dan dia tampil menonjol," ujarnya.
Ia pun menegaskan pendapatnya dengan kalimat: "Bagi saya, dia tetap pemain terbaik di Serie A."
Di Canio: Dilema untuk Allegri
Namun, Di Canio punya pandangan berbeda. Mantan striker AC Milan, Lazio, dan West Ham United itu menilai ada dilema besar bagi pelatih Massimiliano Allegri dalam memaksimalkan Leao.
"Ada dilema bagi Allegri karena Leao hanya benar-benar menentukan dalam enam pertandingan," ujar Di Canio.
"Ketika Leao ditarik keluar melawan Torino dan Pulisic masuk, Milan menyelesaikan comeback. Dalam enam pertandingan tanpa Leao, mereka mencetak 16 gol dan tidak kebobolan," lanjutnya.
Secara taktis, Di Canio menilai AC Milan justru lebih stabil tanpa Leao.
"Secara taktis, ini adalah tim yang lebih solid, mungkin kurang tak terduga, tetapi mereka lebih jarang terekspos dan mencapai gawang dengan kekuatan serta teknik," ujar Di Canio.
"Ini bukan satu atau dua pertandingan, ini enam pertandingan. Ini bukan berarti Leao tidak harus bermain. Tetapi apa yang harus dilakukan dengannya?” lanjutnya.
Meski demikian, data yang dipaparkan Di Canio ternyata sedikit keliru. Leao sebenarnya absen dalam tujuh laga Serie A musim ini, bukan enam. Dalam periode tanpa dirinya, Milan mencetak 15 gol dan kebobolan tiga kali.
Perdebatan ini menunjukkan satu hal: kualitas individu Leao tak diragukan, tetapi keseimbangan tim tetap menjadi pertimbangan utama.
Kini, keputusan ada di tangan Allegri, membangun tim sepenuhnya di sekitar sang bintang, atau mencari formula kolektif yang lebih stabil.
Sumber: Football Italia