Bola.com, Jakarta - J.League memproyeksikan pendapatan tertinggi sepanjang sejarah pada musim 2026/2027, yang menjadi musim perdana penerapan kalender kompetisi ala Eropa.
Liga Jepang memperkirakan mampu meraup pendapatan sebesar 35,94 miliar yen (Rp4 triliun) dalam periode yang berakhir pada Juni 2027.
Perubahan jadwal kompetisi dari sistem tahun kalender menjadi format Agustus hingga Mei menjadi bagian dari strategi jangka panjang J.League untuk menyelaraskan diri dengan mayoritas liga top Eropa.
Meski pendapatan diprediksi mencetak rekor, J.League tetap menganggarkan pengeluaran yang lebih besar, yakni 41,23 miliar yen (Rp4,59 triliun). Kenaikan belanja tersebut dipicu oleh peningkatan alokasi dana bagi klub peserta serta besarnya anggaran promosi untuk memperkenalkan format musim baru kepada publik.
Defisit Akibat Investasi
J. League memperkirakan akan mencatat defisit sekitar 5,288 miliar yen (Rp5,8 triliun) pada periode anggaran yang berakhir Juni 2027.
Pihak liga menjelaskan defisit tersebut merupakan konsekuensi dari investasi besar selama masa transisi menuju kalender baru. Dana tersebut digunakan untuk meningkatkan berbagai subsidi operasional bagi klub, menambah alokasi pendanaan selama proses perpindahan musim, hingga melakukan investasi awal pada sektor business-to-consumer (B2C).
Menurut J.League, periode transisi yang berlangsung sekitar 1,5 tahun memang menyebabkan penurunan laba operasional. Namun, liga menilai langkah tersebut menjadi bagian dari strategi membangun fondasi pertumbuhan jangka panjang.
Liga optimistis mulai periode yang berakhir pada Juni 2028, pendapatan dan pengeluaran akan kembali seimbang setelah format kompetisi baru berjalan stabil dan mampu menghasilkan pemasukan yang lebih besar.
Alokasi Dana Bertambah
Seiring meningkatnya pendapatan, J.League juga menaikkan alokasi dana bagi klub peserta. Jika pada tahun fiskal yang berakhir Desember 2025 total pendanaan klub mencapai 12,74 miliar yen, maka untuk periode yang berakhir Juni 2027 angkanya meningkat menjadi 14,51 miliar yen, atau bertambah sekitar 1,7 miliar yen.
Kenaikan tersebut merupakan bagian dari komitmen liga kepada klub, termasuk penambahan bantuan untuk biaya pemusatan latihan (training camp).
J.League juga menyebut peningkatan jumlah penonton dalam beberapa musim terakhir ikut mendongkrak pendapatan liga sehingga alokasi dana yang dibagikan secara merata kepada klub dapat ditingkatkan.
Sumber: Inside Football
Penulis: Fauzi Ananta Dharmawan