Meski Gelar Dicabut, Senegal Ngotot Tetap Arak Trofi Piala Afrika 2025 di Paris

Senegal bersikeras tetap mengarak trofi Piala Afrika 2025, meski gelarnya dicabut.

BolaCom | Aning JatiDiterbitkan 27 Maret 2026, 10:00 WIB
Para anggota tim Senegal merayakan kemenangan dengan trofi setelah memenangkan pertandingan final Piala Afrika (CAN) melawan Maroko di Stadion Pangeran Moulay Abdellah di Rabat pada 18 Januari 2026. (Abdel Majid BZIOUAT/AFP)

Bola.com, Jakarta - Timnas Senegal berkeras tetap mengarak trofi Piala Afrika 2025 menjelang laga uji coba melawan Peru di Stade de France, Saint-Denis, Prancis, Sabtu atau Minggu (29-3-2026) dini hari WIB, meski gelar mereka resmi dicabut.

Federasi Sepak Bola Senegal (FSF) bahkan menyatakan akan melancarkan "perang" terhadap keputusan kontroversial tersebut.

Advertisement

Langkah itu menjadi bentuk perlawanan terbuka setelah keputusan Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF) yang menganulir kemenangan Senegal di final dan menyerahkan gelar kepada Maroko.

Dalam jadwal resmi yang dirilis melalui media sosial federasi, Senegal tetap memasukkan agenda parade trofi sebelum pertandingan di Prancis.

Sikap ini menegaskan bahwa mereka belum menerima keputusan pencabutan gelar.

Presiden FSF, Abdoulaye Fall, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam.

"Berhadapan dengan apa yang merupakan perampokan administratif paling terang-terangan dan belum pernah terjadi dalam sejarah olahraga kita, Federasi Sepak Bola Senegal menolak menganggap ini sebagai sesuatu yang tak terelakkan," kata Fall dalam konferensi pers di Paris.

Ia juga menegaskan sikap keras federasi.

"Senegal tidak akan tunduk dan tidak akan mengorbankan nilai-nilainya. Perjuangan kami kini melampaui lapangan sepak bola," ujarnya.


Awal Mula Kontroversi Final

Idrissa Gueye dari Senegal meminta para pemain untuk meninggalkan lapangan selama pertandingan final Piala Afrika antara Senegal dan Maroko, di Rabat, Maroko, Senin (19-1-2026) dini hari WIB. (AP Photo/Mosa'ab Elshamy)

Senegal sejatinya meraih gelar Piala Afrika kedua mereka pada 18 Januari 2026 setelah mengalahkan tuan rumah Maroko 1-0 lewat perpanjangan waktu.

Namun, laga final di Rabat berakhir kacau. Para pemain Senegal meninggalkan lapangan setelah Maroko mendapat penalti pada masa tambahan waktu saat skor masih imbang tanpa gol.

Dalam momen krusial itu, penyerang Maroko yang juga bermain untuk Real Madrid, Brahim Diaz, gagal mengeksekusi penalti bergaya panenka pada menit ke-114.


Maroko Protes, Senegal Dihukum

Pemain Senegal Lamine Camara (kanan) berebut bola dengan pemain Maroko Achraf Hakimi (kiri) dan Bilal El Khannouss pada laga final AFCON/Piala Afrika antara Senegal vs Maroko di Rabat, Maroko, Minggu, 18 Januari 2026. (AP Photo/Themba Hadebe)

Federasi Sepak Bola Kerajaan Maroko (FRMF) langsung mengajukan protes ke CAF dan FIFA. Mereka menilai aksi Senegal meninggalkan lapangan "sangat memengaruhi jalannya pertandingan secara normal dan mental para pemain".

Awalnya, Komite Disiplin menolak banding tersebut dan hanya menjatuhkan sanksi kepada kedua tim, termasuk larangan lima pertandingan untuk pelatih Senegal, Pape Thiaw, pada 29 Januari 2026.

Namun, pihak Maroko menilai hukuman itu tidak mencerminkan tingkat keparahan insiden.

Komite Banding kemudian membatalkan keputusan awal pada 17 Maret, menyatakan Senegal melanggar pasal 82 dan 84 regulasi kompetisi.

Dalam pasal 82 disebutkan bahwa tim yang meninggalkan lapangan sebelum pertandingan berakhir tanpa izin wasit akan dinyatakan gugur.

Hasilnya, kemenangan Senegal dianulir dan Maroko dinyatakan menang 3-0.


Senegal Banding ke CAS

Gelandang Senegal #26, Pape Gueye (kiri), dan rekan-rekan setimnya merayakan kemenangan mereka di akhir pertandingan final Piala Afrika (CAN) 2025 antara Senegal dan Maroko di Stadion Pangeran Moulay Abdellah di Rabat, Senin (19-1-2026) dini hari WIB. (FRANCK FIFE/AFP)

Kasus ini kini dibawa ke Pengadilan Arbitrase Olahraga (CAS), yang telah mengonfirmasi menerima banding dari Senegal dan berjanji akan memutuskan secepat mungkin.

Pemerintah Senegal bahkan sempat menyerukan penyelidikan atas dugaan korupsi di tubuh CAF, meski tudingan itu dibantah oleh Presiden CAF, Patrice Motsepe.

"Penting bahwa keputusan Komite Disiplin dan Komite Banding kami dipandang dengan rasa hormat dan integritas," kata Motsepe.

FSF menyiapkan tim hukum untuk melawan keputusan tersebut.

"Untuk menjalankan perjuangan moral dan hukum ini, kami telah menunjuk tim profesional berpengalaman dengan keahlian yang tak terbantahkan," kata Fall.


Keputusan Tidak Masuk Akal

Pelatih kepala Senegal, Pape Thiaw (C), dan tim merayakan kemenangan dengan trofi setelah memenangkan pertandingan final Piala Afrika (CAN) 2025 melawan Maroko di Stadion Pangeran Moulay Abdellah di Rabat, Senin (19-1-2026) dini hari WIB. (Abdel Majid BZIOUAT/AFP)

Satu di antara anggota tim hukum FSF, Seydou Diagne, menyebut keputusan pencabutan gelar sebagai sesuatu yang sulit diterima.

"Keputusan ini begitu terang-terangan, begitu absurd, begitu tidak rasional," kata Diagne.

"Putusan Komite Banding bahkan tidak bisa dianggap sebagai keputusan keadilan olahraga yang sebenarnya. Ini adalah serangan yang tidak dapat diterima terhadap hak-hak mendasar federasi kami," ujarnya.

Sementara itu, pengacara lain di tim hukum FSF, Juan Perez, menilai kasus ini belum pernah terjadi sebelumnya.

"Pertandingan yang sudah selesai, dengan hasil yang ditentukan oleh wasit, kini diadili ulang secara administratif, ini belum pernah terjadi. Ini bisa mengubah dunia sepak bola," ucapnya.

CAF sempat memperbarui laman resmi mereka dengan mencantumkan Maroko sebagai juara Piala Afrika 2025, meski halaman tersebut kini sudah tidak lagi dapat diakses.

Dengan Senegal menolak menyerahkan trofi dan tetap merencanakan parade, sengketa mengenai siapa yang berhak atas gelar juara Afrika masih jauh dari kata selesai.

 

Sumber: BBC

Berita Terkait