Deretan Faktor Teknis dan Non-Teknis Runtuhnya Kehebatan Klub-Klub Jawa Timur di BRI Super League

Status provinsi dengan jumlah klub terbanyak di kasta teratas, tak membuat mereka mendominasi. Keempat klub Jawa Timur itu justru mengalami periode mengenaskan.

BolaCom | Wahyu PratamaDiterbitkan 13 Maret 2026, 08:15 WIB
Ilustrasi - Klub Jawa Timur: Madura United, Persebaya, Persik, Arema FC (Bola.com/Adreanus Titus)

Bola.com, Surabaya - Klub-klub Jawa Timur makin kehilangan tajinya. Alih-alih menjadi karakter utama, mereka mendalami peran figuran dalam kompetisi Super League 2025/2026.

Status provinsi dengan jumlah klub terbanyak di kasta teratas, tak membuat mereka mendominasi. Keempat klub Jawa Timur itu justru mengalami periode mengenaskan.

Advertisement

Persebaya Surabaya merupakan contoh klub yang sustainable di setiap musim. Bersaing di papan atas meski tak pernah benar-benar jadi penantang gelar. Namun, pada musim ini Bajul Ijo masih berada di papan tengah.

Kenyataan pahit lainnya harus diterima Arema FC dan Persik Kediri. Mantan juara Liga Indonesia ini terlihat inkonsisten di setiap musim dan selalu berjuang menghindar dari zona degradasi.

Namun, di antara lainnya, nasib Madura United jadi yang paling mengenaskan. Laskar Sape Kerrab bahkan terancam turun kasta musim depan jika tak segera berbenah.

Sebagai salah satu barometer sepak bola nasional, prestasi keempat klub ini jauh dari kata membanggakan. Pertanyaannya, apa yang membuat mereka gagal bersaing musim ini?


Kedalaman Skuad 'Abal-Abal' Persebaya Surabaya

Bruno Moreira berselebrasi dengan Jefferson usai sukses menjebol gawang Persib Bandung di Stadion GBT, Surabaya, Senin (2-3-2026). (Dok. persebaya.id)

Persebaya memupuk semangat besar pada awal musim. Jelang satu dekade klub kebanggaan arek-arek Suroboyo ini berdiri, mereka mencanangkan target yang masif.

Namun, angan-angan hebat itu tak diimbangi dengan perekrutan pemain yang mumpuni. Mereka juga terjebak dengan predikat pengorbit pemain bintang.

Rizky Ridho dan Marselino Ferdinan adalah anomali dari kompetisi internal Persebaya. Memiliki pemain seperti keduanya di setiap musim merupakan hal yang musykil.

Keberadaan Bernardo Tavares tak menutupi fakta kedalaman skuad Persebaya yang sangat apa adanya. Untuk bersaing musim depan, mereka tahu harus melakukan apa.


Transformasi Tak Sempurna Arema FC

Arema FC di BRI Super League 2025/2026. (Dok. ileague.id)

Singo Edan sebenarnya menunjukkan tren positif pada awal 2026. Kehadiran pemain-pemain dari transfer paruh musim, sempat memberikan nafas baru.

Gabriel Silva, Gustavo Franca, Hansamu Yama dan Joel Vinicius langsung ditunjuk sebagai pilar. Hal itu memaksa pemain lama macam Dendi Santoso dan Johan Alfarizi menepi.

Namun, transformasi Arema FC tak bisa berjalan sempurna. Walau memiliki lini depan yang mentereng, pertahanan mereka tampak keropos dalam setiap serangan.

Lini belakang Arema merindukan sosok Luis Gustavo. Pria Brasil itu terpaksa naik meja operasi setelah menderita cedera ACL pada Januari silam.


Mentalitas Memble Si Musafir Persik Kediri

Persik Kediri di BRI Super League 2025/2026. (Dok.ileague.id)

Persik Kediri menjadi korban infrastruktur yang tidak siap. Stadion Brawijaya kerap dianggap tak layak dalam menggelar pertandingan Macan Putih musim ini.

Lampu stadion yang tak sesuai standar memaksa mereka jadi klub musafir. Gelora Joko Samduro di Kabupaten Gresik, ditunjuk sebagai rumah kedua.

Terlepas dari peningkatan sisi teknis di bawah kepelatihan Marcos Reina, mentalitas tim di luar kandang tampak rendah. Mereka berulang kali gagal meraih poin penuh di depan mata.

Tiga laga kandang rasa tandang, juga termasuk dalam hal ini. Mereka dijauhi dewi fortuna usai tiga kali nirkemenangan saat menghadapi 'tamu-tamunya'.


Runtuhnya Kejayaan Laskar Sape Kerrap

Pemain Madura United menguasai bola saat melawan Persib Bandung pada laga pekan ke-23 BRI Super League 2025/2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Kota Bandung, Kamis (26/2/2026) malam WIB. (Bola.com/Erwin Snaz)

Kondisi paling memprihatinkan dialami oleh Madura United. Sempat menjadi tim yang disegani, musim ini mereka justru menjadi kandidat kuat turun ke kasta kedua.

Pemecatan Alfredo Vera menjadi awal masalah yang mendera. Penunjukan Carlos Parreira sebagai suksesor merupakan sebuah perjudian di sisa kompetisi.

Namun, masalah terbesar mereka adalah kegagalan merekrut striker asing yang tokcer. Padahal di setiap edisi, Madura United selalu punya striker berbahaya.

Bursa transfer paruh musim juga tak dimanfaatkan dengan baik. Cengkeraman degradasi sepertinya tak terhindarkan lagi bagi klub yang baru saja menginjak satu dekade ini. Kado pahit!


Persaingan di BRI Super League

Berita Terkait