Rapor Merah Klub Inggris di Liga Champions: 6 Wakil Gagal Menang, Man City dan Chelsea Paling Merana

Tim-tim Liga Inggris mencatatkan rapor merah pada leg pertama 16 besar Liga Champions 2025/2026. Ada enam klub dari Liga Inggris di fase 16 besar dan semuanya gagal menang.

BolaCom | Yus Mei SawitriDiterbitkan 12 Maret 2026, 13:15 WIB
Erling Haaland (kiri) dan Marc Guehi dari Manchester City berjalan keluar lapangan setelah pertandingan leg pertama babak 16 besar Liga Champions antara Real Madrid dan Manchester City di Madrid, Spanyol, Kamis (12-3-2026) dini hari WIB. (AP Photo/Jose Breton)

Bola.com, Jakarta - Tim-tim Liga Inggris mencatatkan rapor merah pada leg pertama 16 besar Liga Champions 2025/2026. Bayangkan saja, ada enam klub dari Liga Inggris di fase 16 besar dan semuanya gagal menang. 

Pada Rabu (11/3/2026) dini hari WIB, ada tiga klub Premier League yang turun bertanding. Tak ada yang menang. 

Advertisement

Liverpool harus mengakui kemenangan tuan rumah Galatasaray dengan skor 1-0. Newcastle United bermain imbang dengan skor 1-1 melawan klub raksasa Liga Spanyol, Barcelona. 

Nasib paling merana dialami Tottenham Hotspur. Setelah babak belur di liga domestik, mereka juga tersungkur di Liga Champions. 

Tim asuhan Igor Tudor itu tidak berdaya dan dipecundangi Atletico Madrid dengan skor telak 5-2 di Wanda Metropolitano. 

Pada Kamis (12/3/2026) dini hari WIB, giliran tiga klub Inggris lainnya tampil. Lagi-lagi tak ada yang berhasll membukukan kemenangan. 

Manchester City dibuat babak belur di markas Real Madrid. Tim besutan Pep Guardiola keok dengan skor 0-3. 

Arsenal juga gagal mempertahankan rekor 100 persen kemenangan di Liga Champions musim ini. The Gunners ditahan imbang bayer Leverkusen dengan skor 1-1. 

Yang paling merana pada laga tadi malam adalah Chelsea. The Blues dibantai juara bertahan, Paris Saint-Germain 2-5, sehingga nasibnya di ujung tanduk.  


Ulangan Tragedi pada Musim 2022/2023

Penampilan dominan Real Madrid saat melibas Manchester City secara kejam merangkum 24 jam yang menyakitkan bagi klub-klub Premier League, yang selama ini mengklaim diri sebagai liga terbaik di dunia.

“Melihat defisit yang harus dikejar City dan Chelsea saat bermain di kandang, mereka tentu masih percaya bisa membalikkan keadaan. Tetapi menurut saya selisihnya sudah terlalu besar,” kata analis Match of the Day Nedum Onuoha kepada BBC Sport.

“Jadi meskipun peluang masih terbuka bagi semua tim Inggris, margin kesalahan mereka sekarang sangat kecil.”

Terakhir kali semua tim Inggris gagal menang pada leg pertama babak 16 besar terjadi pada musim 2022/2023. Jadi apa yang sebenarnya salah?

 


Tamparan bagi Dominasi Premier League

Gelandang Bayer Leverkusen asal Jerman bernomor punggung 08, Robert Andrich, merayakan gol pertama timnya selama pertandingan leg pertama babak 16 besar Liga Champions UEFA antara Bayer 04 Leverkusen vs Arsenal di Leverkusen, Jerman bagian barat, pada 12 Maret 2026. (UWE KRAFT/AFP)

Kekuatan Premier League sebelumnya dianggap terlihat jelas karena mengirim enam tim di babak 16 besar setelah fase liga. Namun hasil terbaru ini menjadi semacam“tamparan  bagi klaim dominasi tersebut, setelah City dan Chelsea mengalami kekalahan telak, menyusul Liverpool dan Spurs yang juga kalah sehari sebelumnya.

Pemuncak klasemen Premier League, Arsenal, bahkan membutuhkan penalti menit akhir dari Kai Havertz untuk memaksakan hasil imbang di kandang Leverkusen, yang saat ini berada di peringkat keenam Bundesliga, meskipun sebelumnya memenangkan delapan pertandingan dari delapan laga di fase liga.

Spurs dipermalukan oleh Atletico, Liverpool kalah dari Galatasaray, meskipun Newcastle masih bisa mendapat sedikit pujian karena hanya gagal menang setelah Barcelona mencetak penalti pada menit-menit akhir di St James’ Park.

Kini dibutuhkan penampilan besar pada leg kedua jika klaim Premier League sebagai “superpower” sepak bola tidak ingin terdengar kosong.

