Bola.com, Jakarta - Jelang Piala Dunia 2026, nama-nama muda seperti Estêvão dan Rayan sudah masuk radar tim nasional masing-masing. Namun sebelum mereka menulis cerita mereka sendiri, ada deretan pemain yang lebih dulu mengukir namanya di panggung terbesar sepak bola dunia saat usia mereka belum genap 18 tahun.
Keberanian pelatih mempercayai pemain muda di Piala Dunia sudah terjadi sejak turnamen ini pertama kali digelar pada 1930. Ada yang berhasil mengubah momen itu menjadi batu loncatan karier gemilang, namun tidak sedikit pula yang ternyata justru mencapai puncak terlalu cepat, dan tak pernah kembali ke level itu.
Berikut 10 pemain termuda dalam sejarah Piala Dunia.
10. Garang Kuol (Australia) – 18 Tahun, 68 Hari
Garang Kuol menjadi pilihan berani Australia di Piala Dunia Qatar 2022, dipanggil saat usianya baru 17 tahun setelah menandatangani kontrak bersama Newcastle United di musim panas tahun itu. Namanya sempat menjadi perbincangan, namun kariernya tidak berkembang sesuai ekspektasi.
Kuol kini berjuang mendapatkan menit bermain bersama Sparta Prague di Ceko, dan belum pernah dipanggil lagi oleh Tony Popovic sejak mengambil alih kursi pelatih Socceroos. Momen paling diingatnya justru berupa peluang emas yang gagal ia manfaatkan di babak 16 besar melawan Argentina, tembakan yang andai masuk bisa saja mengubur momen penobatan Lionel Messi di Qatar.
9. Carvalho Leite (Brasil) – 18 Tahun, 25 Hari
Carvalho Leite menjadi pemain termuda dalam sejarah Piala Dunia hingga 1958, tampil mewakili Brasil di Piala Dunia pertama mereka pada 1930 melawan Yugoslavia kurang dari sebulan setelah berulang tahun ke-18. Ia adalah penyerang subur yang kemudian membangun karier cemerlang bersama Botafogo, meski di Uruguay ia gagal mencetak gol dan Brasil tersingkir di fase grup.
Leite tercatat sebagai anggota terakhir yang masih hidup dari skuad Brasil 1930, sebelum akhirnya meninggal dunia di usia 92 tahun pada 2004.
8. Youssoufa Moukoko (Jerman) – 18 Tahun, 3 Hari
Moukoko pernah dianggap sebagai fenomena yang ditakdirkan untuk meraih kejayaan, namun karier seniornya jauh dari harapan yang pernah ia ciptakan semasa di akademi. Hansi Flick memanggilnya ke Piala Dunia 2022 hanya tiga hari setelah ia berulang tahun ke-18, saat Moukoko sedang mencuri perhatian sebagai pencetak gol semi-reguler di Borussia Dortmund.
Setelah Qatar, kariernya justru meredup. Musim demi musim dilewati dengan penampilan yang jauh dari impresif, termasuk satu musim pinjaman ke Nice. Kini ia bermain di Copenhagen, Denmark, dengan hanya dua caps internasional dan nyaris tidak ada peluang untuk kembali ke timnas Jerman.
7. Rigobert Song (Kamerun) – 17 Tahun, 354 Hari
Rigobert Song tampil di empat Piala Dunia dan menjadi pemain paling banyak mewakili Kamerun sepanjang sejarah, sebuah karier yang dimulai saat ia baru berusia 17 tahun. Di Amerika Serikat 1994, ia tampil dalam dua laga dan menorehkan rekor yang kurang membanggakan.
Song menjadi pemain termuda yang dikartu merah di Piala Dunia setelah melanggar keras Bebeto dalam laga melawan Brasil. Kamerun pun tersingkir di fase grup, jauh dari pencapaian mereka empat tahun sebelumnya di Italia.
6. Bartholomew Ogbeche (Nigeria) – 17 Tahun, 244 Hari
BBC menyebut Ogbeche sebagai "temuan luar biasa" Paris Saint-Germain menjelang Piala Dunia 2002, saat pemain berusia 17 tahun itu diharapkan menjadi bintang Nigeria di Asia Timur. Namun janjinya tidak pernah terpenuhi, baik di level klub maupun internasional.
