Bola.com, Jakarta - Timnas Iran sudah tiba di Antalya, Turki, Senin (18/5/2026) malam waktu setempat, untuk menjalani pemusatan latihan menjelang Piala Dunia 2026. Meski sudah memulai persiapan menghadapi Piala Dunia 2026, Iran masih diselimuti masalah tentang ketidapastian soal visa Amerika Serikat (AS).
Iran akan berada di Turki selama beberapa pekan di Turki. Di sana, mereka juga akan sekaligus mengurus visa untuk masuk di AS sebagai salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026. Namun, Piala Dunia kali ini memang berbeda karena diwarnai berbagai kontroversi, termasuk soal visa.
Rombongan Iran berisi 22 pemain bersama staf pelatih mendarat di kota resor Mediterania tersebut dengan mengenakan tracksuit biru tua. Hingga kini, mereka masih belum mendapatkan visa masuk ke Amerika Serikat, sementara perang dengan negara tuan rumah Piala Dunia itu secara teknis baru berada dalam status jeda.
Tim berjuluk Team Melli itu diperkirakan akan menetap di Antalya selama beberapa pekan sebelum bertolak ke Amerika Serikat untuk mengikuti Piala Dunia 2026 yang digelar bersama oleh AS, Kanada, dan Meksiko.
Gara-gara Iran dan Amerika Serikat memutus hubungan diplomatik sejak 1980, skuad Iran tidak memiliki kedutaan besar AS di negaranya untuk memproses dokumen perjalanan, sehingga persinggahan di Turki menjadi kebutuhan logistik yang penting.
Latar Belakang Konflik
Seperti dikutip dari Turkiye Today, Selasa (10/5/2026), pelatih Iran, Amir Ghalenoei, pada Sabtu (16/5/2026), sudah mengonfirmasi bahwa pengurusan aplikasi visa menjadi salah satu tujuan utama pemusatan latihan tersebut. Presiden federasi sepak bola Iran, Mehdi Taj, bahkan mengatakan kepada media Iran belum ada visa yang diterbitkan.
Latar belakang keberangkatan skuad Iran terjadi di tengah konflik aktif yang untuk sementara dihentikan. Amerika Serikat bersama Israel meluncurkan kampanye pengeboman pertama terhadap Iran pada 28 Februari, yang menyeret kedua negara ke dalam perang terbuka.
Gencatan senjata telah berlaku sejak 8 April, tetapi serangan drone baru-baru ini di kawasan Teluk serta ancaman baru dari Presiden AS Donald Trump meningkatkan kekhawatiran bahwa konflik dapat kembali pecah sebelum Piala Dunia 2026 dimulai.
Meski perang berlangsung, FIFA menolak permintaan Iran untuk memindahkan pertandingan fase grup mereka ke Meksiko atau Kanada.
Iran tergabung di Grup G dan akan memainkan seluruh pertandingan grup di wilayah Amerika Serikat, yaitu laga pembuka melawan Selandia Baru pada 15 Juni di Los Angeles, pertandingan kedua melawan Belgia di kota yang sama, dan laga terakhir grup menghadapi Mesir di Seattle. Base camp mereka akan berada di Tucson.
Saat ditanya mengenai partisipasi Iran pada akhir April, Donald Trump memberikan jawaban singkat. “Biarkan mereka bermain.”
Seremoni Pelepasan Timnas Iran
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, berbicara lebih hati-hati. Ia mengatakan kekhawatiran bukan terletak pada para pemain, melainkan “beberapa orang lain yang ingin mereka bawa bersama,” yang mengindikasikan kemungkinan pemeriksaan ketat terhadap anggota delegasi yang memiliki hubungan dengan Korps Garda Revolusi Iran.
Mehdi Taj, yang memimpin federasi sepak bola Iran dan ikut bepergian bersama skuad, diketahui merupakan mantan anggota Garda Revolusi. Aturan serupa juga berlaku di Kanada. Bulan lalu, pejabat federasi Iran membatalkan rencana perjalanan ke Kongres FIFA di Kanada setelah mengaku “dihina” oleh petugas imigrasi setibanya di sana.
Sekretaris Jenderal FIFA, Mattias Grafstrom, bertemu dengan Taj dan federasi Iran di Istanbul pada Sabtu dan menggambarkan pembicaraan tersebut sebagai pertemuan yang konstruktif.
Sebelum berangkat, Timnas Iran dilepas dalam sebuah seremoni di Enghelab Square, Tehran. Dalam tayangan televisi pemerintah, terlihat para pendukung mengibarkan bendera sambil memberikan dukungan kepada para pemain.
Sumber: Turkiye Today