Lima dari tim tersebut memang memainkan leg pertama di kandang lawan. Namun Chelsea, Manchester City, dan Spurs tetap harus mengejar ketertinggalan tiga gol, sementara Arsenal dan Liverpool dinilai memiliki peluang terbaik untuk lolos.

 


Penurunan yang Mengejutkan

Penampilan buruk tersebut membuat kiper berkebangsaan Republik Ceko ditarik ke luar lapangan saat waktu masih menunjukkan 15 menit.

Penurunan ini cukup mengejutkan. Muncul pertanyaan apakah jadwal padat dan intensitas tinggi Premier League membuat performa tim-tim Inggris menurun ketika tampil di UEFA Champions League.

Jika melihat bukti ini, gambaran Premier League di Liga Champions tampaknya tidak seindah yang sering digambarkan.

Padahal sebelumnya situasinya terlihat sangat berbeda setelah format fase liga baru menghasilkan performa sempurna tim-tim Inggris, memunculkan spekulasi mereka bisa mendominasi fase akhir turnamen.

Namun kenyataannya tidak demikian. Tim-tim yang lolos lewat play-off seperti Bodo/Glimt, Atletico, Madrid, PSG, dan Galatasaray justru tampil impresif.

Mantan kiper timnas Inggris Paul Robinson, yang menyaksikan langsung pertandingan di Santiago Bernabeu, mengatakan kepada BBC Radio 5 Live. 

“Kami berbicara tentang dominasi tim-tim Inggris di Eropa. Lihat bagaimana mudahnya mereka lolos, juga di Liga Europa dan Conference League. Tetapi di Liga Champions, tidak satu pun tim Inggris yang menang.

“Manchester City sebenarnya berada dalam posisi lebih baik dibanding Real Madrid. Madrid dilanda banyak cedera. Tim mereka bahkan terlihat seperti skuad U-23 dengan beberapa pemain berpengalaman. Namun mereka sangat klinis, terlatih dengan baik, dan menghukum City lewat serangan balik.” 


Bagaimana Peluang Klub-klub Inggris?

Virgil van Dijk dari Liverpool, kanan atas, dan kiper Galatasaray Ugurcan Cakir berebut bola tinggi saat pertandingan leg pertama babak 16 besar Liga Champions antara Galatasaray dan Liverpool, di Istanbul, Turki, Rabu (11-3-2026) dini hari WIB. (AP Photo/Khalil Hamra)

Kini keenam tim Inggris mendapatkan prediksi peluang lolos ke perempat final yang lebih rendah dari Opta, dibandingkan sebelum leg pertama babak 16 besar dimainkan.

Namun analis Match of the Day Stephen Warnock menilai masih ada harapan bagi beberapa tim.

“Saya pikir ini masih berada di tangan Liverpool dan Arsenal, jauh lebih besar dibanding tim lainnya,” kata Warnock kepada BBC Sport.

“Pertandingan Newcastle United masih seimbang. Tetapi defisit yang dihadapi tim-tim lain terlalu besar, karena Anda bisa melihat lawan mereka kemungkinan besar akan mencetak gol lagi. Chelsea sering melakukan kesalahan di lini belakang. Manchester City juga terlihat rapuh dalam bertahan. Sementara Tottenham Hotspur benar-benar kacau.”

Dari dua pertandingan tersebut, Warnock menilai laga Liverpool justru paling berat.

“Pertandingan Liverpool bisa dibilang yang paling sulit. Arsenal bermain di kandang dan akan sangat kuat serta kemungkinan tampil lebih baik pada leg kedua. Sementara melawan Galatasaray, kita tahu Liverpool cukup lemah di lini belakang.”

Atmosfer di Anfield diperkirakan kembali luar biasa, tetapi Warnock tetap melihat tim asuhan Arne Slot masih rentan ketika lawan melakukan serangan.

City sebenarnya masih memiliki kualitas untuk percaya bisa membalikkan keadaan, meski Real Madrid tetap menjadi favorit kuat. Namun peluang Spurs dan Chelsea dinilai sangat kecil.

Tidak ada jaminan bahwa pelatih sementara Igor Tudor masih akan memimpin Spurs pada leg kedua nanti.

Bahkan, Spurs mungkin menganggap kompetisi ini sebagai gangguan, mengingat kondisi mereka di Premier League yang sangat buruk, hanya satu poin di atas zona degradasi.

Kekalahan telak mereka bahkan tertutup oleh kontroversi ketika Tudor menarik keluar kiper muda Antonin Kinsky setelah hanya 17 menit bermain, menyusul dua kesalahan yang berujung gol.

Dalam dua hari terakhir, reputasi Premier League mendapat pukulan telak di kompetisi Eropa. Kini tugas besar menanti tim-tim Inggris untuk memperbaiki keadaan pada leg kedua babak 16 besar UEFA Champions League. 

Sumber: BBC

Berita Terkait