Bola.com, Jakarta - Ketika hiruk-pikuk tes pramusim sudah berlalu, seluruh tim dan penggemar Formula 1 bersiap menyambut seri pembuka musim baru di Albert Park, Melbourne, akhir pekan ini.
Namun, di balik antusiasme menuju balapan perdana, tantangan besar justru datang dari luar lintasan.
Situasi geopolitik di Timur Tengah memunculkan kekhawatiran serius terhadap kelancaran kalender balap.
Konflik militer terbaru di kawasan tersebut memicu pembatasan wilayah udara, dengan sejumlah bandara utama di Dubai, Abu Dhabi, dan Bahrain mengalami pembatalan serta gangguan penerbangan secara masif.
Para pelaku perjalanan dipaksa mencari rute alternatif untuk menghindari area terdampak.
Dampaknya turut dirasakan paddock F1. Hampir seluruh tim, termasuk pendatang baru musim ini, Cadillac, memiliki markas atau basis teknis di Eropa.
Gangguan penerbangan membuat sejumlah personel harus menempuh jalur berbeda demi mencapai seri pembuka musim.
Jadwal Padat, Risiko Membayangi
Setelah balapan di Australia berakhir, rombongan F1 dijadwalkan langsung terbang ke China untuk Grand Prix China sepekan kemudian. Dua pekan setelahnya, Suzuka di Jepang menjadi tuan rumah seri ketiga musim ini.
Rangkaian balapan Asia berlanjut dengan Grand Prix Bahrain pada 12 April dan Grand Prix Arab Saudi pada 19 April.
Namun, dengan kondisi keamanan yang belum stabil, opsi penundaan bahkan pembatalan dua seri di Timur Tengah itu mulai menjadi pembahasan serius.
Ketegangan politik sebelumnya sudah berdampak langsung. Pirelli membatalkan tes ban basah bersama Mercedes dan McLaren di Bahrain akhir pekan lalu, menyusul kabar pasukan Iran menyerang pangkalan angkatan laut Amerika Serikat di kawasan tersebut.
Dengan jadwal ke Bahrain dan Arab Saudi tinggal sedikit lebih dari sebulan, pejabat F1 dilaporkan mulai menyiapkan sirkuit alternatif jika kedua balapan dinilai terlalu berisiko dari sisi keamanan.
FIA Pantau Situasi, Tak Ingin Gegabah
Reporter F1 Sky Sports, Craig Slater, mengungkapkan bahwa pihak penyelenggara belum ingin mengambil keputusan terburu-buru.
"Saya sudah menanyakan hal itu kepada Formula 1, dan mereka mengatakan sedang memantau situasi, tetapi tidak akan membuat reaksi yang gegabah," kata Slater.
Ia menambahkan bahwa FIA berharap situasi di Timur Tengah mereda sebelum rombongan tiba di Bahrain.
"Mereka menunjukkan masih ada empat atau lima minggu sebelum ajang itu digelar, dan mungkin situasinya bisa membaik, ada gencatan senjata, de-eskalasi, atau sesuatu yang serupa. Namun, sambil terus berkoordinasi dengan pemerintah di wilayah tersebut, mereka juga telah menunjukkan bahwa mereka bisa beradaptasi dan fleksibel dengan kalender di masa lalu," ujarnya.
Slater juga menyoroti betapa sulitnya menyisipkan ulang balapan jika harus dijadwal ulang ke akhir musim.
"Tidak mudah memikirkan di mana balapan itu bisa dimasukkan kembali. Ada sedikit jeda tiga minggu pada Mei. Ada juga libur musim panas Agustus, tetapi saat itu sangat panas di Timur Tengah untuk menambahkan balapan, mungkin di sekitar Singapura," ucapnya.
Tiga Sirkuit Opsi Pengganti
Jika situasi tak kunjung membaik hingga pertengahan April, beberapa nama sirkuit mulai mencuat sebagai kandidat pengganti.
Satu di antaranya adalah Sirkuit Portimao di Portugal. Lintasan sepanjang 2,9 mil itu sebenarnya dijadwalkan kembali ke kalender F1 pada 2027 setelah penandatanganan kontrak dua tahun. Namun, bukan tidak mungkin kembalinya Portimao dipercepat setahun lebih awal.
Sebelumnya, gangguan akibat pandemi COVID-19 membuat F1 secara mengejutkan menggelar balapan di Algarve pada 2020 dan 2021.
Opsi lain adalah Imola di Italia, yang dinilai mampu menjadi tuan rumah dalam waktu singkat jika dibutuhkan. Kandidat ketiga adalah Le Castellet di Prancis, yang lebih dikenal sebagai Circuit Paul Ricard.
Sirkuit tersebut pernah menjadi bagian reguler kalender F1 antara 1971 hingga 1990, sebelum kembali menggelar balapan pada periode 2018–2022.
Dari para pembalap aktif saat ini, hanya Lewis Hamilton dan Max Verstappen yang pernah meraih kemenangan di selatan Prancis, masing-masing dua kali.
Sumber: Give Me Sport