Ogbeche tampil dua kali tanpa mencetak gol bersama Nigeria yang pulang tanpa satu pun kemenangan dari "Grup Kematian." Ia tidak pernah dipanggil lagi setelah 2004, meski kariernya berlanjut panjang hingga akhirnya gantung sepatu pada 2023 setelah beberapa tahun bermain di India.
5. Pelé (Brasil) – 17 Tahun, 235 Hari
Musim panas 1958 di Swedia menjadi panggung kelahiran legenda yang namanya abadi hingga kini. Pelé yang baru berusia 17 tahun menginspirasi Brasil meraih gelar juara dunia pertama mereka, meski ia melewatkan dua laga awal akibat cedera lutut.
Ia menjadi pencetak gol termuda dalam sejarah Piala Dunia saat Brasil mengalahkan Wales 1-0 di perempat final. Setelah itu, ia mencetak hat-trick di semifinal saat Brasil menghancurkan Prancis 5-2, lalu menambah dua gol lagi di final melawan tuan rumah Swedia. Raja Swedia Gustaf VI Adolf bahkan mencarinya khusus untuk berjabat tangan sebelum final dimulai, dan julukan "O Rei" (Sang Raja) pun melekat selamanya.
4. Salomon Olembé (Kamerun) – 17 Tahun, 185 Hari
Olembé sudah menunjukkan keberanian luar biasa sejak usia 16 tahun, saat ia tampil di Wembley melawan Inggris dalam debutnya bersama Kamerun pada 1997. Setahun kemudian, ia mencatatkan tiga penampilan di Piala Dunia 1998 Prancis sebagai awal dari karier internasional yang produktif.
Olembé mempersembahkan gelar Ligue 1 bersama Nantes pada 2001 dan menjadi bagian dari tim Kamerun yang meraih gelar Piala Afrika dua kali berturut-turut pada 2000 dan 2002, mencetak tiga gol di edisi terakhir. Total ia tampil 65 kali untuk Kamerun.
3. Femi Opabunmi (Nigeria) – 17 Tahun, 101 Hari
Opabunmi adalah bintang Piala Dunia U-17 pada 2001 dan tampak siap meledak di pentas tertinggi setelah pindah ke Grasshopper Swiss. Pelatih Nigeria Festus Onigbinde memberikannya kepercayaan di Piala Dunia 2002, dan Opabunmi menjadi salah satu pemain termuda yang pernah bermain di turnamen itu.
Namun dalam empat tahun setelah penampilan bersejarah itu, Opabunmi terpaksa pensiun. Keluhan mata yang dideritanya ternyata adalah glaukoma serius yang merenggut penglihatan di satu matanya, mengakhiri karier yang harusnya baru saja dimulai.
2. Samuel Eto'o (Kamerun) – 17 Tahun, 99 Hari
Berbeda dari banyak nama lain dalam daftar ini, Samuel Eto'o benar-benar membuktikan bahwa potensinya bukan sekadar kilat sesaat. Sebelum menjadi salah satu penyerang terbaik generasinya bersama Barcelona dan Inter Milan, Eto'o sudah berdiri di panggung Piala Dunia pada usia 17 tahun.
Real Madrid memboyongnya pada 1997 namun melepasnya tiga tahun kemudian dalam keputusan yang terbukti sangat disesali. Di Piala Dunia 1998, ia masuk sebagai pemain pengganti dalam kekalahan dari Italia, lalu terus berkembang hingga tampil di empat Piala Dunia secara total. Eto'o juga menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah Piala Afrika dengan 18 gol.
1. Norman Whiteside (Irlandia Utara) – 17 Tahun, 41 Hari
Rekor Norman Whiteside sudah berdiri selama 44 tahun dan belum ada yang mampu menggesernya. Pemain didikan Manchester United ini baru berulang tahun ke-17 sebanyak 41 hari sebelum Irlandia Utara menghadapi Yugoslavia di Piala Dunia 1982 Spanyol, menjadikannya pemain termuda sepanjang sejarah turnamen ini.
Whiteside tampil cukup meyakinkan untuk memenangkan kepercayaan manajer United Ron Atkinson, dan kemudian membukukan lebih dari 200 laga liga bersama The Red Devils serta kembali tampil di Piala Dunia 1986. Namun seperti banyak nama dalam daftar ini, kariernya berakhir terlalu cepat akibat rentetan cedera lutut yang memaksanya pensiun pada usia 26 tahun.