Bola.com, Jakarta - Perburuan gelar Premier League musim ini memasuki fase paling menentukan. Di tengah persaingan ketat antara Manchester City dan Arsenal, satu nama muncul sebagai pembeda yang sulit dijinakkan, Rayan Cherki.
Di dalam sistem disiplin tinggi racikan Pep Guardiola, Cherki justru tampil sebagai anomali. Ia adalah pemain yang diberi kebebasan lebih, sesuatu yang jarang terjadi di skuad Manchester City.
Tidak jarang Guardiola terlihat menggelengkan kepala melihat aksi Cherki di lapangan. Namun di balik itu, ada kesadaran bahwa pemain asal Prancis tersebut menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki pemain lain.
Di saat persaingan gelar semakin menipis jaraknya, Cherki bisa menjadi faktor penentu. Jika City mampu menyalip Arsenal, bukan tidak mungkin ia akan dikenang sebagai simbol kebangkitan mereka.
Kreativitas Langka yang Tidak Dimiliki Arsenal
Cherki dianggap sebagai tipe kreator alami yang kini semakin langka di Premier League. Ia mampu menciptakan peluang dari situasi yang tampak buntu, sesuatu yang justru menjadi kelemahan Arsenal belakangan ini.
Hal itu terlihat jelas saat Arsenal kalah dari Bournemouth. Tim asuhan Mikel Arteta hanya mencatat 0,18 expected goals dari open play, angka yang menggambarkan betapa mandeknya kreativitas mereka.
Sebaliknya, Manchester City tampil menggila saat menghancurkan Chelsea di Stamford Bridge. Dalam laga tersebut, Cherki menjadi pusat permainan dengan dua assist dan pergerakan tanpa bola yang sulit dibaca.
Kontras performa kedua tim semakin menegaskan perbedaan mendasar. Cherki adalah apa yang tidak dimiliki Arsenal saat ini, pemain yang bisa mengubah jalannya pertandingan dalam sekejap.
Statistik Bicara, Cherki Bukan Sekadar Sensasi
Meski baru 15 kali menjadi starter di liga musim ini, kontribusi Cherki sudah sangat signifikan. Ia hanya kalah dari Bruno Fernandes dalam jumlah assist.
Bahkan, dalam metrik expected assists per 90 menit, Cherki unggul atas gelandang Manchester United tersebut. Ia juga termasuk pemain dengan jumlah peluang besar terbanyak yang diciptakan.
Guardiola sendiri tidak ragu memberikan pujian tinggi.
“Statistiknya luar biasa dan kualitasnya di musim pertamanya di Premier League sangat unik. Rayan punya sesuatu yang spesial,” ujar Guardiola.
Ia bahkan menyoroti satu momen spesifik saat melawan Chelsea.
“Untuk gol kedua, saya bilang pilih umpan yang tepat, dan dia memberi umpan ke Marc Guéhi yang bahkan tidak bisa saya lihat dari pinggir lapangan. Dia talenta top,” lanjutnya.
Antara Kebebasan dan Disiplin
Meski demikian, hubungan Cherki dengan Guardiola tidak selalu mulus. Sang pelatih beberapa kali mengkritik etos kerja pemain berusia 22 tahun tersebut.
Cherki juga sempat ditegur karena dianggap terlalu sering melakukan aksi berlebihan di lapangan. Namun di sisi lain, Guardiola juga dihadapkan pada dilema, terlalu mengekang bisa mematikan kreativitas alaminya.
Di sinilah letak keunikan Cherki. Ia adalah pengecualian dalam sistem Guardiola, pemain nomor 10 klasik yang diberi ruang untuk berekspresi.
Arsenal Masih Mencari Dimensi Tambahan
Situasi ini berbanding terbalik dengan Arsenal. Mereka sebenarnya mencoba menghadirkan sosok kreator lewat Eberechi Eze yang didatangkan dari Crystal Palace.
Namun, kontribusi Eze belum konsisten. Dalam laga melawan Bournemouth, ia gagal memberikan dampak signifikan meski dimainkan cukup lama.
Arsenal pun dinilai belum berkembang sejak awal musim. Mereka masih menjadi tim yang sama, tanpa dimensi tambahan yang bisa menjadi pembeda di momen krusial.
Sementara itu, Manchester City terus berevolusi. Guardiola bereksperimen dengan berbagai taktik dan kombinasi pemain, menjadikan timnya semakin fleksibel.
Di tengah proses tersebut, Cherki muncul sebagai elemen kunci. Ia adalah pemain yang melihat sesuatu yang tidak dilihat orang lain, bahkan oleh pelatihnya sendiri.
Dengan duel puncak klasemen di depan mata, kehadiran Cherki bisa menjadi faktor yang menentukan arah gelar. Menyaksikannya adalah hiburan, kecuali bagi Arsenal yang berpotensi menjadi korban berikutnya.