Followers Vozinha Meledak! Tembus 5,3 Juta setelah Melesat 104 Kali Lipat Imbas Bikin Spanyol Mati Kutu di Piala Dunia 2026

Nama Vozinha mendadak menjadi buah bibir. Kiper Timnas Cape Verde itu bermain luar biasa ketika timnya mengimbangi Timnas Spanyol.

BolaCom | Muhammad Adi YaksaDiterbitkan 16 Juni 2026, 13:45 WIB
Bahkan kiper berusia 40 tahun yang hanya memperkuat tim kasta kedua Liga Portugal, Chavez ini ditahbiskan sebagai Player of The Match. (Miguel Martinez/Atlanta Journal-Constitution via AP)

Bola.com, Atlanta - Nama Vozinha mendadak menjadi buah bibir. Kiper Timnas Cape Verde itu bermain luar biasa ketika timnya mengimbangi Timnas Spanyol dalam partai pertama Grup H Piala Dunia 2026 di Atlanta Stadium, Atlanta, pada Senin (15/6/2026) malam WIB.

Selaim menjadi pemain terbaik, jumlah pengikut Instagram Vozinha juga melonjak drastis hingga lebih dari 10.300 persen.

Advertisement

Sebelum pertandingan, Vozinha hanyalah kiper veteran berusia 40 tahun yang dikenal di lingkaran sepak bola Cape Verde. Akun Instagram miliknya, @vozinha, tercatat memiliki sekitar 50 ribu pengikut sebelum melawan Spanyol.

Semua berubah hanya dalam waktu 90 menit. Ketangguhannya di bawah mistar membuat Spanyol kesulitan mencetak gol dan mengakhiri pertandingan dengan hasil yang dikenang sebagai satu di antara kejutan terbesar pada periode awal Piala Dunia 2026.

Vozinha menghadapi gempuran tanpa henti dari Spanyol. Sebanyak 27 tembakan dilepaskan Mikel Oyarzabal dkk. dengan tujuh di antaranya mengarah tepat ke gawang dan berhasil dimentahkan oleh kiper asal Chaves di kasta kedua Liga Portugal tersebut.

Nikmati liputan ekslusif Piala Dunia 2026 di Bola.com. Kami menyajikan berbagai liputan menarik, unik, dan analisis yang konferhensif dengan datang langsung ke Amerika Serikat. Klik link ini!

 

Jurnalis KLY Sports, Hery Kurniawan, peliput Piala Dunia 2026. (Multimedia KLY)


Jadi MOTM

Debut bersejarah Tanjung Verde di Piala Dunia 2026 semakin terasa istimewa berkat sosok seorang veteran bernama Vozinha. Di usia yang telah menginjak 40 tahun, penjaga gawang itu tampil luar biasa dan menjadi tembok kokoh yang menggagalkan kemenangan Spanyol pada laga perdana Grup H. (AP Photo/Colin Hubbard)

Penampilan tersebut membuat Vozinha dinobatkan sebagai man of the match. Saat peluit panjang dibunyikan, ia tak kuasa membendung air mata setelah membantu Cape Verde meraih poin pertama dalam sejarah Piala Dunia.

Perhatian publik lalu beralih ke media sosialnya. Berkat dorongan dari penyiar Brasil, CazeTV, jumlah pengikut Vozinha melonjak dari sekitar 50 ribu menjadi 5,3 juta hanya dalam hitungan jam setelah laga usai.

Pelatih Cape Verde, Bubista, menilai tangisan Vozinha mencerminkan perjalanan panjang yang telah ditempuh. Menurutnya, momen tersebut merupakan luapan emosi dari perjuangan yang tidak mudah selama bertahun-tahun.

"Dia sangat diliputi emosi. Dia adalah pemain yang sangat berpengalaman dan telah berjuang sepanjang tahun-tahun ini untuk bisa berada di panggung sebesar ini. Tangisan itu juga merupakan tangisan ketangguhan," ujar Bubista dinukil dari ESPN.


Perjalanan Vozinha

Kiper Cape Verde Vozinha (tengah) tampil luar biasa selama pertandingan Grup H Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Tanjung Verde di Stadion Atlanta, Atlanta, pada 15 Juni 2026. (Roberto SCHMIDT / AFP)

Lahir di Mindelo, Cape Verde, Vozinha awalnya justru diproyeksikan menjadi seorang penyerang. Ayahnya bahkan ingin memberinya nama Valdano, terinspirasi dari legenda Argentina dan Real Madrid, Jorge Valdano.

"Ayah saya ingin menamai saya Valdano, terinspirasi dari striker Argentina Jorge Valdano yang bermain untuk Real Madrid. Namun, pihak berwenang tidak mengizinkannya," ucap Vozinha kepada ESPN Brasil.

Alih-alih menjadi Valdano, ia mendapatkan nama Vozinha yang berarti "Suara Kecil". Dia beralih posisi menjadi penjaga gawang dan baru menjalani debut profesional bersama Batuque pada 2007, tahun yang sama ketika bintang muda Spanyol, Lamine Yamal, lahir.

Karier Vozinha membawanya berkelana ke berbagai negara. Dia pernah bermain di Cape Verde, Portugal, Angola, Moldova, Siprus, hingga Slovakia, sebelum dalam dua musim terakhir memperkuat Chaves.

"Saya akan mengatakan kepada Vozinha yang berusia 18 tahun untuk benar-benar bangga pada dirinya sendiri," imbuh Vozinha.

"Saya telah bekerja sepanjang hidup saya untuk momen ini. Saya berusia 40 tahun. Saya mulai bermain sepak bola secara profesional ketika berusia 25 tahun. Saya sempat berpikir untuk berhenti, tetapi saya terus melangkah karena mimpi ini."

"Ini untuk semua orang. Saya memang dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan, tetapi ini untuk semua rekan setim saya karena tanpa mereka tidak ada yang mungkin terjadi. Saya akan terus bekerja untuk Cape Verde dan untuk rakyat kami," tuturnya.


Tangis Vozinha

Total Vozinha melakukan tujuh save pada laga ini. Dua save yang dilakukan Vozinha bahkan sangat krusial menit ke-39. Bayangkan Timnas Spanyol punya dua kans sekaligus untuk mencetak gol tapi bisa digagalkan Vozinha. (AP Photo/Mike Stewart)

Tangis Vozinha juga dipicu oleh kenangan terhadap orang-orang terdekatnya. Dia mengaku teringat kepada kakek dan neneknya yang telah meninggal dunia, serta ibunya yang gagal hadir di Piala Dunia 2026 karena terkendala proses visa.

"Saya menangis karena saya dibesarkan oleh kakek dan nenek saya, dan sayangnya mereka tidak ada di sini karena telah meninggal beberapa tahun lalu. Mereka adalah segalanya bagi saya, bagi hidup saya," terang Vozinha.

"Saya juga menangis karena ibu saya tidak bisa berada di sini karena masalah visa. Karena biaya yang harus dibayarkan untuk visa, kami tidak bisa menyelesaikannya tepat waktu. Saya ingin beliau ada di sini, tetapi saya juga sangat bahagia," ucapnya.

Sumber: ESPN


Persaingan di Grup H Piala Dunia 2026

Berita Terkait