Bola.com, Jakarta - Suasana Liverpool di Anfield mulai berubah. Sorakan dukungan yang selama ini identik dengan stadion legendaris itu kini bercampur siulan kecewa, tanda bahwa kesabaran suporter terhadap tim racikan Arne Slot mulai menipis.
Satu hal yang cepat dipelajari Slot sejak datang ke Merseyside adalah tuntutan publik Anfield tidak hanya soal kemenangan. Suporter Liverpool juga menuntut energi, tekanan agresif, dan permainan yang bisa menghidupkan atmosfer stadion.
Masalahnya, Liverpool terlalu sering tampil datar di kandang sendiri musim ini. Tim kehilangan percikan permainan yang bisa memancing antusiasme penonton, sekaligus gagal mematikan lawan setelah unggul lebih dulu.
Situasi itu kembali terlihat saat menghadapi Chelsea, Sabtu petang kemarin.
Liverpool sempat unggul cepat melawan tim tamu yang sebelumnya menelan enam kekalahan beruntun di Premier League. Momentum tersebut seharusnya bisa dipakai untuk mengendalikan pertandingan dan mengamankan kemenangan penting.
Namun, tim asuhan Slot justru memberi ruang bagi Chelsea untuk bangkit. Tim racikan Calum McFarlane perlahan mengambil kendali permainan dan mulai merepotkan pertahanan Liverpool.
"Kami melakukan penyesuaian saat jeda dan itu membantu kami lebih dominan di babak kedua. Kami dua kali hampir mencetak gol," kata Slot.
"Jadi, tidak adil jika ada yang mengatakan saya meminta pemain mundur atau berhenti menekan lawan. Kalau memang terlihat seperti itu, itu bukan niat kami," jelas Slot.
Identitas Permainan
Gol penyeimbang Enzo Fernandez membuat Liverpool kini sudah kehilangan sembilan poin dari posisi unggul dalam laga kandang Premier League musim ini.
Jumlah itu menjadi yang terburuk di Anfield sejak musim 2015/2016, periode ketika Jurgen Klopp menggantikan Brendan Rodgers.
Saat Klopp masih menangani Liverpool, asisten pelatih Pep Lijnders pernah memperkenalkan slogan, "Identitas kami adalah intensitas".
Slot memang datang bukan untuk meniru Klopp. Ia diberi kebebasan membangun pendekatan sendiri. Namun, sejauh musim ini berjalan, Liverpool justru terlihat belum memiliki identitas permainan yang jelas dan minim tekanan agresif.
"Saya pikir Liverpool sebenarnya memulai laga dengan cukup baik dan mencetak gol. Setelah itu Chelsea menjadi tim yang lebih baik,” kata Wayne Rooney dalam program "Match of the Day".
"Mereka memberi banyak masalah kepada Liverpool, terutama pergerakan Marc Cucurella dari belakang," ulasnya.
"Suporternya terlihat sedikit gelisah, dan itu jarang terjadi pada fans Liverpool. Itu datang karena musim mereka tidak berjalan sesuai harapan, apalagi setelah mengeluarkan banyak uang."
Tetap Minta Dukungan
Untuk kesekian kalinya musim ini, siulan keras kembali terdengar setelah peluit akhir berbunyi, meski Liverpool tidak kalah. Kekecewaan yang awalnya ramai di media sosial, kini mulai benar-benar terasa langsung di stadion.
"Itu mungkin karena kami tidak menang," ujar Slot kepada TNT Sports.
"Wajar jika orang kecewa ketika Liverpool gagal menang," imbuhnya.
Gelandang Ryan Gravenberch juga meminta dukungan penuh dari suporter.
"Sejujurnya kami membutuhkan mereka di belakang kami. Oke, kami memang tidak menang, tetapi saya rasa kami tidak pantas mendapat reaksi seperti ini," keluh Gravenberch.
"Suporter harus mendukung kami selama 90 menit penuh, karena ketika mereka mendukung kami di babak kedua, tekanan kami berjalan sangat baik. Kami membutuhkan mereka. Semoga itu tidak terjadi lagi dalam dua pertandingan berikutnya," lanjutnya.
Cemoohan Keras
Saat ditanya soal siulan suporter dalam konferensi pers seusai laga, Slot sempat kesulitan mencari kata-kata yang tepat dalam bahasa Inggris.
"Saya ingin memberi mereka sesuatu yang berbeda, tetapi saat ini kami belum mampu melakukannya," ucap Slot.
"Kami sebenarnya mampu mendominasi pertandingan dan menguasai bola lebih banyak. Saya ingin memberi mereka lebih banyak alasan untuk senang dan positif, dan saya yakin 100 persen tim ini juga menginginkan hal yang sama," tutur mantan pelatih Feyenoord itu.
Siulan paling keras justru terdengar pada menit ke-67 ketika Slot menarik keluar Rio Ngumoha, pemain muda Liverpool yang tampil "hidup" dalam pertandingan tersebut.
Belakangan, Slot menjelaskan pemain berusia 17 tahun itu mengalami kram.
"Reaksi itu masuk akal ketika Anda menarik keluar pemain yang tampil bagus dan memberi assist. Orang-orang tentu tidak mengharapkan keputusan itu, dan sebenarnya itu juga bukan rencana saya," kata Slot.
"Dia pemain bagus, tetapi saya rasa dia belum berada di level untuk bermain dengan kondisi 50 atau 60 persen, lalu tetap membuat perbedaan. Saya sudah tahu reaksi seperti itu akan muncul ketika nomornya ditampilkan," ujarnya.
Periode Penting Liverpool
Slot kemudian memasukkan Federico Chiesa pada menit ke-77, lebih cepat dibanding biasanya musim ini. Namun, pemain Italia itu tidak memberi dampak lebih besar dibanding Cody Gakpo yang digantikannya.
Chiesa memang masih punya lagu khusus dari suporter Anfield, tetapi masa depannya diyakini tidak akan lama di Liverpool dan berpeluang hengkang pada musim panas ini.
Musim panas ini diperkirakan menjadi periode penting bagi Liverpool. Perubahan tambahan dianggap mutlak diperlukan, sesuatu yang juga terlihat jelas oleh Direktur Olahraga klub, Richard Hughes, yang hadir langsung di Anfield.
Petinggi Liverpool memahami bahwa proses transisi tidak cukup hanya dengan mengganti pemain. Tim juga harus kembali memainkan sepak bola yang bisa dinikmati suporter.
"Saya yakin 100 persen kami akan menjadi tim yang berbeda musim depan jika kami mendapatkan musim panas yang kami inginkan," ujar Slot.
Kalimat itu diucapkan dengan keyakinan penuh, seolah menunjukkan ia percaya masih akan menjadi pelatih Liverpool ketika musim baru dimulai pada Agustus nanti.
Sumber: BBC